JAKARTA, KOMPAS.com - Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) disebut disebabkan oleh faktor eksternal dan internal.
Dari luar, ada dinamika geopolitik seperti perang Iran vs AS hingga melonjaknya harga minyak dunia.
Namun dari dalam negeri, terdapat berbagai persoalan politik hingga sosial yang menyebabkan tergerusnya kepercayaan pasar.
“Kita membuat pasar tidak percaya kepada kita, kita membuat orang menarik duitnya keluar dari negara kita sendiri,” kata pengamat kebijakan publik, Yanuar Nugroho dalam podcast Gaspol! yang tayang di YouTube Kompas.com, Sabtu (30/5/2026).
Baca juga: Pemerintah Diminta Jaga Pertumbuhan Ekonomi di Tengah Tantangan Geopolitik
“Apa yang paling ditakuti pengusaha? Ketidakpastian. Ketika ketidakpastian itu makin gede, orang makin ngeri,” tuturnya.
Dalam kondisi demikian, kata Yanuar, pemerintah bukan hanya harus putar otak untuk melakuan intervensi demi memperkuat nilai rupiah.
Namun tak kalah penting, komunikasi publik yang baik dan terukur.
Yanuar menyoroti pernyataan Presiden Prabowo Subianto soal “orang desa tidak pakai dolar” hingga “rakyat Indonesia tak bermimpi kaya raya”.
Baca juga: Saat Prabowo Belajar dari Krisis Ekonomi Era SBY
Menurut dia, pernyataan tersebut terkesan tidak terukur dan tak diperhitungkan dampaknya lantaran berujung banjir kritik.
“Enggak bisa asal. Apalagi kalau ini punya implikasi teknokratik, implikasi pembangunan,” tutur Yanuar.
Yanuar menambahkan, dalam kondisi ekonomi seperti sekarang, kelas menengah menjadi kelompok masyarakat yang paling rentan.
Baca juga: Prabowo Panggil Pejabat di Era SBY, Tampung Pengalaman soal Penanganan Krisis Ekonomi
Menurutnya, masyarakat kelas menengah Indonesia terlalu kaya untuk mendapat bantuan sosial (bansos) dari pemerintah. Namun, terlalu miskin untuk punya kualitas hidup yang memadai.
“Kalau ada satu kelas dalam masyarakat yang saat ini merasa ditinggal, dibiarkan, udahlah hidup terserah, kagak terserah, itu kelas menengah,” kata Yanuar.
Simak obrolan selengkapnya dalam podcast Gaspol! yang tayang perdana hari ini pukul 20.00 WIB.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang