Berbagai layanan bagi lansia menjangkau seluruh 22 kabupaten/kota di Nusa Tenggara Timur (NTT) selama rangkaian peringatan Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) 2026. Mulai dari operasi katarak gratis, penyediaan alat bantu aksesibilitas, pemeriksaan kesehatan, hingga pemberdayaan ekonomi diberikan melalui kolaborasi Kementerian Sosial, pemerintah daerah, dan berbagai pihak, sepanjang Mei 2026.
Wakil Gubernur NTT Johni Asadoma mengatakan, puncak peringatan HLUN 2026 menjadi kehormatan karena untuk pertama kalinya NTT dipercaya menjadi tuan rumah.
Selama sebulan penuh, sejak 1 hingga 31 Mei 2026, jajaran Kemensos bersama pemerintah daerah turun langsung ke lapangan untuk memastikan berbagai program dapat dirasakan masyarakat khususnya lansia di seluruh wilayah NTT.
“Kemensos berkolaborasi dengan pemerintah daerah bergerak menyisir 22 kabupaten kota di NTT ini. Mereka turun langsung ke lapangan untuk menyalurkan berbagai program nyata yang berdampak langsung dan dirasakan oleh masyarakat,” kata Johni dalam sambutan jelang pelepasan peserta jalan sehat lansia pada puncak HLUN 2026 di Alun-alun Rumah Dinas Gubernur NTT, Sabtu (30/5/2026).
Layanan yang diberikan mencakup operasi katarak, penyediaan alat bantu dan aksesibilitas, pemberdayaan lansia, pemeriksaan kesehatan fisik dan mental, fisioterapi, pemenuhan hak sipil, layanan home care, donor darah, bantuan kewirausahaan, peningkatan kapasitas lembaga kesejahteraan sosial (LKS) lansia, hingga pembentukan Duta Lansia.
Atas nama Pemerintah Provinsi NTT dan masyarakat setempat, Johni menyampaikan apresiasi kepada Kemensos atas kerja nyata yang telah dilakukan selama pelaksanaan HLUN 2026.
“Oleh karena itu atas nama pemerintah dan seluruh masyarakat NTT, saya bersama Bapak Gubernur menyambut baik. Bangga dan menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya Kepada Kemensos,” kata dia.
Johni menilai peringatan HLUN tahun ini menjadi momentum untuk mengubah cara pandang terhadap lansia. Menurutnya, lansia tidak hanya menjadi penerima bantuan sosial (bansos), tetapi juga memiliki peran penting dalam pembangunan melalui pengalaman dan kearifan yang dimiliki.
“Mari kita pandang orang tua kita bukan sekadar objek bansos yang pasif, bukan sekadar penerima santunan, melainkan sebagai subjek aktif dalam pembangunan. Pengalaman hidup para lansia adalah sumber kearifan, guru terbaik bagi generasi muda dalam menata masa depan,” katanya.
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) melalui sambutan yang dibacakan Direktur Jenderal Rehabilitasi Sosial Kemensos Supomo menegaskan bahwa seluruh rangkaian HLUN 2026 merupakan wujud penghormatan negara kepada para lansia.
Mensos menilai NTT telah menunjukkan bagaimana penghormatan kepada lansia diwujudkan.
“Kupang menjadi saksi bahwa usia lanjut bukanlah akhir pengabdian. Nusa Tenggara Timur memperlihatkan bahwa Opa dan Oma bukan sekadar orang tua, tetapi sumber hikmah yang harus dihormati,” pesan Mensos yang dibacakan Supomo.
Melalui peringatan HLUN 2026, Mensos juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus memperkuat budaya menghormati dan melayani lansia sebagai tanggung jawab bersama, baik keluarga, masyarakat hingga pemerintah.
“Kita semua memastikan tidak ada Opa dan Oma yang merasa sendiri, terlantar, atau dilupakan. Menghormati lansia bukanlah beban. Merawat lansia adalah cara kita menjaga kemanusiaan,” pesannya.





