Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas global terpantau bergairah sepanjang pekan ini, setelah sempat terjun bebas karena mulai meredanya kekhawatiran pasar terhadap eskalasi perang Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Merujuk Refinitiv, harga emas di perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (29/5/2026), ditutup di posisi US$ 4.535,82 per troy ons. Harganya melonjak 0,98%. Dalam sepekan terakhir, emas menguat 0,6% secara point-to-point.
Emas sempat tertekan, yang menunjukkan bahwa pelaku pasar belum banyak masuk kembali ke emas karena sentimen geopolitik mulai sedikit membaik.
Pembicaraan diplomatik antara AS dan Iran masih berlangsung, meski Teheran sebelumnya menuduh Washington melakukan pelanggaran serius terhadap gencatan senjata. Tuduhan itu muncul setelah pasukan AS melakukan serangan defensif terbaru yang menargetkan situs rudal dan kapal di sekitar Selat Hormuz pada awal pekan ini.
Namun, pejabat Garda Revolusi Iran pada Rabu lalu menyatakan bahwa perang baru dengan AS kecil kemungkinan terjadi. Meski begitu, Iran menegaskan tetap siap merespons jika kembali mendapat serangan.
Pernyataan tersebut ikut meredakan kekhawatiran pasar terhadap eskalasi lanjutan di Timur Tengah. Harapan bahwa AS dan Iran pada akhirnya bisa mencapai kesepakatan juga membuat peluang pembukaan kembali Selat Hormuz tetap hidup.
Di sisi lain, emas masih sulit menguat karena pasar kini melihat risiko inflasi dari harga minyak sebagai ancaman yang lebih besar dalam jangka pendek.
Harga energi yang masih tinggi berpotensi menjaga tekanan inflasi global. Kondisi ini membuat bank sentral utama, termasuk Federal Reserve atau The Fed, diperkirakan perlu mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama.
Bagi emas, ekspektasi suku bunga tinggi menjadi sentimen negatif. Sebab, emas merupakan aset yang tidak memberikan imbal hasil, sehingga cenderung kurang menarik ketika suku bunga dan imbal hasil obligasi berada di level tinggi.
Latar belakang ekonomi AS juga masih menunjukkan pertumbuhan yang cukup kuat, sementara inflasi belum turun secara meyakinkan. Hal ini memperkuat pandangan bahwa The Fed belum akan terburu-buru kembali menurunkan suku bunga.
Bahkan jika kesepakatan damai AS-Iran akhirnya tercapai dan Selat Hormuz kembali dibuka, normalisasi jalur pengiriman minyak diperkirakan tidak langsung terjadi. Proses pemulihan arus pelayaran bisa memakan waktu berbulan-bulan, sehingga harga minyak berpeluang tetap tinggi dan kekhawatiran inflasi masih bertahan.
Dengan pasar yang masih memperhitungkan sikap The Fed yang hawkish, harga emas berpotensi tetap bergerak dengan kecenderungan melemah dalam jangka pendek.
Di sisi lain, data menunjukkan indeks pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) AS naik 3,8% secara tahunan hingga April, sesuai ekspektasi pasar. Secara bulanan, indeks PCE naik 0,4% pada April setelah melonjak 0,7% pada Maret.
Pedagang logam independen Tai Wong mengatakan kombinasi data inflasi AS yang lebih lemah dan kabar pembukaan Selat Hormuz memberi "napas" bagi harga emas.
"Emas tadi (kemarin) pagi sempat terancam turun di bawah rata-rata pergerakan 200 hari, yang dianggap banyak investor sebagai batas penting untuk menjaga tren naik," ujarnya, dikutip dari Refinitiv.
Kepala strategi komoditas global TD Securities, Bart Melek, mengatakan data PCE membuka peluang bagi The Federal Reserve untuk menahan suku bunga dan tidak kembali memperketat kebijakan moneternya.
Sebelumnya, risalah rapat The Fed pada 28-29 April menunjukkan semakin banyak pejabat yang membuka kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan.
Harga emas sendiri tertekan sejak pecahnya konflik AS-Israel dengan Iran pada akhir Februari akibat kekhawatiran inflasi. Meski dikenal sebagai aset safe haven, emas cenderung kurang menarik saat suku bunga naik karena investor beralih ke aset yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi.
Kabar dari China juga ikut menopang emas. Impor bersih emas China melalui Hong Kong melonjak 81,2% pada April dibanding bulan sebelumnya.
CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]
(chd/chd) Add as a preferredsource on Google




