Jembatan Lapuk yang Dibiarkan, Kisah di Balik Tewasnya Dua Warga Austria di Labuan Bajo

kompas.id
8 jam lalu
Cover Berita

Jembatan gantung Cunca Wulang di destinasi pariwisata superprioritas Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, sudah lama lapuk. Tak ada tanda larangan. Ketika J (55) dan A (57), wisatawan asal Austria melangkah di atasnya, papan jembatan itu jebol. Keduanya jatuh dan ditemukan tewas di dasar sungai.

Informasi yang dihimpun Kompas hingga Minggu (31/5/2026) menyebutkan, jembatan itu dibangun tahun 2019 dan sempat direnovasi tahun 2023. Panjang jembatan sekitar 50 meter dengan ketinggian dari permukaan dasar sungai mulai 10 meter sampai 20 meter.

Seorang pemandu wisata yang enggan menyebutkan identitasnya mengungkapkan, pemeliharaan jembatan nyaris tidak dilakukan sejak renovasi dilakukan tahun 2023. Papan kayu yang setiap hari dilewati ratusan pengunjung itu tak juga diganti. Padahal, banyak bagian jembatan yang sudah lapuk.

"Kalau ada turis yang minta saya antar mereka ke sana, saya tidak rekomendasi karena saya khawatir dengan keselamatan mereka. Saya tidak tega. Kalau terjadi apa-apa, saya sebagai pemandu juga ikut bertanggungjawab," katanya.

Minggu (24/5/2026) lalu, J dan A jatuh setelah menginjak papan dengan panjang 1,2 meter, yang diduga sudah lapuk. Tak ada tanda peringatan bahaya. Tempat wisata yang berada di  Desa Cunca Wulang, Kecamatan Mbeliling itu dibuka untuk umum mulai pukul 08.00 sampai 17.00 waktu setempat.

Jembatan gantung dikelola oleh Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Manggarai Barat. Setiap wisatawan yang masuk ditagih bayaran. Untuk wisatawan mancanegara tarifnya Rp 50.000 per orang, sedangkan wisatawan domestik Rp 30.000.

Hasil penjualan tiket dibagi bersama. Untuk wisatawan mancanegara dan wisatawan domestik, Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Manggarai Barat mengambil masing-masing Rp 30.000 dan Rp 20.000 per orang. Selebihnya diberikan kepada pemerintah desa setempat. 

Tahun 2026, pendapatan asli daerah yang disumbang dari tempat wisata itu mencapai Rp 260 juta. Kini, jembatan gantung sementara ditutup untuk kelancaran penyelidikan oleh Polres Manggarai Barat. 

Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Manggarai Barat Petrus Antonius Rasyid pada Minggu siang ini mengatakan, evaluasi kini  berjalan. Berbagai langkah antisipatif mulai dilakukan seperti identifikasi tempat atau spot rawan, lalu dibuatkan tanda larangan yang bisa dilihat para pengunjung.

Petrus tidak merespons pertanyaan seputar pemeliharaan rutin jembatan yang wajib dilakukan. "Terkait dugaan jebol, nanti bisa dikomunikasikan dengan pihak berwajib. Jembatan terakhir direhab tahun 2023," kata dia.

Dalam penyelidikan 

Kepala Bidang Humas Polda NTT Komisaris Besar Henry Novika Chandra mengatakan, kasus kecelakaan yang mengakibatkan meninggalnya dua warga negara Austria masih dalam proses penyelidikan. Tujuannya, untuk mengetahui secara utuh penyebab dan kronologi kejadian tersebut.

Penyidik Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Manggarai Barat, kata dia, telah melakukan olah tempat kejadian serta memeriksa sejumlah pihak terkait. Seluruh keterangan dan temuan di lapangan masih didalami guna menentukan ada atau tidaknya unsur kelalaian dalam peristiwa tersebut.

"Kami memohon dukungan dan doa dari seluruh masyarakat agar proses penyelidikan dapat berjalan dengan lancar, objektif, dan profesional. Perkembangan lebih lanjut akan kami sampaikan sesuai hasil penyelidikan," kata Henry.

Di sisi lain, wisatawan meragukan  standar keselamatan di destinasi pariwisata superprioritas yang kian mengkhawatirkan. Itu terbukti dengan banyaknya kecelakaan baik di darat maupun di laut.

"Namanya pariwisata superprioritas, harusnya standar keselamatan menjadi prioritas. Jangan main-main dengan nyawa orang. Terima uang dari wisatawan, tetapi keselamatan mereka diabaikan," kata Rio (35), warga Kupang yang beberapa kali ke Labuan Bajo.

Ia juga menyoroti keselamatan untuk perjalanan laut di perairan Labuan Bajo yang seringkali jadi lokasi kecelakaan. Pada akhir 2025, satu keluarga asal Spanyol tenggelam. Dua orang ditemukan tewas dan satu korban lainnya masih hilang. Peristiwa tenggelamnya kapal serta jatuhnya J dan A, harus jadi bahan evaluasi.

Jenazah J dan A hingga kini masih tertahan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Labuan Bajo. Charles Christian, Kepala Kantor Imigrasi Kelas II Labuan Bajo pada Sabtu (30/5/2026) mengatakan, pihaknya terus berkoordinasi dengan kementerian luar negeri dan Kedutaan Besar Austria.

Menurut dia, belum ada kepastian kapan jenazah dipulangkan. "Langkah-langkah keluarganya kami tidak tahu. Jarak juga dan beda time zone (juga jadi kendala dalam komunikasi)," kata Charles.

Ia berharap, peristiwa jebolannya jembatan gantung air terjun Cunca Wulang  menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak, terutama pengelola. Seperti julukannya sebagai destinasi pariwisata superprioritas, standar keselamatan di Labuan Bajo wajib superprioritas.

Serial Artikel

Dua Wisatawan Austria Tewas di Cunca Wulang, Keselamatan Wisata Labuan Bajo Disorot

Keamanan destinasi pariwisata Labuan Bajo kembali dipertanyakan. Kasus wisatawan meninggal akibat kecelakaan di destinasi itu kembali terjadi.

Baca Artikel


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Persib Bandung dan Borneo FC Resmi Wakili Indonesia di ASEAN Club Championship Shopee Cup 2026/2027
• 12 jam lalupantau.com
thumb
Negara-Negara Indo-Pasifik Kompak Bersatu Hadapi China, Ada Apa?
• 1 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Sah! Ekspor Sawit, Batu Bara, dan Ferro Alloy Lewat PT DSI Mulai Besok
• 5 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
UMM Wadahi Potensi Gen Z Lewat Kompetisi Nasional PsychoBoost! Vol. 4
• 3 jam lalubisnis.com
thumb
Dedi Mulyadi: Jangan Coba-Coba Lakukan Pemalakan di Jawa Barat
• 4 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.