APBN Saja Tak Akan Cukup Topang Ekonomi, DPR Ingatkan Jangan Hambat Swasta dengan Regulasi: Ini Mesin Pertumbuhan

tvonenews.com
15 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, tvOnenews.com - Anggota DPR RI, Firman Soebagyo, menilai sejumlah kebijakan pemerintah belakangan ini berisiko mempersempit ruang gerak sektor swasta yang selama ini menjadi salah satu penopang utama perekonomian nasional.

Ia menegaskan pembangunan dan pencapaian target pertumbuhan ekonomi tidak dapat hanya mengandalkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Menurutnya, keterlibatan sektor swasta menjadi faktor penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

“Sektor swasta adalah mesin pertumbuhan yang sesungguhnya. Mereka menciptakan lapangan kerja, mendorong inovasi, dan menyumbang penerimaan negara melalui pajak," ujar Firman dikutip dari Parlementaria, Sabtu (30/5/2026).

"Kalau regulasi justru mematikan usaha yang sudah berjalan, maka cita-cita pembangunan hanya akan jadi wacana,” jelasnya.

Firman menjelaskan kapasitas fiskal pemerintah memiliki keterbatasan sehingga APBN tidak mungkin membiayai seluruh kebutuhan pembangunan nasional.

Selain itu, sebagian besar anggaran negara telah dialokasikan untuk pendidikan, subsidi energi, belanja aparatur sipil negara, serta pembangunan infrastruktur.

“Dengan alokasi 20 persen untuk pendidikan, subsidi energi, gaji ASN, dan infrastruktur, ruang gerak APBN sangat terbatas. Karena itu, pemerintah harus memberi ruang lebih luas bagi sektor swasta untuk tumbuh,” kata politikus Fraksi Partai Golkar tersebut.

Ia menilai keberhasilan negara-negara maju tidak hanya ditopang oleh kekuatan anggaran negara, tetapi juga oleh terciptanya iklim usaha yang sehat dan mendukung pertumbuhan sektor swasta.

“Negara maju tidak dibangun dengan mengandalkan APBN semata, tapi dengan ekosistem swasta yang sehat. Pemerintah harus memposisikan diri sebagai fasilitator, bukan pesaing,” tegas Wakil Ketua Umum KADIN itu.

Lebih lanjut, Politisi Golkar ini mengatakan kalangan usaha saat ini membutuhkan kepastian hukum, regulasi yang lebih sederhana, serta insentif yang jelas agar dapat berkembang secara optimal. Menurutnya, kebijakan yang memunculkan ketidakpastian justru berpotensi menghambat investasi.

Karena itu, ia meminta pemerintah segera meninjau kembali berbagai kebijakan yang dinilai kurang mendukung iklim usaha dan investasi di dalam negeri.

“Kalau swasta tumbuh, pajak naik, lapangan kerja terbuka, daya beli masyarakat meningkat, dan APBN pun ikut sehat. Inilah sinergi yang harus dibangun,” ujar Anggota Badan Legislasi DPR RI tersebut.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Buah segar vs Buah Kering, Mana yang Lebih Baik untuk Kesehatan?
• 2 jam lalubeautynesia.id
thumb
Jay Idzes Absen karena Cedera, Siapa Kapten Timnas Indonesia di FIFA Matchday Juni 2026?
• 15 jam lalubola.com
thumb
Profil Boiyen, Kini Singgung Soal Makna Kebahagiaan Usai Cerai dari Rully Anggi Akbar
• 15 jam lalugrid.id
thumb
Harga Emas Dunia Menguat Usai AS-Iran Sepakat Perpanjang Gencatan Senjata
• 3 jam lalukumparan.com
thumb
Ramai di X Trump Siap Beri $350 Miliar kepada Iran, Benarkah?
• 11 jam laluwartaekonomi.co.id
Berhasil disimpan.