Industri Jamu Terdampak Tekanan Ekonomi

kompas.id
8 jam lalu
Cover Berita

Konsumsi masyarakat yang selektif, fluktuasi nilai tukar rupiah, dan dinamika harga bahan baku membawa dampak pada industri jamu di Tanah Air. Pelaku usaha seperti PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk pun terdampak dan menargetkan laba tahun ini setidaknya sama atau sedikit turun dibanding tahun lalu. Efisiensi menjadi salah satu strategi yang diusung untuk mendongkrak kinerja.

Pada kuartal I-2026, emiten dengan kode saham Sido yang memproduksi jamu dan obat herbal modern ini membukukan pendapatan Rp 640,5 miliar atau turun 19 persen secara year-on-year (yoy). Laba bersih Sido juga turun 36,8 persen yoy menjadi Rp 147,21 miliar.

Direktur Utama Sido Muncul Irwan Hidayat mengatakan, angka di laporan keuangan yang turun ini dipengaruhi oleh inventory adjustment (penyesuaian persediaan). Sejak Januari, Sido Muncul menyetop penjualan produk utama merek Tolak Angin ke jalur ditributor. Hal ini karena adanya penumpukan stok selama tiga bulan di distribusi.

“Karena waktu Desember, harga lama dikasih ngambil stok terlalu banyak. Bisa ngambil dua bulan, tiga bulan. Nah, saya pikir itu enggak sehat. Makanya bulan Januari, Februari, Maret, saya enggak jual Tolak Angin ke distributor. Saya tutup pintunya, enggak dijual. Ya, pasti turun laporan keuangannya,” ujarnya di Jakarta, Kamis (28/5/2026).

Meski dalam laporan keuangan terjadi penurunan laba dan penurunan pendapatan, Irwan menegaskan bahwa permintaan produk di tingkat konsumen akhir tidak mengalami penurunan. Untuk market share Tolak Angin juga terbukti masih menguasai 71 persen pangsa pasar. Sedangkan market share produk lainnya yang diproduksi Sido bisa mencapai 80-90 persen.

“Saya mau buat supaya lebih efisien. Kalau kayak gini kan enggak efisien. Stoknya 3 bulan, duitnya mati di situ semua,” tambah Irwan.

Baca JugaSido Muncul Menuju Masa Transisi Kepemimpinan Generasi Keempat

Normalisasi jalur distribusi ini diperkirakan bisa rampung pada akhir Mei ini. Pada tahun 2026, Sido menargetkan profit sama seperti tahun lalu. “Atau turun sedikit ya. Tapi kalau ini perang terus, harga minyak naik segala, dan nanti profitnya pasti akan turun. Kita akan terpaksa menaikkan harga barang-barang,” ucap Irwan.

Sepanjang tahun 2025, SIDO membukukan penjualan sebesar Rp 4,08 triliun, meningkat 4 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya, dengan laba bersih mencapai Rp 1,23 triliun. Kinerja ini dicapai di tengah konsumsi masyarakat yang masih cenderung selektif, fluktuasi nilai tukar, serta dinamika harga bahan baku. Meski demikian, SIDO tetap mampu menjaga profitabilitas dengan marjin operasi sebesar 38 persen dan marjin bersih sebesar 30 persen.

Tekanan juga dipengaruhi biaya kemasan plastik yang naik 5-8 persen. Ke depan, pasar ekspor produk Sido Muncul juga akan terus dikembangkan dengan produk baru berupa suplemen makanan. “Kita melakukan efisiensi. Ya mudah-mudahan profitnya andai kata turun sedikit, tapi tetap untunglah perusahaan ini. Tetap untung. Apalagi, market share-nya tidak turun, permintaannya kuat,” tambahnya.

Saat ini, semua bahan baku Sido Muncul diperoleh dari pasar lokal. Untuk menjamin kepastian pasokan dan standardisasi bahan baku, Sido Muncul membina petani yang sudah dibina selama hampir 35-40 tahun. Kunyit, misalnya, ditanam petani di Tawangmangu, Karanganyar sedangkan kapulaga di Cilacap dan Purwokerto, seluruhnya di Jawa Tangeh.

“Kami nanamnya sama petani yang sama, di daerah yang sama, dengan benih yang sama. Jadi kami melakukan standardisasi lebih gampang,” ujar Irwan.

