Kurir pria maupun wanita menghadapi minimnya fasilitas penitipan anak atau tidak mampu membayar biaya taman kanak-kanak, menurut warga dan para pekerja.
EtIndonesia.com. Semakin banyak kurir pengantar makanan di Tiongkok yang membawa anak-anak mereka saat mengantar pesanan, seiring kondisi ekonomi negara itu yang terus memburuk. Hal ini terlihat dari berbagai unggahan di media sosial serta kesaksian para kurir yang berbicara kepada The Epoch Times mengenai kesulitan yang mereka hadapi.
Di tengah berlanjutnya perlambatan ekonomi Tiongkok dan tingginya tingkat pengangguran, semakin banyak warga kelas menengah yang kehilangan pekerjaan dan beralih menjadi kurir pengantar makanan demi mencari nafkah.
Menurut data resmi terbaru yang dirilis rezim komunis Tiongkok pada 2023, terdapat sekitar 12 juta kurir yang terdaftar pada platform layanan pengantaran makanan di seluruh negeri. Dalam dokumenter “Laporan Kelangsungan Hidup Pekerja Pengantar Makanan Tiongkok 2026”, yang dirilis pada April oleh Sanlian Life Lab, salah satu penerbit besar di Tiongkok, jumlah kurir disebut telah melampaui 13 juta orang.
Banyak dari para kurir tersebut bekerja sebagai pekerja lepas dan hanya menerima sedikit tunjangan maupun perlindungan kesejahteraan dari platform pengantaran ataupun negara. Dalam beberapa tahun terakhir, sebagian kurir bahkan menggelar aksi protes untuk menuntut hak-hak dasar mereka.
Tian Jing, seorang kurir di Guangzhou, Provinsi Guangdong, yang menggunakan nama samaran karena khawatir akan pembalasan, mengatakan kepada The Epoch Times bahwa ia mulai bekerja sebagai kurir tahun lalu. Karena tidak ada yang bisa menjaga anaknya yang berusia dua tahun, ia terpaksa membawa anak tersebut saat bekerja.
“Anak saya kadang rewel, tetapi saya tidak punya pilihan lain,” katanya.
“Saya mengantar makanan hanya untuk mendapatkan cukup uang membeli bahan makanan. Tentu saja anak saya ikut menderita karena harus ikut berkeliling bersama saya,” ujarnya. “Sekarang persaingan di setiap sektor sangat ketat. Mustahil menemukan pekerjaan dengan jam kerja kantor yang normal.”
Xiaofang, seorang kurir di Kota Jiangmen, Provinsi Guangdong, yang juga menggunakan nama samaran, mengatakan kepada The Epoch Times bahwa mengantar makanan sambil membawa anak sangat melelahkan. Ia menambahkan bahwa dirinya membesarkan anak seorang diri dan keluarganya sama sekali tidak dapat membantu.
Ia mengatakan pesanan kini sangat sedikit dan tarifnya rendah. Kadang-kadang ia tidak mendapatkan satu pesanan pun selama satu jam penuh.
“Saya punya anak yang harus saya nafkahi dan saya tidak punya uang. Karena itu saya tetap keluar bekerja, karena berapa pun yang bisa saya hasilkan akan sangat membantu.”
Xiaofang mengatakan ia hanya mampu memperoleh sekitar 30 hingga 40 yuan (sekitar Rp68.000 hingga Rp91.000) per hari.
“Ekonomi sudah buruk selama beberapa tahun terakhir. Setiap tahun lebih buruk daripada sebelumnya, dan tidak ada pekerjaan yang memberikan penghasilan yang baik lagi.”
Di tengah ekonomi yang terus lesu, rezim Tiongkok pada 2026 menetapkan target pertumbuhan ekonomi hanya sebesar 4,5 hingga 5 persen, yang merupakan tingkat terendah sejak 1991.
Yang Hua, seorang ibu tunggal di Kota Langfang, Provinsi Hebei, yang juga menggunakan nama samaran, mengatakan kepada The Epoch Times bahwa ia bercerai pada 2023 ketika anaknya baru berusia satu tahun. Setelah kehilangan pekerjaan pada 2024, ia mulai bekerja sebagai kurir pengantar makanan.
