Washington (ANTARA) - Draf nota kesepahaman antara Washington dan Teheran mencakup ketentuan untuk "dana investasi" pascaperang yang dapat menyalurkan miliaran dolar ke Iran jika kesepakatan akhir tercapai, demikian dilaporkan The New York Times, mengutip sumber-sumber yang terlibat dalam masalah tersebut.
Seorang pejabat Iran, yang menyebutnya sebagai "program rekonstruksi", serta seorang diplomat yang terlibat, memperkirakan nilainya mencapai 300 miliar dolar AS (1 dolar AS = Rp17.789), menurut laporan itu.
Dua diplomat menyebutnya "dana investasi" internasional, yang AS akan membantu memfasilitasinya jika kesepakatan final tercapai. Mereka mengatakan rencana mengenai dana tersebut akan dibahas lebih lanjut selama masa perundingan.
Pada tahap awal pembicaraan, Teheran menuntut ganti rugi atas kerusakan akibat pengeboman, yang menurut perkiraan sejumlah pejabat Iran nilainya mencapai antara 300 miliar hingga 1 triliun dolar AS.
Tim negosiator AS dan Iran telah mencapai kesepakatan mengenai nota kesepahaman untuk memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari serta memulai pembicaraan mengenai program nuklir Iran. Namun, Presiden AS Donald Trump masih belum memberikan persetujuan akhir, menurut sejumlah media AS pada Kamis (28/5), demikian laporan Xinhua.
Seorang pejabat Iran, yang menyebutnya sebagai "program rekonstruksi", serta seorang diplomat yang terlibat, memperkirakan nilainya mencapai 300 miliar dolar AS (1 dolar AS = Rp17.789), menurut laporan itu.
Dua diplomat menyebutnya "dana investasi" internasional, yang AS akan membantu memfasilitasinya jika kesepakatan final tercapai. Mereka mengatakan rencana mengenai dana tersebut akan dibahas lebih lanjut selama masa perundingan.
Pada tahap awal pembicaraan, Teheran menuntut ganti rugi atas kerusakan akibat pengeboman, yang menurut perkiraan sejumlah pejabat Iran nilainya mencapai antara 300 miliar hingga 1 triliun dolar AS.
Tim negosiator AS dan Iran telah mencapai kesepakatan mengenai nota kesepahaman untuk memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari serta memulai pembicaraan mengenai program nuklir Iran. Namun, Presiden AS Donald Trump masih belum memberikan persetujuan akhir, menurut sejumlah media AS pada Kamis (28/5), demikian laporan Xinhua.





