HARIAN.FAJAR.CO.ID, TAKALAR – Pihak pelaksana konstruksi pembangunan Sekolah Rakyat (SR) wilayah 2 Sulawesi Selatan Nindya BPS-KSO, memastikan keluarga kedua korban bocah yang ditemukan meninggal di dalam lokasi konstruksi proyek di Desa Parappunganta, Kecamatan Polongbangkeng Utara, mendapat santunan.
Pengawas proyek pembanguan sekolah rakyat bernama Putu, mengatakan hal itu saat dikonfirmasi, Sabtu, 30 Mei 2026.
“Kami pastikan keluarga korban mendapatkan segala santunan dan itu sudah kami serahkan kepada masing-masing orang tua korban saat itu juga,” ujar pengawas proyek SR Putu.
Putu juga menyampaikan turut belasungkawa dan permohonan maaf atas nama perusahaan kepada kedua keluarga korban karena insiden ini. Ia juga mengaku bahwa kedua orang tua korban bukanlah orang jauh.
“Kami pasti perhatikan karena kedua orang tuanya bekerja di dalam wilayah proyek konstruksi, jadi mereka orang kita,” jelas Putu.
Ia menjelaskan saat ini lokasi kolam bekas galian bak penampungan kamar mandi tempat dimana tewasnya kedua bocah tersebut sedang dipasangi garis polisi oleh pihak Polres Takalar.
“Iya Pak. Saat ini sedang dipasangi garis polisi, kami juga tidak berani melepas itu, kecuali petugas sendiri yang melepas, kemudian pak insiden ini juga tidak menggannggu jalannya pekerjaan yang sementara dikebut hingga akhir bulan Juli sesuai kontrak tahun ini,” tutupnya.
Sebelumnya, tragedi memilukan terjadi di Dusun Bontosunggu, Desa Parappuanta, Kecamatan Polongbangkeng Utara, Kabupaten Takalar. Dua bocah balita ditemukan meninggal dunia di area proyek pembangunan Sekolah Rakyat (SR), Rabu malam, 27 Mei.
Korban diketahui bernama Arzak (4) dan Asril (3), yang merupakan warga sekitar lokasi proyek. Keduanya diduga tenggelam di lubang galian septic tank masjid yang berada dalam kawasan pembangunan Sekolah Rakyat. Galian tersebut diperkirakan memiliki kedalaman sekitar dua meter dan dipenuhi genangan air.
Peristiwa tragis ini memicu reaksi keras dari warga setempat. Mereka menilai pihak kontraktor lalai dalam menerapkan standar keamanan proyek, terutama karena area pembangunan dapat dengan mudah diakses anak-anak.
Daeng Liwang, salah seorang warga Takalar, mendesak Kementerian PUPR agar segera memberikan sanksi tegas kepada perusahaan pelaksana proyek pembangunan Sekolah Rakyat tersebut.
“Ini bentuk kelalaian serius. Harusnya lubang galian itu diamankan, minimal ditutup atau airnya dikeringkan. Tapi faktanya dibiarkan terbuka tanpa pengamanan,” ujar Daeng Liwang.
Ia juga menyoroti lemahnya pengawasan lapangan dari pihak kontraktor maupun pengawas proyek. Menurutnya, tidak adanya tanda peringatan maupun pembatas di sekitar lokasi galian menunjukkan proyek tersebut tidak menerapkan standar keselamatan kerja secara maksimal.
“Kami menduga SOP keselamatan kerja tidak dijalankan dengan baik. Lubang septic tank itu terbuka begitu saja dan sangat berbahaya bagi warga sekitar, apalagi anak-anak,” tambahnya.
Warga berharap insiden ini menjadi perhatian serius pemerintah pusat maupun aparat terkait agar kejadian serupa tidak kembali terulang di proyek-proyek pemerintah lainnya. (mgs)





