REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Buya Anwar Abbas mengusulkan agar Pemerintah Arab Saudi membuat aturan yang lebih tertib terkait pelaksanaan mencium Hajar Aswad di Masjidil Haram, Makkah al-Mukarramah.
Menurutnya, pengaturan tersebut penting untuk menjaga keselamatan, kenyamanan, serta kekhusyukan jamaah haji dan umrah.
- Tips Sukses Kerja Sambil Kuliah Agar Tetap Produktif
- Made in China: Antara Kekaguman dan Nyinyiran
- Haji Wada dan Wafatnya Rasulullah SAW
Buya Anwar menjelaskan, mencium Hajar Aswad yang melekat pada dinding Ka'bah di Baitullah memang merupakan amalan yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Namun, tidak ada yang istimewa pada batu hitam itu sendiri.
Ia mengingatkan kembali kisah seorang sahabat Nabi, Umar bin Khattab, yang mencium batu tersebut semata-mata karena mengikuti teladan Rasulullah SAW, bukan lantaran Hajar Aswad.
.rec-desc {padding: 7px !important;}Saat mencium Hajar Aswad, sahabat berjulukan al-Faruq itu kerap berkata lantang sehingga didengar banyak orang di Masjidil Haram: "Jikalau Nabi tidak menciummu (Hajar Aswad), maka aku juga tidak akan menciummu. Namun, karena Nabi menciummu, maka aku pun melakukannya!"
Bagaimanapun, lanjut Buya Anwar, kondisi saat ini sangat berbeda dibandingkan masa-masa Rasulullah SAW maupun era Sahabat. Kala itu, jumlah jamaah umrah maupun haji masih relatif sedikit.
Adapun saat ini, jutaan umat Islam datang dari berbagai penjuru bumi ke Tanah Suci setiap tahun. Tiap jamaah berkeinginan untuk dapat menyentuh atau mencium Hajar Aswad.
Hal ini sering kali memicu antrean panjang dan bahkan desak-desakan di sekitar Ka'bah. Situasi itu, menurut Buya Anwar, tidak jarang menimbulkan perilaku yang seharusnya dihindari dalam pelaksanaan ibadah.
"Umumnya, jamaah menginginkan dapat mencium Hajar Aswad. Akibatnya, kita saksikan jamaah, baik yang laki-laki maupun perempuan, tidak hanya berebut. Mereka pun berdesak-desakan. Tidak jarang pula terjadi sikut-sikutan dan dorong-dorongan," ujar Buya Anwar kepada Republika pada Sabtu (30/5/2026).
Ia juga menyoroti kondisi jamaah perempuan yang terkadang terjebak di tengah kerumunan jamaah laki-laki saat berupaya mendekati Hajar Aswad. Menurutnya, keadaan tersebut dapat mengurangi kenyamanan bahkan berpotensi menimbulkan situasi yang tidak sesuai dengan adab. Lebih-lebih, ini terjadi di area sekitar Ka'bah yang merupakan tempat suci umat Islam.
Karena itu, Buya Anwar meminta Pemerintah Arab Saudi untuk mempertimbangkan kebijakan khusus demi mengatur akses jamaah yang ingin mencium Hajar Aswad.
Waketum MUI itu mengusulkan, adanya penyediaan slot waktu atau jam tertentu yang dikhususkan bagi jamaah perempuan yang ingin mencium Hajar Aswad. Itu pun dengan sistem pendaftaran terlebih dahulu.
"Untuk itu, kita mengimbau Pemerintah Arab Saudi agar mengatur dan menertibkan tata cara mencium Hajar Aswad dengan baik. Hal ini penting, khususnya bagi jamaah perempuan," katanya.