Ia menuturkan bahwa bisnis pengantaran makanan saat ini sangat sulit. Tahun lalu pesanan sangat banyak dan ia langsung menerima permintaan begitu keluar rumah. Namun tahun ini jumlah pesanan menurun drastis.
“Mungkin sekarang semakin banyak orang yang menjadi kurir, sementara semakin sedikit orang yang memesan makanan,” katanya.
Yang mengatakan bahwa mengantar makanan sambil menggendong anak membuatnya takut mengendarai sepeda motor terlalu cepat. Akibatnya, pesanan sering terlambat dan penghasilannya dipotong.
Belum lama ini, seorang rekan kerja pria yang juga membawa anak saat bekerja dikenai potongan upah sebesar 50 yuan (sekitar Rp114.000) karena terlambat mengantar pesanan.
“Waktu itu salju turun tipis dan jalanan licin karena es. Dia tidak berani berkendara terlalu cepat karena membawa anaknya.”
Para Ayah Juga Mengantar Makanan Sambil Membawa AnakBerbagai video yang menunjukkan kurir pria membawa anak saat bekerja telah menarik perhatian publik dan memicu perdebatan hangat mengenai kerasnya kehidupan para kurir tersebut.
Salah satu video yang diunggah pada 3 April memperlihatkan seorang kurir di Provinsi Guangxi membawa dua anak sekaligus saat mengantar makanan—satu duduk di depan sepeda motornya dan satu lagi digendong di punggung.
Video lainnya menunjukkan seorang kurir di Guangxi tetap mengantar pesanan pada 17 Januari di tengah cuaca musim dingin yang sangat dingin sambil membawa anaknya.
Video lain yang menjadi viral memperlihatkan seorang kurir pria di Kota Kunming, Provinsi Yunnan, sedang makan di sebuah restoran saat jeda kerja pada 30 November 2025, sambil menggendong anak di punggungnya.
Su He, seorang kurir di Guangzhou yang menggunakan nama samaran, mengatakan kepada The Epoch Times bahwa ia berasal dari Zhaoqing, Guangdong. Ibu dari anaknya telah meninggalkan mereka sehingga ia harus mengurus anaknya sambil bekerja mengantar makanan.
Menurut Su, mencari uang kini semakin sulit. Kadang-kadang ia harus mengantar makanan hingga larut malam sambil membawa anaknya yang tertidur.
Ia mengatakan selalu berusaha menjaga anaknya tetap dalam pengawasan. Ketika masuk ke toko untuk mengambil pesanan, biasanya ia meminta seseorang di toko tersebut untuk mengawasi anaknya sebentar.
Ia juga belum menyekolahkan anaknya ke taman kanak-kanak karena biayanya terlalu mahal.
“Saat ini pekerjaan mengantar makanan hanya menghasilkan sekitar tiga hingga empat ribu yuan per bulan (sekitar Rp6,8 juta hingga Rp9,1 juta),” kata Su.
Menurutnya, seiring ekonomi Tiongkok yang terus memburuk, bahkan mahasiswa—yang sebelumnya merupakan salah satu kelompok pelanggan utama layanan pengantaran makanan—kini sudah jarang memesan makanan secara daring.
“Sekarang pesanan sangat sedikit dan persaingannya sangat ketat. Dulu saya bisa bekerja lebih dari sepuluh jam sehari sambil menggendong anak, tetapi sekarang saya beruntung jika bisa mendapatkan beberapa jam kerja saja dalam sehari.”
Dokumenter “Laporan Kelangsungan Hidup Pekerja Pengantar Makanan Tiongkok 2026” yang diterbitkan Sanlian Life Lab menggambarkan penderitaan dan perjuangan para kurir pengantar makanan di Tiongkok. Dokumenter tersebut sempat menarik perhatian luas masyarakat, namun kemudian dilarang oleh rezim Tiongkok. Meski demikian, dokumenter itu masih dapat ditemukan di berbagai platform luar negeri seperti X dan China Digital Times.
Tang Bing dan Guo Xiaohua berkontribusi dalam laporan ini.
Sumber : Theepochtimes.com





