Elegi perajin tahu yang menolak menyerah

antaranews.com
6 jam lalu
Cover Berita
Kulon Progo (ANTARA) - Di sudut-sudut Kalurahan Tuksono, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, saat kabut pagi masih memeluk lereng-lereng perbukitan, suara mesin penggilingan kedelai telah lebih dulu menderu.

Deru mesin itu adalah sebuah simfoni kehidupan, sebuah nyanyian konstan yang tetap bersahutan di tengah riuhnya pasar yang kian mencekik.

Meski harga kedelai yang menjadi bahan baku utama dari tahu-tahu yang mereka produksi telah melonjak menembus angka Rp10.700 per kilogram, para perajin di desa itu tetaplah serupa akar pohon yang menghujam bumi; teguh meski diterpa badai yang tak kunjung usai.

Bagi mereka, kenaikan harga bukan sekadar angka di atas kertas. Ia adalah beban yang menghimpit, sebuah ujian kesabaran yang datang bersamaan dengan melambungnya harga minyak goreng dan kayu bakar. Namun, di dapur-dapur produksi yang hangat oleh uap air, tidak ada keluh kesah yang meluap menjadi amarah. Yang ada hanyalah kepasrahan yang dibalut dengan keteguhan hati.

Mereka adalah para penjaga tradisi yang menolak untuk mematikan tungku, meski margin keuntungan mereka kian hari kian menipis, seolah tersapu oleh arus zaman yang tak ramah.

Afi, seorang perajin tahu yang telah lama menggantungkan harapannya pada putihnya sari kedelai, menatap masa depan dengan sorot mata yang teduh namun waspada.

Baginya, kenaikan harga bahan baku adalah riak kecil dalam samudra kehidupan usaha yang telah ia jalani bertahun-tahun. Ketakutannya bukanlah pada harga, melainkan pada gempuran persaingan yang kian sengit, di mana tahu-tahu dari tanah lain datang menjajakan diri dengan harga yang lebih ramah. Namun, ia tak lantas menyerah.

"Sekarang yang penting bertahan, usaha tetap jalan," katanya dengan suara setengah berbisik. Dia menyampaikan sebuah kalimat sederhana yang memikul beban tanggung jawab bagi banyak keluarga yang bergantung pada usahanya.


Di balik tembok

Mubari, Ketua Tahu Nunggal Roso, menyatakan perajin yang tergabung dalam organisasi itu merajut asa di tengah dilema yang mencekam.

Ia menuturkan bagaimana harga kedelai yang merayap naik hingga Rp11.000 per kilogram terasa seperti tekanan yang menghimpit napas. Mereka terjebak dalam simalakama; menaikkan harga berarti kehilangan pelanggan, namun membiarkan harga tetap berarti memakan modal sendiri.
Namun, cinta pada pekerjaan tak membiarkan mereka berhenti.

Mereka bersiasat dengan kelembutan yang penuh perhitungan. Mereka memilih mengurangi ketebalan tahu beberapa milimeter, sebuah pengorbanan kecil agar dapur mereka tetap mengepul dan masyarakat tetap bisa menikmati protein terjangkau di meja makan mereka.

Mereka memperketat proses produksi, memungut setiap tetes sari kedelai agar tak ada yang terbuang sia-sia. Bahkan, hasil sampingan seperti ampas tahu diolah dengan kasih sayang agar menjadi pakan ternak atau tempe gembus yang memberikan sedikit napas bagi sisa hari.



Strategi business matching

Pemerintah, melalui suara Iffah Mufidati dari Dinas Perindustrian, Koperasi dan UKM Kulon Progo, mencoba menjadi penyeimbang di tengah gejolak ini. Mereka hadir dengan business matching, sebuah upaya untuk membuka jalan bagi tahu-tahu Tuksono agar bisa melangkah lebih jauh.

Pemerintah memfasilitasi perajin tahu dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Produk tahu dibeli oleh SPPG, sehingga mereka diberdayakan, dan usaha tetap jalan. SPPG yang menyediakan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang ada di Kulon Progo berkomitmen dukung UMKM di lingkungan masing-masing.

Hal ini membawa angin segar dan harapan baru bagi pelaku UMKM untuk mendongkrak usaha dan menggerakkan usaha. Ini adalah business matching untuk menggerakkan UMKM di tengah badai ekonomi.

Pemkab Kulon Progo juga membantu mereka mempromosikan produk ke konsumen. Dinas membuka jaringan pemasaran secara daring. Pelaku UMKM, khususnya perajin tahu bisa memasarkan secara daring. Dinas juga memberikan pelatihan pemasaran secara daring, sehingga mereka mampu berdaya menghadapi pemasaran secara daring.

Senada dengan itu, Bupati Agung Setyawan kini mulai menangkap sinyal keresahan itu, berjanji untuk membawa jeritan hati para perajin ini ke meja kebijakan, mencari celah agar kedelai tak lagi menjadi beban yang melumpuhkan.

Namun, di luar kebijakan dan angka-angka, ada sebuah spirit yang jauh lebih megah. Ada jiwa bisnis yang tak sekadar mencari untung, melainkan tentang menjaga martabat.

Di Tuksono, di tengah kepulan uap air panas dan aroma khas tahu yang segar, para perajin terus memutar mesin mereka. Mereka adalah pejuang yang tidak mengenakan baju zirah, melainkan celemek yang basah oleh keringat.

Matahari terus bersinar, harga terus menari-nari dalam ketidakpastian, namun selama tungku-tungku itu masih menyala, selama jemari-jemari mereka masih dengan teliti mencetak tahu, maka selama itu pula kehidupan di Tuksono akan terus berdenyut.

Mereka bukan sekadar perajin; mereka adalah pelukis kehidupan, yang dengan sabar menjaga agar piring-piring masyarakat tetap terisi, di tengah dunia yang tak selalu memberi ruang bagi mereka untuk bernapas lega.

Inilah kisah tentang ketahanan, tentang tahu yang diciptakan dengan ketulusan, dan tentang dapur yang menolak untuk padam meski dunia di luar sana menuntut biaya yang kian mahal untuk sekadar bertahan hidup.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Jadwal Final dan Link Live Streaming Liga Champions PSG vs Arsenal: Enrique Merendah, Arteta Percaya Diri
• 22 jam laluharianfajar
thumb
23 Tahun Dakwah Kenabian Muhammad, Refleksi Atas Problematika Umat Kekinian
• 6 jam lalurepublika.co.id
thumb
Pegadaian Salurkan 913 Hewan Kurban ke Sejumlah Ponpes di Berbagai Daerah
• 23 jam laludetik.com
thumb
CFD Ditiadakan, Banyak Warga Kecele Olahraga di Bundaran HI Pagi Ini
• 8 jam laludetik.com
thumb
Belajar dari APBN 2025, Wamenkeu Suahasil Paparkan Ketahanan Fiskal dalam Menjaga Defisit di Bawah 3%
• 21 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.