Tekanan inflasi diperkirakan meningkat pada Mei 2026 seiring kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi dan harga pangan, terutama cabai. Di saat yang sama, surplus neraca dagang Indonesia diproyeksikan tetap berlanjut pada April 2026, meski nilainya menyusut cukup tajam dibandingkan bulan sebelumnya.
Ekonom Core Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, memperkirakan inflasi tahunan Mei 2026 berada di kisaran 2,99 persen hingga 3,13 persen secara tahunan (yoy). Angka tersebut lebih tinggi dibanding inflasi tahunan April 2026 yang tercatat 2,42 persen berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS).
Menurut Yusuf, kenaikan inflasi kali ini lebih banyak dipicu faktor biaya produksi atau cost-push inflation, bukan karena lonjakan permintaan masyarakat. Tekanan terutama datang dari penyesuaian harga BBM non-subsidi seperti Pertamina Dex, Dexlite, dan Pertamax Turbo, serta kenaikan harga sejumlah komoditas pangan.
“Tekanan yang muncul cenderung berasal dari sisi biaya produksi atau cost-push inflation, bukan dari peningkatan permintaan masyarakat atau demand-pull inflation,” kata Yusuf kepada kumparan, Minggu (31/5).
Ia menjelaskan, kenaikan harga cabai dan komoditas hortikultura lainnya menjadi kontributor utama inflasi kelompok volatile food. Namun, tekanan tersebut diperkirakan bersifat sementara karena komoditas pangan tersebut memiliki pola musiman dan berpotensi terkoreksi ketika pasokan kembali normal.
Di sisi lain, Yusuf menilai terdapat sejumlah faktor yang membantu menahan laju inflasi. Salah satunya kebijakan subsidi tiket pesawat kelas ekonomi domestik melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 24 Tahun 2026.
Menurut dia, kebijakan tersebut dapat meredam tekanan inflasi dari sektor transportasi yang sebelumnya terdorong kenaikan harga avtur dan biaya operasional maskapai.
Secara keseluruhan, Yusuf menilai inflasi Mei masih berada dalam rentang target Bank Indonesia sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen. Karena itu, kenaikan inflasi belum menjadi sinyal yang mengkhawatirkan bagi stabilitas ekonomi nasional.
“Selama inflasi inti tetap terkendali dan tekanan harga pangan terbukti hanya bersifat sementara, kenaikan inflasi pada Mei lebih tepat dipandang sebagai gejolak jangka pendek daripada sebagai sinyal perubahan tren inflasi yang lebih permanen,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, memperkirakan inflasi bulanan mencapai 0,14 persen, sedikit lebih tinggi dibanding April sebesar 0,13 persen. Secara tahunan, inflasi diproyeksikan naik menjadi 2,94 persen.
Ia menilai tekanan inflasi berasal dari kenaikan biaya bahan baku, pelemahan rupiah yang meningkatkan harga input impor, harga energi yang masih tinggi, serta meningkatnya permintaan menjelang Idul Adha. Selain itu, inflasi inti diperkirakan naik dari 2,44 persen menjadi 2,50 persen akibat kenaikan harga pangan olahan dan biaya produksi nonpangan.
Meski demikian, Josua melihat inflasi masih berada dalam sasaran Bank Indonesia. Menurut dia, tekanan inflasi saat ini lebih banyak berasal dari sisi biaya dan pasokan dibandingkan lonjakan permintaan masyarakat.
Ke depan, risiko inflasi masih cenderung meningkat. Faktor yang perlu diwaspadai antara lain pelemahan rupiah, harga minyak dunia, cuaca ekstrem yang berpotensi mengganggu produksi pangan, hingga dampak ketegangan geopolitik di Timur Tengah terhadap biaya energi dan inflasi impor.
Josua memperkirakan inflasi pada akhir 2026 berada di sekitar 2,72 persen. Sementara suku bunga acuan BI Rate diperkirakan tetap bertahan di level 5,25 persen sepanjang tahun ini.
Neraca Perdagangan
Josua memperkirakan surplus neraca perdagangan Indonesia pada April 2026 masih berlanjut, tetapi menyusut menjadi sekitar USD 1,43 miliar dari USD 3,32 miliar pada Maret 2026.
Penyempitan surplus terjadi karena impor meningkat lebih cepat dibandingkan ekspor. Kenaikan impor dipicu normalisasi aktivitas ekonomi setelah libur Idul Fitri serta naiknya biaya impor energi di tengah harga minyak dunia yang masih tinggi.
“Proyeksi kami menunjukkan surplus neraca dagang April 2026 turun menjadi sekitar USD 1,43 miliar dari USD 3,32 miliar pada Maret. Jadi, arahnya bukan surplus yang makin besar, melainkan surplus yang tetap positif namun lebih tipis,” ujar Josua.
Dari sisi ekspor, Josua memperkirakan pertumbuhan tahunan mencapai 9,10 persen setelah pada Maret terkontraksi 3,10 persen. Namun secara bulanan, kenaikannya diperkirakan hanya 0,46 persen sehingga menunjukkan pemulihan permintaan global belum sepenuhnya kuat.
Sebaliknya, impor diperkirakan tumbuh 2,98 persen secara tahunan dan melonjak 10,37 persen secara bulanan. Kenaikan ini mencerminkan kembali bergeraknya aktivitas ekonomi domestik, sekaligus meningkatnya kebutuhan energi dan bahan baku.
Menurut Josua, kondisi tersebut menunjukkan surplus perdagangan masih menjadi penopang penting bagi stabilitas nilai tukar rupiah. Namun, ruang surplus mulai mengecil sehingga perlu diwaspadai.
“Ini menunjukkan dua hal yakni aktivitas domestik masih bergerak, tetapi kebutuhan impor, terutama energi dan bahan baku, mulai menekan ruang surplus perdagangan,” katanya.





