JAKARTA, KOMPAS,TV - Krisis energi akibat penutupan Selat Hormuz sebagai dampak dari perang Amerika Serikat (AS) dan Iran jadi alarm baru bagi negara-negara anggota ASEAN untuk mempercepat perkembangan energi terbarukan. Krisis ini jadi salah sorotan utama dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN di Cebu, Filipina, 7-8 Mei 2026.
Presiden Filipina, Ferdinand Marcos Jr. meminta para pemimpin ASEAN untuk memperkuat koordinasi dan meningkatkan kesiapan, serta menerapkan langkah-langkah kolektif praktis untuk menjamin pasokan energi yang stabil.
“Sembari terus memajukan sumber energi alternatif dan terbarukan untuk melindungi perekonomian kita dari guncangan lebih lanjut, serta merespons tantangan mendesak perubahan iklim,” kata Marcos Jr. saat membuka KTT ASEAN, Jumat (8/5/2026).
Baca Juga: Hadapi Krisis Energi Global, Pertamina Dorong Energi Terbarukan di Indonesia
Pembukaan KTT ASEAN Ke-48 di Cebu, Filipina, 8 Mei 2026. (Sumber: Dok. Sekretariat Presiden.)Dari forum itu, Menteri Luar Negeri Sugiono menyatakan suatu kesadaran bersama antara negara-negara anggota ASEAN tumbuh untuk mempercepat program-program energi alternatif selain pasokan minyak dari Timur Tengah.
“Dengan situasi saat ini, perlu suatu inisiatif bersama untuk menjadikan ASEAN sebagai wilayah yang punya ketahanan khusus di bidang energi dan pangan,” kata Sugiono, Sabtu (9/5/2026).
Percepatan energi terbarukan, peluang baru bagi komunitas ASEAN
PLTS Terapung di Waduk Cirata, Jawa Barat. (Sumber: KompasTV.)Di tengah upaya menanggulangi krisis energi akibat perang AS dan Iran, kesadaran bersama negara-negara anggota ASEAN untuk menggenjot perkembangan energi terbarukan berpotensi besar jadi peluang baru untuk kesejahteraan masyarakat ASEAN. Pendiri sekaligus Direktur Eksekutif Just Transition Incubator, Leo Horn-Phathanothai, memandang percepatan transisi energi kini lebih luas dari sekedar merespons krisis energi akibat situasi geopolitik.
“Ini kesempatan sekali seumur hidup untuk masa depan yang lebih hijau, yang akan memberikan lebih banyak keamanan dari sisi energi, mata pencaharian, dan lingkungan yang lebih bersih untuk kita,” kata Leo dalam ASEAN for The People’s Week 2026 di Mӧvenpick Hotel Mactan Island Cebu, Jumat (8/5/2026)
FPCI ASEAN for The People’s Week di Cebu, Filipina. (Sumber: Dok. FPCI.)Dalam forum yang diselenggarakan oleh Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) ini, berbagai komunitas dari negara-negara anggota ASEAN berkumpul untuk ikut menyuarakan solusi bagi ASEAN menghadapi tantangan global yang memprioritaskan kebutuhan masyarakat sebagai. Salah satunya, ketahanan ASEAN di tengah krisis iklim dan energi di masa depan.
“Upaya (transisi energi) ini merefleksikan masa depan apa yang kita inginkan, perkembangan seperti apa yang ingin kita putuskan. Apakah kita ingin terus bergantung pada energi fosil yang di luar kendali kita, saat kita punya pilihan sumber energi yang lebih murah, aman, dan terjangkau di rumah kita sendiri,” kata Leo.
Pendanaan iklim meningkat pesat untuk kawasan ASEAN
Direktur Climate Policy Initiative (CPI) Indonesia, Tiza Mafira mengungkap pendanaan untuk aksi mitigasi dan adaptasi krisis iklim, termasuk untuk transisi energi terbarukan terus meningkat setiap tahun.
“50% dari pendanaan iklim global tersebut mengalir ke Asia Tenggara. Pada 2023, pendanaan iklim untuk Asia Tenggara meningkat 70% year on year (yoy), baik dari pihak Pemerintah dan swasta,” kata Tiza.
Tiza menambahkan, pendanaan iklim yang semakin meningkat tersebut merupakan tren yang tengah berlangsung saat ini. Meski demikian, suatu kawasan perlu menunjukkan komitmennya terhadap kebutuhan energi terbarukan untuk terus menarik investor pendanaan iklim.
“ASEAN benar-benar perlu menunjukkan konsistensi terhadap kebutuhan energi terbarukan melalui setidaknya tiga hal; 1) penerapan energi terbarukan, 2) pembangunan infrastruktur transmisi (untuk jaringan penyalur listrik), dan 3) pensiun pembangkit listrik dari energi fosil,” kata Tiza.
Lebih fleksibel, sumber energi terbarukan lebih dapat diandalkan
Pembangkit Listrik Tenaga Hidro (Sumber: KompasTV.)Akibat krisis energi dari perang AS dan Iran, para investor sadar bahwa investasi dalam penerapan energi terbarukan lebih stabil daripada investasi untuk energi fosil.
“Harga bahan bakar tidak terkendali, karena situasi geopolitik yang mengendalikan bahan bakar fosil. Biaya teknologi (energi terbarukan) sendiri sudah lebih murah, tidak naik turun seperti bahan bakar fosil dan gas. Teknologinya juga sudah lebih efisien. Sumber daya untuk energi terbarukan, contohnya tenaga surya dan angin, di seluruh Asia Tenggara juga distribusinya merata,” tutur Tiza.
Terkait pembangunan infrastruktur transmisi untuk energi terbarukan, Tiza yakin pembangunan transmisi ini akan lebih fleksibel, sehingga lebih dapat diandalkan daripada penyaluran energi dari bahan bakar fosil.
Penulis : Isnaya Helmi Editor : Desy-Afrianti
Sumber : Kompas TV
- asean
- energi terbarukan
- krisis energi
- perang as iran
- beralih ke energi terbarukan
- indonesia





