Pintu masuk ke perguruan tinggi negeri (PTN) masih terbuka hingga akhir Juli 2026. Seleksi mandiri yang diselenggarakan masing-masing PTN menjadi jalur terakhir bagi calon mahasiswa untuk meraih kursi di kampus negeri. Tahun ini, tersedia sedikitnya 186.164 kursi melalui jalur tersebut, ditambah 30.496 kursi sisa kuota Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) yang tidak terisi.
Ainun (17), lulusan SMA di Solo, Jawa Tengah, sempat kecewa setelah gagal lolos Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT). Ia menjadi bagian dari lebih dari 70 persen peserta UTBK 2026 yang tidak berhasil memperoleh kursi PTN melalui jalur tersebut. Dari total 871.496 pendaftar, hanya sekitar 29 persen yang dinyatakan lolos.
Meski demikian, Ainun tidak menyerah. Dukungan orangtuanya membuat ia kembali menyiapkan diri untuk mengikuti seleksi mandiri.
“Saya masih mau coba masuk UGM meskipun tidak lolos SNBT. Sekarang mulai belajar lagi supaya bisa berhasil di jalur mandiri,” ujar Ainun saat dihubungi dari Jakarta, Sabtu (30/5/2026).
Meskipun sejumlah jalur mandiri, terutama kelas internasional, telah dibuka sebelum pengumuman UTBK, persaingan tetap ketat. Sebagian peserta yang sudah diterima di satu PTN masih mencoba jalur mandiri di PTN lain yang dianggap lebih diminati. Fenomena ini terutama terjadi di perguruan tinggi negeri badan hukum (PTNBH).
Analisis Tim Jurnalisme Data Harian Kompas terhadap data penerimaan mahasiswa baru menunjukkan pertumbuhan jumlah mahasiswa yang diterima melalui jalur mandiri cukup signifikan. Di PTNBH, peningkatannya bahkan jauh lebih tinggi dibandingkan perguruan tinggi swasta. Dalam periode 2014–2024, sejumlah PTN mencatat kenaikan penerimaan mahasiswa melalui jalur mandiri hingga 80 persen.
Sesuai ketentuan, seleksi mandiri PTN dapat berlangsung hingga akhir Juli 2026. Karena itu, lulusan SMA/SMK sederajat perlu aktif memantau laman resmi masing-masing PTN untuk mengetahui jadwal dan mekanisme seleksi yang tersedia.
Setiap PTN memiliki keleluasaan dalam menyelenggarakan jalur mandiri. Ada yang menggunakan nilai UTBK sebagai komponen penilaian, ada yang menggelar ujian secara daring maupun luring, serta ada pula yang membuka jalur prestasi akademik dan nonakademik.
Dengan mencermati jadwal seleksi, calon mahasiswa berpeluang mendaftar ke beberapa PTN sekaligus guna memperbesar peluang diterima.
Bagi calon mahasiswa yang belum lolos SNBT, sejumlah perguruan tinggi negeri masih membuka peluang melalui jalur mandiri. Dikutip dari laman resmi Institut Pertanian Bogor (IPB) University, Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan IPB University Deni Noviana mengatakan pendaftaran Seleksi Mandiri Masuk IPB (SM-IPB) untuk program sarjana dan sarjana terapan (D4) masih dibuka hingga 2 Juli 2026.
Selain SM-IPB, IPB juga menyediakan sejumlah jalur mandiri lain, seperti Jalur Ketua OSIS, Jalur Talenta, Jalur Kemitraan Beasiswa Utusan Daerah (BUD), serta International Undergraduate Program (IUP). “Masih ada beberapa jalur mandiri yang dapat dimanfaatkan calon mahasiswa sesuai potensi dan prestasinya,” ujar Deni.
Sementara itu, Universitas Gadjah Mada (UGM) mengalokasikan sekitar 40 persen dari total kuota 9.403 mahasiswa baru program sarjana dan sarjana terapan tahun 2026 melalui jalur mandiri. Selain jalur reguler, UGM juga membuka International Undergraduate Program (IUP) dengan kuota sebanyak 1.221 mahasiswa.
Sekretaris Direktorat Pendidikan dan Pengajaran UGM Sigit Priyanta mengatakan, salah satu jalur yang dibuka adalah Ujian Mandiri Computer Based Test (UM CBT). Pendaftaran telah dibuka sejak awal Mei dengan biaya Rp 350.000 untuk lokasi Yogyakarta dan Rp 550.000 untuk lokasi Jakarta. Peserta dapat mengikuti ujian sesuai lokasi yang dipilih pada 2–6 Juni 2026.
Menurut Sigit, UM CBT UGM terdiri atas Tes Kemampuan Dasar, Tes Potensi, dan Tes Kemampuan Akademik. Tes Kemampuan Dasar mencakup Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Matematika dasar untuk mengukur kemampuan memahami bacaan, penalaran logis, serta numerasi peserta.
“Proses seleksi ini murni berdasarkan kemampuan peserta dalam mengerjakan tes, tanpa mempertimbangkan latar belakang jurusan saat di SMA, asalkan dipersiapkan dengan baik,” kata Sigit.
Sigit menjelaskan, besaran Uang Kuliah Tunggal (UKT) ditetapkan berdasarkan kemampuan ekonomi keluarga calon mahasiswa. Setelah dinyatakan lolos seleksi, peserta diminta melengkapi data ekonomi yang kemudian diverifikasi oleh sistem.
