Anggota DPR Nilai Sekolah Tak Bisa Dipukul Rata Wajib Ajarkan Bahasa Perancis

kompas.com
2 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Anggota Komisi X DPR Ledia Hanifa mengingatkan bahwa sekolah-sekolah di Indonesia tidak bisa dipukul rata untuk mewajibkan pembelajaran Bahasa Perancis, sebagaimana instruksi Presiden Prabowo Subianto.

Menurut Ledia, kemampuan setiap sekolah dalam menyelenggarakan pembelajaran bahasa asing berbeda-beda, karena bergantung pada ketersediaan sumber daya manusia, terutama guru.

"Jadi, kita tidak bisa memukul rata bahwa semua sekolah harus belajar bahasa tertentu, karena memang SDM-nya terbatas," ujar Ledia, Sabtu (30/5/2026).

Baca juga: Soal Wajib Belajar Bahasa Perancis, Anggota DPR: Gurunya Ada Tidak?

Ledia menjelaskan, selama ini pelajaran bahasa asing masuk dalam kategori muatan lokal, sama seperti bahasa daerah.

Kebijakan tersebut diterapkan karena tidak semua sekolah memiliki tenaga pengajar untuk bahasa asing yang sama.Dia mencontohkan, ada sekolah yang memiliki guru Bahasa Mandarin, Bahasa Jepang, atau Bahasa Korea, tetapi belum tentu memiliki guru Bahasa Perancis.

"Maka, setiap sekolah punya kondisi yang berbeda-beda," kata politikus Partai Keadilan Sejahtera itu.

Baca juga: Wakil Ketua Komisi X: Pelajaran Bahasa Perancis Bisa Diterapkan Secara Bertahap

Oleh karena itu, Ledia menilai pembelajaran Bahasa Perancis dapat diterapkan apabila sekolah memiliki sumber daya yang memadai untuk menyelenggarakannya.

Meski begitu, Ledia menekankan bahwa isu yang lebih mendesak untuk dibahas bukanlah bahasa asing apa yang akan diajarkan, melainkan ketersediaan gurunya.

"Berapa bahasa asing yang bisa diajarkan sebetulnya tergantung dengan SDM-nya. Kita juga memberi kebebasan kepada sekolah dan siswa untuk memilih ingin belajar apa saja," kata dia.

Baca juga: Habis Bahasa Portugis, Kini Bahasa Perancis...

Ledia menambahkan, tantangan tersebut akan semakin terasa di daerah-daerah yang masih kekurangan tenaga pendidik.

"Jadi, memang PR besarnya adalah kita tidak memiliki cukup guru bahasa asing untuk ditempatkan di sekolah-sekolah, apalagi di sekolah-sekolah daerah tertinggal," ujar dia.

Prabowo wajibkan belajar Bahasa Perancis

Diberitakan sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menyatakan telah menginstruksikan agar seluruh tingkatan sekolah di Indonesia mulai mempelajari Bahasa Perancis.

Pernyataan itu disampaikan Prabowo usai bertemu Presiden Emmanuel Macron di Paris, Kamis (28/5/2026).

"Sekarang, saya sudah instruksikan bahwa semua tingkatan sekolah-sekolah Indonesia harus belajar Bahasa Perancis, melihat perkembangan dunia ke depan," ujar Prabowo.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Menurut Prabowo, langkah tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat hubungan Indonesia dan Perancis di masa depan.

Sebelumnya, ia juga pernah mendorong agar Bahasa Portugis menjadi salah satu bahasa prioritas dalam sistem pendidikan Indonesia sebagai bagian dari penguatan hubungan dengan Brasil.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Usai Lempar Jumrah, Jemaah Haji Lakukan Tahallul Gundulkan Kepala
• 13 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Instagram, WhatsApp, Facebook Kini Berbayar, Apa Bedanya dengan yang Gratis?
• 6 jam lalukatadata.co.id
thumb
Calo SPMB Bakal Dijerat Pidana, KPK Keluarkan Surat Edaran Soal Gratifikasi
• 7 jam lalutvonenews.com
thumb
"Ursyalim" diharapkan bisa menunjukkan potret kehidupan di Al Quds
• 12 jam laluantaranews.com
thumb
Perumda Parkir Makassar Siagakan 50 Personel dan Tim TRC Kawal MHM 2026
• 9 jam laluterkini.id
Berhasil disimpan.