Konser F✦FOREVER yang Bikin Milenial ‘Mabuk Kenangan’

republika.co.id
4 jam lalu
Cover Berita

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ada ikatan tak kasat mata yang mempertemukan ribuan pasang mata di Indonesia Arena, Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta pada Jumat (29/5/2026). Malam tadi, venue berganti menjadi ruang nostalgia yang emosional.

Di atas panggung megah berdesain modern, F✦FOREVER bukan sekadar menghibur, melainkan membuka kembali lembaran memoar lama yang telah tersimpan rapi selama lebih dari dua dekade. Grup yang digawangi oleh Jerry Yan, Vanness Wu, Vic Chou, bersama Ashin sukses menggelar konser bertajuk “F✦FOREVER 1st World Tour”.

Selama kurang lebih tiga jam penuh, dimulai sejak riuh lampu padam sekitar pukul 20.00 WIB hingga mendekati pukul 23.00 WIB, ribuan penggemar yang didominasi generasi milenial hingga penonton yang lebih senior, diajak melintasi batas waktu. Mereka kembali ke masa remaja, masa di mana dunia terasa lebih sederhana dan lirik-lirik pop Mandarin mengiringi setiap tumbuh kembang dewasa mereka.

Secara presentasi visual, konser malam itu menjadi karya sinematik dan teatrikal. Penyelenggara tidak sekadar menyajikan panggung musik konvensional, melainkan membangun sebuah narasi cerita yang hidup. Pertunjukan dibuka dengan manipulasi atmosfer yang dramatis, gemuruh suara petir hingga visualisasi kaca pecah di layar raksasa.

.rec-desc {padding: 7px !important;}

Semua kemegahan itu dibungkus sempurna oleh konsep tata panggung 360 derajat. Format ini meruntuhkan batasan jarak antara idola dan penggemar. Penonton bisa melihat aksi panggung personel, begitu pula sebaliknya, dengan cara bergantian.

Atmosfer di dalam arena terasa kian magis berkat penataan lampu (lighting) yang patut diacungi jempol. Permainan laser yang presisi dan teknik pencahayaan canggih yang mumpuni benar-benar memanjakan mata, mengubah ruangan besar tersebut menjadi kanvas cahaya yang dinamis.

Pengalaman visual ini kian interaktif berkat lightstick di tangan penonton yang terintegrasi secara otomatis. Warnanya berubah serempak mengikuti vibes lagu, mulai dari merah muda yang manis, biru syahdu, kuning cerah, putih bersih, emas yang elegan dan hangat, hingga merah membara.

Keberadaan panggung utama yang dapat berputar memberikan kesan modern yang megah. Ditambah lagi dengan jalur panggung melingkar (catwalk) yang memutari area penonton.

Di sinilah momen-momen intim tercipta. Jerry Yan Cs bergantian berjalan mengitari arena untuk berada lebih dekat dengan penggemar. Mereka tidak ragu untuk menurunkan tempo, menyapa langsung, berswafoto dengan ponsel penggemar, hingga menjulurkan tangan untuk bersalaman langsung dengan penonton yang histeris di tepi pagar pembatas.

Karisma menolak tua

Meski usia para personel mendekati kepala lima penampilan fisik dan stamina mereka tetap prima. Mereka tampil segar, energik, dan mampu menjaga intensitas interaksi yang hangat sepanjang malam untuk menuntaskan daftar panjang sekitar 40 lagu, baik dalam format kuartet maupun solo.

Komunikasi terjalin sangat intim dan tanpa sekat. Dengan ramah, mereka menyapa penonton menggunakan kombinasi bahasa Inggris, bahasa Taiwan yang dibantu oleh penerjemah, serta sesekali menyelipkan frasa bahasa Indonesia yang fasih.

“Seru nggak? Terima kasih sudah datang,” kata mereka bergantian dari atas panggung Indonesia Arena, menyapa penonton dengan binar ketulusan yang sama seperti puluhan tahun lalu.

Konser dimulai dengan gebrakan penuh energi saat keempatnya muncul bersama membawakan lagu “Always Be My Bro”. Pekikan histeris penonton langsung membumbung tinggi, meruntuhkan rasa ragu yang mungkin sempat ada setelah penantian yang begitu panjang.

Pertunjukan kemudian mengalir ke segmen solo yang memperlihatkan dualitas karakter masing-masing personel. Vanness Wu menjadi magnet yang membakar energi arena lewat penampilannya yang sangat energik dan penuh koreografi bertenaga. Ia membawakan rentetan lagu bernuansa urban modern seperti “Dance Until We Die”, “Falling Falling”, “Ur The Reason”, “Piece by Piece”, hingga “Everywhere Pray”.

Kontras dengan Vanness, Vic Chou membawa penonton masuk ke dalam suasana yang jauh lebih tenang dan emosional. Vibes yang ditampilkannya tampak lebih "kalem" dan syahdu. Saat ia membawakan lagu balada legendaris seperti “Zui Te Bie De Cun Zai”, “Tell Me Why”, dan “Ai Zai Ai Ni”, arena seolah menahan napas, terbuai oleh karakter vokalnya yang lembut.

