Industri Manufaktur Makin Tertekan Efek Pelemahan Rupiah dan Konflik Geopolitik

bisnis.com
5 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Pelemahan nilai tukar rupiah dan memanasnya konflik di Timur Tengah dinilai meningkatkan tekanan terhadap industri manufaktur nasional, terutama sektor yang masih bergantung pada bahan baku impor.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M Rizal Taufikurahman mengatakan risiko terhadap industri manufaktur saat ini cukup besar karena tekanan yang muncul bersifat ganda. Pelemahan rupiah meningkatkan biaya impor, sementara ketegangan geopolitik mendorong kenaikan harga energi, biaya logistik, dan premi risiko.

Menurut dia, dampak jangka pendek mulai terlihat melalui kenaikan biaya produksi dan penundaan pembelian bahan baku oleh pelaku industri.

“Dalam jangka menengah, risikonya lebih serius karena PMI manufaktur Indonesia sudah masuk zona kontraksi,” ujar Rizal kepada Bisnis, Jumat (29/5/2026).

Rizal menjelaskan Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia turun ke level 49,1 pada April 2026, yang menjadi posisi terendah sejak Juni 2025. Angka tersebut menunjukkan aktivitas manufaktur mulai tertekan di tengah melemahnya permintaan dan tingginya biaya produksi.

Menurut dia, sektor yang paling rentan menghadapi tekanan adalah industri dengan kandungan impor tinggi dan margin usaha yang relatif tipis, seperti tekstil dan produk tekstil (TPT), alas kaki, elektronik, otomotif dan komponennya, kimia, farmasi, plastik, serta makanan dan minuman yang masih bergantung pada bahan baku impor.

Baca Juga

  • Tantangan Industri Baja Indonesia: Produksi Lemah, Banjir Impor
  • Pengusaha Kawasan Industri Curhat ke KSP Minta Hambatan Investasi Cepat Dibenahi
  • BASF Operasikan Tangki Penyimpanan Baru di RI, Perkuat Pasokan Bahan Baku Cat

Terlebih, pelemahan rupiah hingga kisaran Rp17.800 per dolar AS menyebabkan biaya pembelian bahan baku, mesin, suku cadang, dan pembiayaan dalam valuta asing meningkat signifikan.

Meski demikian, Rizal menilai daya tahan industri manufaktur saat ini relatif lebih baik dibandingkan saat krisis 1998 maupun 2008 karena sistem keuangan nasional lebih kuat dan ruang kebijakan pemerintah lebih memadai.

Namun, dibandingkan dengan kondisi normal, ketahanan industri mulai tergerus karena tekanan datang secara bersamaan, mulai dari pelemahan nilai tukar, tingginya suku bunga, lemahnya permintaan global, hingga kenaikan biaya energi.

“Artinya, industri masih bertahan, tetapi ruang napasnya makin sempit, terutama bagi pelaku padat karya dan UMKM pemasok rantai industri,” sebutnya.

Rizal menambahkan pelemahan rupiah secara teori dapat memberikan keuntungan bagi eksportir karena meningkatkan nilai pendapatan berbasis dolar AS. Namun, manfaat tersebut tidak sepenuhnya dirasakan karena banyak eksportir manufaktur juga bergantung pada bahan baku impor.

Selain itu, permintaan global yang belum pulih sepenuhnya membuat dampak positif depresiasi rupiah terhadap kinerja ekspor manufaktur menjadi terbatas.

Menurut dia, sektor dengan resiliensi besar di tengah tekanan saat ini adalah industri dengan kandungan lokal tinggi, seperti agroindustri, furnitur, produk kayu, dan sebagian industri makanan olahan.

Lebih lanjut, Rizal mengingatkan apabila tekanan eksternal berlanjut hingga akhir tahun, risiko pengurangan shift produksi, penundaan ekspansi usaha, efisiensi tenaga kerja, hingga pemutusan hubungan kerja (PHK) selektif akan meningkat.

Adapun sektor yang perlu diwaspadai meliputi industri tekstil dan garmen, alas kaki, elektronik, otomotif dan komponen, kimia, plastik, serta farmasi karena memiliki sensitivitas tinggi terhadap fluktuasi kurs, ketergantungan impor bahan baku, dan pelemahan permintaan pasar.

Karena itu, dia mendorong pemerintah segera mengambil langkah mitigasi untuk menjaga daya tahan industri manufaktur.

“Respons pemerintah perlu fokus stabilisasi kurs, insentif bahan baku strategis, percepatan substitusi impor, dan perlindungan industri padat karya,” saran Rizal.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Baznas Gelar Festival Kurban Berkah di Kampung Pemulung Pancoran
• 9 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Liburan ke Kebun Raya Bogor? Ini Jam Buka hingga Spot Menarik yang Wajib Dicoba
• 14 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Menko Polkam dan Mendagri Tinjau Sekolah Rakyat di Kendari untuk Pastikan Program Berjalan Optimal
• 8 jam lalupantau.com
thumb
4 Orang Diselamatkan Usai 10 Hari Terjebak di Gua Terendam Banjir
• 7 jam laludetik.com
thumb
MUI Minta Ada Jadwal Khusus untuk Jamaah yang Ingin Cium Hajar Aswad
• 7 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.