Merawat Keheningan Menjelang Waisak

kompas.id
1 jam lalu
Cover Berita

Di ruang utama Vihara Avalokitesvara, Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Banten, Sabtu (30/5/2026), sejumlah umat tampak sibuk mempersiapkan segala sesuatu yang akan digunakan untuk upacara. Kesibukan itu berlangsung sehari menjelang Hari Raya Tri Suci Waisak 2570 Buddhis Era. Tidak ada hiruk-pikuk yang berlebihan. Persiapan dilakukan dalam suasana tenang, seolah seluruh aktivitas yang berlangsung merupakan bagian dari laku spiritual itu sendiri.

Di tempat yang esok akan dipenuhi umat untuk beribadah, keheningan justru mulai dirawat sejak jauh hari. Panitia Waisak di Vihara Avalokitesvara menggelar gladi bersih untuk memastikan seluruh rangkaian acara berjalan lancar. Para petugas yang akan mengatur jalannya ibadah menjalankan peran masing-masing dalam simulasi yang berlangsung sederhana namun penuh perhatian.

Bagi mereka, keberhasilan sebuah perayaan keagamaan bukan hanya diukur dari ramainya peserta yang hadir, melainkan juga dari kemampuan menghadirkan suasana yang khidmat. Karena itu, persiapan teknis menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari upaya menjaga kekhusyukan ibadah.

Waisak sendiri merupakan hari suci yang memperingati tiga peristiwa agung dalam kehidupan Siddharta Gautama, yakni kelahiran, pencapaian penerangan sempurna, dan parinibbana atau wafatnya Sang Buddha. Tahun ini, detik-detik Waisak akan berlangsung pada Minggu (31/5/2026) pukul 15.00 WIB.

Namun, bagi umat Buddha, makna Waisak sesungguhnya tidak hanya hadir pada satu momentum tertentu. Nilai-nilai yang diajarkan Sang Buddha justru tercermin dalam keseharian, termasuk dalam semangat melayani dan bekerja bersama yang terlihat menjelang perayaan.

Di balik hiruk pikuk persiapan menjelang waisak, terdapat ikhtiar kolektif untuk menjaga makna sebuah perayaan suci. Suasana teduh yang terasa di lingkungan vihara seolah menjadi pertanda bahwa yang sedang dipersiapkan bukan hanya sebuah acara keagamaan.

Yang dirawat sesungguhnya adalah keheningan yang kelak akan menjadi ruang bagi doa, perenungan, dan harapan ketika umat Buddha menyambut Hari Raya Waisak. Sebab sebelum detik-detik suci itu tiba, keheningan terlebih dahulu dibangun melalui kerja bersama, ketulusan, dan semangat melayani yang hidup di antara sesama umat.

Patung Buddha

Baca JugaCahaya Spiritual Hangatkan Jakarta
Baca JugaPindapata dan Semangat Perdamaian yang Disebarkan


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
PBNU Salurkan Kurban ke Daerah 3T hingga Korban Genosida Israel di Palestina
• 8 jam lalurctiplus.com
thumb
Prosesi Lontar Jumrah Masih Berlangsung, Komunikasi Antarjamaah Jadi Kunci
• 21 jam lalurepublika.co.id
thumb
Gedung Putih: Trump Hanya Terima Kesepakatan yang Menguntungkan AS
• 3 jam laluviva.co.id
thumb
Menggapai Sehat Jiwa Raga di Ruang Pameran
• 5 jam lalukompas.id
thumb
Geram Usai Namanya Dipakai untuk Penipuan, Lesti Kejora Minta Pelaku Berhenti Rugikan Masyarakat
• 2 jam lalugrid.id
Berhasil disimpan.