Oleh: Andi Tenri Abeng
Dosen Jurusan Administrasi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Makassar
Minggu lalu semester resmi berakhir. Ujian sudah lewat, dan nilai mahasiswa sudah keluar. Tapi justru di momen itulah sesuatu yang cukup mengganjal mulai terasa: ada perubahan cara mahasiswa memandang nilai.
Belakangan, saya mendengar dan mungkin banyak dosen lain juga merasakan hal yang sama bahwa tidak sedikit mahasiswa yang merasa berhak mendapat nilai A semata karena kehadiran mereka penuh dan semua tugas sudah dikumpulkan. Seolah-olah dua hal itu adalah jaminan. Padahal dalam sistem penilaian perguruan tinggi, kehadiran dan pengumpulan tugas hanyalah syarat administratif, bukan penentu utama. Yang sesungguhnya diukur adalah seberapa dalam pemahaman, seberapa tajam analisis, dan seberapa jauh kemampuan berpikir kritis berkembang, ditambah hasil UTS dan UAS yang menjadi cermin nyata dari proses belajar.
Yang lebih membuat geleng kepala adalah ketika pesan mulai masuk di tengah malam. Tanpa pertimbangan waktu, mahasiswa tidak ragu mengirimkan pesan dan menuntut penjelasan soal nilai. Bahkan ada yang terang-terangan mengatakan ia “layak” dapat A, padahal nilai ujiannya jauh di bawah rata-rata kelas. Nilai rupanya sudah bergeser maknanya: bukan lagi sesuatu yang diperjuangkan, melainkan sesuatu yang dianggap otomatis menjadi hak.
Apakah ini sekadar sikap individual? Rasanya tidak sesederhana itu.
Fenomena ini punya nama dalam dunia akademik: grade inflation. Ini adalah kecenderungan meningkatnya nilai tinggi yang diberikan tanpa diimbangi peningkatan kualitas yang nyata. David M. Compton dan Brenda Metheny dalam penelitian mereka, An Assessment of Grade Inflation in Higher Education, menunjukkan bahwa inflasi nilai bukan masalah sepeleh, ia bisa menggerus kualitas pendidikan sekaligus merusak makna pencapaian itu sendiri.
Harvard University bahkan sampai mengambil langkah yang cukup berani: membatasi kuota mahasiswa yang bisa mendapat nilai A dalam satu kelas. Langkah itu lahir dari data yang mengkhawatirkan pada 2005, hanya sekitar 24 persen mahasiswa Harvard yang meraih A. Dua dekade kemudian, angkanya sudah mendekati 60 persen. Tanpa ada lonjakan kualitas akademik yang sebanding, itu bukan kemajuan. Itu inflasi.
Riset lain bertajuk Grade Inflation: Undergraduate Students’ Perspective menemukan ironi menarik: banyak mahasiswa merasa nilai tinggi yang mereka terima memang pantas, tapi di saat bersamaan, mereka juga mengakui bahwa ada teman-teman mereka yang menerima nilai lebih tinggi dari yang seharusnya. Artinya, secara sadar atau tidak, mereka tahu ada yang tidak beres. Tapi tetap menganggap diri mereka sendiri sebagai pengecualian.
Dulu, nilai A itu bukan sekadar huruf. Ia adalah bukti. Bukti dari malam-malam yang dihabiskan membaca, dari diskusi yang sengit, dari ujian yang dihadapi dengan persiapan serius. Du;lu, mahasiswa hafal betul rasanya mendapat B saja sudah cukup membanggakan, asal diraih secara jujur. Nilai bukan tujuan, melainkan konsekuensi dari proses yang sungguh-sungguh.
Kini orientasinya tampak terbalik. Angka di transkrip lebih penting dari pengalaman belajar itu sendiri. Hadir di kelas sudah dianggap cukup, meskipun pikiran melayang ke mana-mana. Tugas dikerjakan asal selesai, bukan untuk melatih kemampuan berpikir. Dan mereka memahami bahwa nilai bukan diperjuangkan, tapi “seharusnya diberikan”.
Dan situasi ini semakin diperumit oleh era digital yang serba instan. Laporan dari Axios mencatat bahwa sejak kemunculan ChatGPT, jumlah mahasiswa yang mendapat nilai A melonjak signifikan terutama di mata kuliah yang banyak mengandalkan tugas mandiri. Peneliti dari UC Berkeley bahkan menemukan lonjakan hingga 30 persen pada kategori nilai “excellent” di sejumlah mata kuliah tertentu. Teknologi yang seharusnya menjadi alat bantu belajar, dalam banyak kasus justru menjadi jalan pintas yang mengaburkan batas antara usaha dan hasil.
Padahal perguruan tinggi bukan pabrik nilai. Ia adalah ruang tempat seseorang belajar berpikir, melatih etika, dan memahami bahwa tidak ada yang instan dalam membentuk diri. Nilai hanyalah bayangan dari proses dan bayangan tidak bisa berdiri tanpa yang memancarkan cahaya.
Pattison, Grodsky, dan Muller pernah menyebut nilai sebagai “mata uang utama” dalam sistem pendidikan penanda kemampuan akademik sekaligus karakter nonkognitif seseorang. Ketika mata uang itu mengalami inflasi, daya belinya melemah. Nilai A tidak lagi berarti apa yang dulu ia wakili.
Jika tren ini terus berlanjut, yang terancam bukan hanya kualitas akademik mahasiswa. Integritas sistem pendidikan itu sendiri yang perlahan kehilangan maknanya. Sebab ketika nilai tidak lagi mencerminkan kompetensi nyata, kejujuran akademik pun ikut terkikis.
Mungkin sudah saatnya kita mahasiswa, dosen, dan institusi sama-sama berhenti sejenak dan bertanya: apa sebenarnya yang sedang kita kejar? Nilai A yang mudah diraih, atau kemampuan nyata yang terbentuk dari proses yang tidak mudah?
Karena pendidikan yang sesungguhnya bukan tentang siapa yang punya transkrip paling bersih. Tapi tentang siapa yang benar-benar tumbuh.





