Oleh: Azis Subekti, mahasiswa Program Doktor Hukum UAI, Anggota DPR RI Fraksi Gerindra.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-Sejarah sering kali menyimpan ironi yang sunyi.
Manusia kerap mengingat denting pedang lebih lama daripada suara kebijaksanaan. Perang lebih mudah dicatat daripada kesabaran. Kemenangan militer lebih cepat menjadi legenda dibandingkan keteladanan yang bekerja perlahan membentuk peradaban.
Baca Juga
Pancasila di Pusaran Zaman, Menguji Ketahanan Menghadapi Tantangan Lokal dan Global
PBNU: Jangan Hakimi Ribuan Pesantren karena Segelintir Oknum Pelaku Kekerasan Seksual
Membayar Dam di Tanah Air, Sebanyak 1.240 Ekor Kambing Jamaah Haji Disalurkan Baznas
Karena itu, ketika berbicara tentang perjalanan kenabian Muhammad selama dua puluh tiga tahun, tidak sedikit orang yang terjebak pada gambaran yang sempit: seolah sejarah itu hanya tentang ekspansi, konflik, dan penaklukan.
Padahal bila lembaran-lembaran sejarah dibaca secara utuh, yang tampak justru sebuah proses transformasi sosial yang jauh lebih dalam—perjalanan panjang membangun manusia, menyusun kepercayaan, memperkuat modal sosial, dan menghadirkan kepemimpinan yang bertumpu pada keteladanan.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Muhammad tidak memulai perjalanannya dari istana.
Ia tidak lahir dari dinasti penguasa.
Ia tidak memegang pasukan.
Ia bahkan tidak memiliki instrumen kekuasaan yang lazim dipakai untuk mengubah masyarakat.
Yang dimilikinya hanyalah reputasi moral.
Di tengah masyarakat Arab yang terpecah oleh kesukuan, konflik antarkabilah, dan ketimpangan sosial, ia dikenal dengan satu sebutan yang kelak menjadi modal sosial terbesar dalam sejarah dakwahnya: Al-Amin—orang yang dapat dipercaya.
Di situlah sesungguhnya fondasi perubahan itu diletakkan.