Probolinggo (beritajatim.com) – Kabut tebal menyelimuti Air Terjun Madakaripura, Desa Negororejo, Kecamatan Lumbang, Kabupaten Probolinggo, saat puluhan umat Hindu Tengger datang membawa perlengkapan ritual dan sesaji.
Di tengah gemuruh air yang jatuh dari tebing setinggi puluhan meter itu, ritual sakral Mendak Tirta dimulai — sebuah prosesi pengambilan air suci yang menjadi penanda awal rangkaian besar Yadnya Kasada 2026.
Tradisi ini bukan sekadar seremoni tahunan. Bagi masyarakat Tengger, air suci yang diambil dari titik-titik tertentu dipercaya memiliki nilai spiritual tinggi dan menjadi bagian penting dalam penyucian rangkaian upacara Kasada sebelum dipusatkan di Pura Luhur Poten, lautan pasir Gunung Bromo.
Tahun ini, Desa Ngadas, Kecamatan Sukapura, mendapat giliran menjalankan tugas adat mengambil Tirta di Madakaripura. Tugas tersebut tidak dilakukan sembarangan, melainkan bergilir setiap tahun antar desa di kawasan Tengger sebagai bentuk tanggung jawab spiritual bersama.
Rombongan umat Hindu Tengger berangkat dari Kantor Kecamatan Sukapura dengan berjalan beriringan sambil diiringi gamelan khas Tengger. Prosesi dikawal jajaran Forkopimca Sukapura hingga menuju lokasi pengambilan air suci.
Ketua PHDI Kabupaten Probolinggo, Bambang Suprapto mengungkapkan, ritual Mendak Tirta dilaksanakan serentak oleh umat Hindu Tengger di empat wilayah penyangga Bromo, yakni Kabupaten Probolinggo, Pasuruan, Malang, dan Lumajang.
“Pengambilan air suci Mendak Tirta merupakan rangkaian ritual upacara Yadnya Kasada. Hari ini serentak umat Hindu Tengger di empat kabupaten melaksanakan ritual pengambilan air suci yang nantinya dijadikan satu di Pura Luhur Poten Bromo,” ujarnya.
Air yang diambil pun bukan berasal dari sumber biasa. Ada sejumlah titik yang telah ditetapkan secara adat dan diwariskan turun-temurun, di antaranya Gua Widodaren, Sumber Semanik, Merumoyo, Rondo Kuning, Sumber Pitu, hingga Madakaripura.
Bagi masyarakat Tengger, sumber-sumber tersebut diyakini memiliki keterikatan spiritual dengan sejarah leluhur dan perjalanan sakral masyarakat Bromo sejak ratusan tahun silam.
Di balik prosesi yang berlangsung khidmat, ritual Mendak Tirta juga menjadi simbol kuat bagaimana masyarakat Tengger mempertahankan identitas budaya mereka di tengah arus modernisasi dan meningkatnya pariwisata Bromo.
Mangku Selamet, tokoh adat dari Desa Ngadas, mengatakan amanah mengambil air suci bukan hanya tugas ritual, tetapi juga tanggung jawab moral menjaga warisan leluhur.
“Kami warga Desa Ngadas bersama umat sedharma diberikan kewajiban melaksanakan ritual Mendak Tirta di Madakaripura untuk rangkaian Yadnya Kasada 2026. Harapannya ritual Kasada membawa kemaslahatan dan kesejahteraan, khususnya bagi umat Hindu Tengger dan masyarakat dunia,” katanya.
Yadnya Kasada sendiri merupakan ritual sakral masyarakat Tengger yang dilakukan dengan melarung sesaji hasil bumi hingga ternak ke kawah Gunung Bromo sebagai bentuk rasa syukur dan penghormatan kepada leluhur.
Di tengah dinginnya lereng Bromo, tetesan air suci yang dibawa dari Madakaripura itu bukan hanya simbol ritual keagamaan. Ia menjadi penanda bahwa tradisi tua masyarakat Tengger masih bertahan, dijaga, dan terus diwariskan lintas generasi. [rap/beq]