Kejutan manis terjadi saat Vic membawakan lagu “Make a Wish”. Visual panggung mendadak berubah menjadi sangat menggemaskan dengan kemunculan ilustrasi "boneka" aneka rupa. Di akhir lagu, ketiga rekannya kembali naik ke atas panggung secara mengejutkan, memberikan dukungan emosional yang hangat bagi Vic.

“Apa kabar Jakarta? Senang bisa ke sini. Apa kalian merindukanku?” kata Vic yang langsung dijawab oleh gemuruh paduan suara penonton yang mengiyakan.

Saat keempat personel kembali berkumpul di tengah panggung 360 derajat, mereka membawakan lagu “Jue Bu Neng Shi Qu Ni” yang merupakan lagu tema utama dari serial “Meteor Garden 2”. Sembari bernyanyi, mereka terus berjalan memutari venue, melambaikan tangan, dan membagikan senyuman.

“Kalian tau seberapa cantik kalian? Terima kasih, kami mencintai kalian,” kata Vanness Wu dari atas panggung, yang disambut sorak-sorai riuh.

“Apa kalian bersemangat? Kalian mau dengar lagu apa?” sambung Jerry Yan, menggoda penonton sebelum intro lagu legendaris “Can’t Help Falling in Love” berkumandang, memicu sesi bernyanyi bersama yang membahana di seluruh sudut stadion.

F✦FOREVER mendapatkan limpahan cinta luar biasa dari penggemar di Jakarta. Saking besarnya energi positif di dalam ruangan, keterbatasan teknis seperti kualitas vokal yang sesekali tidak stabil sama sekali tidak menjadi persoalan. Riuh suara penonton yang ikut bernyanyi justru melapis dan melengkapi penampilan mereka di atas panggung menjadi sebuah harmoni yang utuh.

Tembang-tembang klasik seperti “Ask For More”dan “Di Yi Shi Jian” dibawakan dengan apik, disusul oleh keindahan melodi “Yan Huo De Ji Jie” (Season of Fireworks)”. Momen emosional menebal saat lagu “Ni Yao De Ai” dilantunkan. Lagu yang begitu melekat di sanubari generasi 2000-an itu memicu nyanyian massal yang mengharu biru.

Di sela pertunjukan, Ashin  mengambil momen untuk berbicara jujur mengenai di balik layar penayangan tur ini. “Mengumpulkan mereka bertiga sulit. Selama dalam hati kalian masih ada kenangan, semoga saya punya kesempatan lagi untuk bawa mereka lagi ke sini. Bukankah kalian sudah menunggu lebih dari 20 tahun? Kalian jangan sampai menunggu 20 tahun lagi,” ujar Ashin.

Ashin juga membagikan cerita personal yang menyentuh hati mengenai antusiasme luar biasa dari para penggemar di Indonesia sejak konser ini pertama kali diumumkan. “Saya terharu, saya balas satu-satu (pesan di kotak masuk Instagram-Redaksi) sampai ketiduran. Malam ini juga akan saya balas DM kalian sampai ketiduran,” kata dia disambut tawa dan tepuk tangan apresiasi dari seluruh penjuru arena.

Konser ini mencapai klimaks nostalgia yang lewat lagu legendaris “Liu Xing Yu” (Meteor Rain). Sebagai lagu yang menjadi tonggak sejarah awal mula terkenalnya mereka di Indonesia, lagu ini dibawakan dengan penuh penghayatan. Melodi lagu ini menutup hari kedua konser “F✦FOREVER 1st World Tour” di Jakarta dengan anggun.

.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;} @font-face { font-family: "LPMQ"; src: url("https://static.republika.co.id/files/alquran/LPMQ-IsepMisbah.ttf") format("truetype"); font-weight: normal; font-style: normal } .arabic-text { font-family: "LPMQ"; font-weight: normal !important; direction: rtl; text-align: right; font-size: 2.5em !important; line-height: 49px !important; }
Advertisement

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Jejak Air Suci dari Madakaripura, Ritual Sakral Tengger Penanda Dimulainya Yadnya Kasada 2026
• 6 jam laluberitajatim.com
thumb
Media Vietnam Mulai Ketar-ketir Lihat Skuad Timnas Indonesia U19 Asuhan Nova Arianto Jelang AFF U19 2026
• 23 jam lalutvonenews.com
thumb
PBB: Serangan Israel di Lebanon hambat penyaluran bantuan
• 1 jam laluantaranews.com
thumb
Hasil Medical Check-Up Trump Dirilis, Berat Badan 108 Kilogran
• 3 jam lalukatadata.co.id
thumb
Wali Kota Makassar Lepas Ribuan Pelari Makassar Half Marathon 2026
• 11 jam laluterkini.id
Berhasil disimpan.