Kanker kolorektal masih menjadi salah satu penyakit yang dapat dicegah jika masyarakat menerapkan pola hidup sehat secara konsisten.
Perubahan gaya hidup, mulai dari pola makan hingga kebiasaan sehari-hari, dinilai menjadi kunci utama menekan risiko penyakit yang menyerang usus besar dan rektum tersebut.
Prof. Ari Fahrial Syam Ketua Pengurus Besar Perkumpulan Gastroenterologi Indonesia (PB PGI) mengatakan, konsumsi makanan sehat dan aktif bergerak menjadi langkah paling dasar untuk mencegah kanker kolorektal.
“Jadi ini penyakit yang bisa dicegah. Caranya gaya hidup yang sehat, kurangi makan daging-daging, banyak makan sayur, banyak minum, bergerak,” kata Prof. Ari dalam konferensi pers di Jakarta, Sabtu (30/5/2026).
Ia menambahkan, masyarakat juga perlu menghindari faktor risiko lain seperti obesitas, stres berlebihan, kebiasaan merokok, serta konsumsi alkohol yang dapat meningkatkan potensi terjadinya kanker.
Selain pola hidup sehat, Ari bahwa menekankan pentingnya skrining atau pemeriksaan dini kanker kolorektal. Menurutnya, deteksi awal sangat berpengaruh terhadap keberhasilan pengobatan dan peluang kesembuhan pasien.
Ia mencontohkan, keberhasilan Taiwan dalam menurunkan angka kematian akibat kanker hingga sekitar 30 persen melalui program skrining yang masif, sekaligus meningkatkan deteksi kasus pada stadium lebih awal.
“Jadi artinya kualitas hidup masyarakat Taiwan meningkat dengan jumlah kasus stadium lanjut yang ditemukan lebih cepat,” ujarnya dilansir dari Antara.
Gejala kanker kolorektal stadium lanjut umumnya ditandai dengan buang air besar berdarah, penurunan berat badan tanpa sebab jelas, serta diare kronik yang berlangsung lama.
Sementara itu, Prof. Murdani Abdullah Kepala Human Cancer Research Centre (HCRC) Indonesian Medical Education and Research Institute (IMERI) menegaskan, skrining kanker kolorektal jauh lebih menguntungkan dibandingkan tidak melakukan pemeriksaan sama sekali.
Menurutnya, skrining tidak hanya menekan biaya pengobatan jangka panjang, tetapi juga menjaga produktivitas pasien serta menurunkan angka kematian akibat penyakit tersebut.
Dari sisi kebijakan kesehatan, Siti Nadia Tarmizi Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan mengatakan, skrining dini juga memberikan keuntungan besar dalam proses pengobatan.
Jika kanker terdeteksi pada tahap awal, pasien berpotensi hanya memerlukan tindakan operasi tanpa harus menjalani kemoterapi atau radioterapi.
“Kalau sedini mungkin kita tahu pengobatannya tidak berat. Dia cuma mungkin perlu operasi saja. Nggak perlu kemo, tidak perlu radiasi,” kata Nadia.
Ia menambahkan, masyarakat dapat memanfaatkan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang disediakan pemerintah untuk melakukan skrining awal, termasuk deteksi kanker kolorektal.
Nadia juga mengimbau masyarakat untuk meningkatkan konsumsi sayur dan buah lokal guna mencukupi kebutuhan serat harian, yang berperan penting dalam menjaga kesehatan pencernaan dan mencegah kanker. (ant/saf/faz)