Kalau perang terus, harga minyak naik segala, dan nanti profitnya pasti akan turun. Kita akan terpaksa menaikkan harga barang-barang.

Bahan alami

Selama hampir 30 tahun, Sido Muncul terus berupaya melakukan pendataan jamu dan obat bahan alam. Hal ini antara lain dilakukan dengan peluncuran platform Sido Herbalpedia.com pada akhir April lalu. Kehadiran Sido Herbalpedia ini bertujuan mengedukasi masyarakat terkait produk-produk jamu yang berbasis penelitian. Melalui portal ini, Sido juga bertekad mengembangkan produk suplemen makanan.

“Jadi kami punya data, misalnya, alang-alang dari akar, pangkal, bagian tengah sampai daun. Terus di ketinggian 100 meter, 500 meter, 1.000 meter itu seperti apa. Kami punya datanya. Sembari kerja, sembari meneliti. Kalau neliti aja kan ongkosnya tinggi, gede sekali” ucapnya.

Menurut Irwan, komitmen pemerintah dalam pengembangan jamu tidak diragukan. Pemerintah, misalnya, telah menetapkan setiap tanggal 27 Mei diperingati sebagai Hari Jamu Nasional. Ke depan, Sido Muncul akan lebih agresif melakukan penelitian.

Baca JugaMengangkat Gengsi Jamu sebagai Obat Pendamping Kedokteran

Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementerian Pertanian Agung Sunusi mengatakan, Kementerian Pertanian Republik Indonesia tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi tanaman obat di hulu, tetapi juga mulai mendorong hilirisasi agar komoditas tanaman obat dapat masuk ke industri obat modern berbasis bahan alam. Komitmen tersebut diwujudkan melalui pengembangan sentra tanaman obat, pembinaan budidaya sesuai GAP (praktik pertanian yang baik, dan penyediaan benih unggul.

Pemerintah juga terus melakukan penguatan kelembagaan petani, pengembangan database nasional tanaman obat, hingga kolaborasi lintas kementerian dalam Satgas Percepatan Fitofarmaka. “Kementerian Pertanian juga mendukung integrasi data hulu-hilir agar industri memperoleh kepastian pasokan bahan baku yang konsisten baik mutu maupun volumenya,” ujar Agung.

Strategi utama Kementerian Pertanian adalah membangun ekosistem rantai pasok yang terintegrasi dari petani hingga industri. Beberapa langkah strategis antara lain pengembangan kawasan sentra tanaman obat berbasis korporasi petani, standardisasi budidaya dan pascapanen, penguatan kemitraan petani dengan industri, peningkatan kapasitas SDM petani, serta digitalisasi data produksi dan distribusi bahan baku.

Kementerian juga mendorong penerapan Good Agricultural Practices (GAP), Good Handling Practices (GHP), dan traceability bahan baku agar memenuhi standar industri, termasuk untuk fitofarmaka. Beberapa wilayah yang selama ini dikembangkan adalah. Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Utara, serta beberapa wilayah di Sumatera Barat dan Kalimantan Komoditas prioritas meliputi: temulawak, jahe, kunyit, kencur, kapulaga, sambiloto, dan lengkuas. Wilayah-wilayah tersebut diproyeksikan menjadi pemasok utama bahan baku industri fitofarmaka nasional.

Agung menambahkan, Kementerian Pertanian memiliki target tanaman obat yang tercantum dalam RPJMN 2025-2029. Target ini diharapkan dapat mendorong menjadi bahan baku tamaman obat, termasuk fitofarmaka. Dalam roadmap hilirisasi fitofarmaka nasional, petani tanaman obat berperan penting sebagai penyedia bahan baku.




Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Seperti Ayah dan Anak, Dedi Mulyadi Peluk Siswi SD yang Menangis dan Beri Uang Jajan Rp200 Ribu
• 7 jam lalutvonenews.com
thumb
Kasat Narkoba Polres Takalar Bantah Isu Setoran Rutin, Bakal Tindak Tegas Anggotanya Jika Terlibat
• 4 jam laluterkini.id
thumb
Potensi Transaksi di Bali & Beyond Travel Fair (BBTF) Capai Rp6,9 Triliun
• 6 jam lalubisnis.com
thumb
Manfaat Membaca Buku Bagi Kesehatan
• 23 jam lalubeautynesia.id
thumb
Libur Hari Raya Waisak, Warga Piknik di Taman Margasatwa Ragunan | KOMPAS SIANG
• 5 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.