Berdasarkan hasil verifikasi tersebut, mahasiswa akan ditempatkan pada kelompok UKT yang sesuai. Selain UKT, terdapat Iuran Pengembangan Institusi (IPI) yang besarannya berbeda menurut bidang studi, yakni Rp 20 juta untuk kluster sosial-humaniora (soshum) dan Rp 30 juta untuk kluster sains dan teknologi (saintek).
Meski jalur mandiri kerap dianggap lebih mahal karena adanya uang pangkal atau Iuran Pengembangan Institusi (IPI) di luar UKT, tidak semua perguruan tinggi negeri (PTN) menerapkan kebijakan tersebut. Rektor Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Ahmad Alim Bachri, mengatakan ULM memilih meniadakan IPI pada jalur mandiri sebagai upaya memperluas akses pendidikan bagi seluruh lapisan masyarakat.
“Kami mengambil kebijakan progresif dengan tidak mengenakan Iuran Pengembangan Institusi pada jalur mandiri agar kesempatan mengenyam pendidikan tinggi semakin terbuka bagi masyarakat,” ujarnya.
“Pada jalur mandiri, kami tidak memberlakukan iuran pengembangan. Prinsip kami sederhana, jangan sampai ada anak bangsa yang memiliki kemampuan akademik, tetapi gagal melanjutkan pendidikan tinggi karena keterbatasan ekonomi,” ujar Ahmad saat kunjungan kerja Komisi X DPR, pertengahan April lalu.
Menurut Ahmad, kebijakan tersebut lahir dari pengalaman ULM yang pernah menyaksikan ratusan calon mahasiswa batal kuliah karena kendala biaya. Sejak itu, kampus aktif menjalin kerja sama dengan pemerintah daerah dan berbagai mitra untuk membantu menjamin keberlanjutan studi mahasiswa.
Secara terpisah, Wakil Rektor Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Alumni Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Ifan Iskandar, mengatakan UNJ membuka sembilan jalur penerimaan mahasiswa baru melalui seleksi mandiri. Jalur ini menampung sekitar 50 persen dari total daya tampung mahasiswa baru tahun ini.
UNJ juga menyediakan kesempatan bagi lulusan SMA/SMK sederajat yang memenuhi syarat pada jalur prestasi seleksi nasional, tetapi belum lolos. Demikian pula peserta UTBK 2026 yang belum diterima di perguruan tinggi pilihannya tetap berpeluang masuk UNJ melalui jalur berbasis nilai UTBK.
“Tingginya minat masyarakat terhadap UNJ mendorong kami membuka lebih banyak jalur seleksi mandiri. Tersedia jalur berbasis rapor seperti SNBP, jalur prestasi, nilai UTBK, ujian tulis daring dari rumah, ujian khusus bagi penyandang disabilitas, hingga ujian tulis langsung di kampus,” kata Ifan.
Direktur Akademik UNJ, Agung Premono, menjelaskan bahwa transformasi UNJ dari Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) menjadi universitas semakin memperkuat perannya sebagai institusi pengetahuan dan kebudayaan. Salah satu dampaknya terlihat dari tingginya minat calon mahasiswa terhadap program-program studi nonkependidikan. Program Studi Humas dan Komunikasi Digital, misalnya, menjadi salah satu prodi dengan jumlah pendaftar terbanyak pada UTBK 2026.
Agung mengingatkan calon mahasiswa untuk mencermati sembilan jalur seleksi mandiri yang tersedia di UNJ. Selain jalur reguler, UNJ juga membuka jalur pindahan bagi mahasiswa yang telah menempuh pendidikan di perguruan tinggi negeri lain pada program studi yang sama. Syaratnya, program studi asal minimal terakreditasi B atau setara, mahasiswa telah menjalani perkuliahan sedikitnya dua semester, dan memiliki indeks prestasi kumulatif (IPK) minimal 2,75.
UNJ juga menyediakan jalur Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) bagi calon mahasiswa yang telah lulus sekolah lebih dari tiga tahun dan memiliki pengalaman kerja yang relevan.
Di mana pun kuliah, bangsa ini butuh SDM yang mendukung pembangunan Indonesia ke depannya untuk jadi negara maju.
Sementara itu, di Universitas Indonesia (UI), jalur seleksi mandiri jenjang sarjana yang masih membuka pendaftaran antara lain Seleksi Masuk UI (SIMAK UI) serta Program Prestasi dan Pemerataan Kesempatan Belajar (PPKB) yang menggunakan nilai rapor dan rekam jejak prestasi akademik sebagai dasar seleksi.
Secara terpisah, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto mengutarakan, minat anak muda untuk melanjutkan kuliah ke perguruan tinggi meningkat. Terlihat di seleksi nasional, untuk UTBK tahun ini mencapai 871.496 pendaftar, naik dari tahun 2025 yang berjumlah 860.976 pendaftar.
Menurut Brian, di mana pun anak muda bangsa berkuliah, baik di PTN maupun perguruan tinggi swasta, pilihlah prodi yang disukai dan punya prospek ke depan untuk mendukung industrialisasi yang disiapkan pemerintah. ”Di mana pun kuliah, bangsa ini butuh SDM yang mendukung pembangunan Indonesia ke depannya untuk jadi negara maju,” ujarnya.





