Pantau - Gelaran Senja Budaya dalam rangka Hari Jadi Kota Surabaya (HJKS) ke-733 di Tugu Pahlawan menjadi upaya merawat identitas, ingatan kolektif, dan ruang publik melalui pendekatan yang lebih inklusif bagi masyarakat Surabaya.
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari tersebut mengubah Tugu Pahlawan yang selama ini identik dengan upacara dan wisata sejarah menjadi ruang interaksi sosial lintas generasi.
Saat senja menyelimuti kawasan Tugu Pahlawan, warga tampak berkumpul bersama, menggelar tikar di ruang terbuka, menikmati kuliner tradisional, serta mengisi area dengan tawa dan percakapan.
Pemerintah Kota Surabaya menghadirkan berbagai aktivitas mulai dari seni pertunjukan, kuliner tradisional, permainan rakyat, hingga ruang berkumpul bagi masyarakat.
Transformasi tersebut menunjukkan perubahan cara memandang ruang publik dari sekadar monumen sejarah menjadi ruang hidup yang digunakan dan dirasakan langsung oleh warga.
Tugu Pahlawan Jadi Laboratorium Sosial WargaFenomena Senja Budaya dinilai tidak sekadar menjadi perayaan HJKS ke-733, tetapi juga menjadi sarana memperkuat hubungan masyarakat dengan kotanya serta merawat ingatan kolektif warga.
Pendekatan tersebut disebut sejalan dengan sejumlah kota dunia seperti London yang menghidupkan kawasan museum melalui festival malam terbuka dan Kyoto yang menjaga kawasan bersejarah melalui festival kuliner serta pertunjukan jalanan.
Surabaya dinilai mulai bergerak ke arah yang sama dengan menjadikan Tugu Pahlawan bukan hanya simbol masa lalu, tetapi juga laboratorium sosial masa kini.
Anak-anak terlihat memainkan permainan tradisional, remaja menikmati pertunjukan musik, dan keluarga berkumpul bersama di atas tikar selama acara berlangsung.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ruang publik yang inklusif mampu mempererat hubungan antargenerasi sekaligus menjadi penyeimbang di tengah kehidupan digital yang semakin individual.
Kuliner Tradisional Dorong Ekonomi dan Pelestarian BudayaSalah satu unsur penting dalam Senja Budaya adalah kehadiran kuliner tradisional seperti semanggi, kue rangin, putu, dan nasi jagung.
Kuliner tersebut tidak hanya dipandang sebagai makanan, tetapi juga fragmen ingatan masyarakat, bagian dari identitas budaya Surabaya, serta warisan yang perlu dijaga.
Konsep ekonomi ingatan turut diperkenalkan melalui pemanfaatan warisan budaya sebagai sumber nilai ekonomi dan sosial bagi masyarakat.
Berbagai kajian pariwisata budaya menunjukkan bahwa wisata kuliner tradisional memiliki daya tarik tinggi bagi generasi muda, terutama Generasi Z yang mencari pengalaman autentik.
Festival seperti Senja Budaya juga dinilai mampu menggerakkan ekonomi mikro, membantu pedagang makanan, memberi ruang bagi pelaku seni pertunjukan, serta mendukung ekonomi kreatif berbasis budaya lokal.
Meski demikian, kuliner tradisional masih menghadapi tantangan berupa regenerasi pelaku usaha, ketersediaan bahan baku, perubahan selera pasar, dan dominasi budaya konsumsi instan.
Pemerintah daerah dinilai perlu memperkuat UMKM kuliner melalui pelatihan produksi, integrasi dengan sektor pariwisata, dan pengembangan ekosistem yang berkelanjutan.
Menjaga Keseimbangan Fungsi Sosial dan Nilai SejarahSelain memberikan dampak ekonomi, Senja Budaya juga memunculkan diskusi mengenai makna ruang publik di kawasan bersejarah.
Tugu Pahlawan yang selama ini dianggap sebagai ruang sakral mulai berkembang menjadi ruang sosial masyarakat yang mempertemukan berbagai kelompok usia.
Namun, komersialisasi ruang publik dinilai tidak boleh menghilangkan nilai sejarah yang melekat pada Tugu Pahlawan.
Karena itu diperlukan keseimbangan antara fungsi edukasi sejarah, fungsi hiburan, dan fungsi sosial masyarakat agar identitas kawasan tetap terjaga.
Salah satu usulan yang muncul adalah mengintegrasikan narasi perjuangan dalam pertunjukan seni serta mengembangkan media edukasi sejarah yang interaktif bagi generasi muda.
Kegiatan ini menegaskan bahwa kota bukan hanya soal infrastruktur fisik, melainkan juga tentang ingatan kolektif, identitas budaya, dan rasa memiliki dari warganya.
Ketika warga berkumpul menikmati kuliner tradisional dan pertunjukan budaya di bawah langit senja, proses memperkuat hubungan antara masyarakat dan kotanya pun terjadi secara alami.
Surabaya dinilai berhasil menunjukkan bahwa modernitas tidak harus menghilangkan tradisi karena keduanya dapat berjalan bersama dan saling menguatkan.
Ke depan, kebutuhan yang dinilai lebih penting bukan sekadar menambah jumlah festival, melainkan memperluas ruang publik yang memungkinkan warga bertemu, memperkuat interaksi sosial, menjaga identitas lokal, dan merawat ingatan kota secara berkelanjutan.




