Semerbak Kopi dari Jalanan Jakarta

kompas.id
2 jam lalu
Cover Berita

Saat ini, bagi masyarakat, ngopi tidak sekadar menyeruput kopi. Ngopi merupakan gaya hidup yang dilakukan sebagian masyarakat, khususnya di kota-kota besar. Namun, di balik puluhan kafe tempat ngopi yang menjamur di Jakarta, terdapat para pedagang kopi keliling yang tidak kalah dalam hal memberikan sajian kopi kelas wahid.

Di balik riuh jalanan dan derap langkah kaki para pekerja yang mengejar kereta dan bus Transjakarta, Ali Wahyudi (45) duduk diam di depan sepeda motornya. Dengan sabar ia memperhatikan manusia serba cepat saat jam pulang kerja. Di antara mereka yang berlalu-lalang ada seorang pekerja yang mendatanginya untuk memesan secangkir kopi manual brew.

Ali dengan sigap menawarkan empat jenis biji kopi dengan berbeda karakter kepada pembeli tersebut. Walau sedikit kebingungan, sang pembeli memilih biji kopi Kerinci. Tangannya yang cekatan langsung memanaskan air sembari menggiling kopi. Sebuah kertas filter pun terpasang di alat V60 yang akan digunakannya. Aroma wangi kopi kerinci menguar di udara saat air panas dituangkan ke atasnya. Satu kopi v60 panas siap disajikan.

Walaupun hanya beralaskan meja kecil seadanya yang dipasangkan di sepeda motornya, kemampuan Ali dalam membuat kopi sudah tidak diragukan lagi. Ia sudah belajar meracik kopi sejak 2016. 

”Waktu itu saya masih menjadi tukang bersih-bersih, lalu ditawari, mau tidak belajar bikin kopi? Saya langsung jawab saja mau. Akhirnya sampai sekarang jadi mata pencarian utama saya,” ucap Ali saat berjualan di kawasan One Satrio, Jalan Mega Kuningan, Jakarta, Selasa (19/5/2026).

Setelah belajar meracik kopi, pria yang memiliki tiga anak ini bekerja menjadi barista di sejumlah kafe di Jakarta. Lalu, pada 2021, ia memutuskan untuk mencoba peruntungan dengan berjualan kopi keliling menggunakan sepeda motor. Pengalaman diusir hingga sepi pembeli sudah pernah ia alami. Walau demikian, ia tidak menyerah dan terus berjualan kopi keliling hingga saat ini.

Keterbatasan tempat membuat Ali hanya dapat menyajikan kopi dengan manual brew untuk para pelanggan. Walau demikian, manual brew buatannya tidak setengah-setengah ia kerjakan. Ali tetap menggunakan biji kopi berkualitas agar rasanya tidak kalah bersaing dengan kafe-kafe di Jakarta.

”Sehari bisa menjual sekitar 10 gelas. Rezeki sudah ditakar, kalau sudah segitu, ya, segitu aja. Makanya saya enggak pernah ngoyo berjualan sampai malam,” ujarnya.

Baca JugaMenyusuri Jejak Koja dari Gang hingga Kuliner

Masdon menyeduh kopi.

KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN

Sepeda tangguh membawa alat kopi.

KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN

Berhati-hati menuangkan air.

KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN

Selain Ali, Masdon (31) pun menerapkan konsep yang sama. Ia menggunakan jalanan sebagai kafe terbuka untuk menikmati kopi. Berbeda dengan Ali yang menggunakan sepeda motor, Masdon dan rekannya dalam gerakan Tanah Mati menggunakan sepeda untuk membawa peralatan kopi. 

”Kami pengin jualan apa saja asal di atas sepeda. Lalu kami memutuskan jualan kopi,” ucap Masdon.

Masdon tidak ingin Kopi Tanah Mati hanya menjadi tempat ngopi biasa. Ia menjadikan tempatnya sebagai ruang untuk siapa pun menyalurkan ekspresi. Tidak sungkan jika tempat kopi jalanan ini mendadak menjadi perpustakaan jalanan ataupun pameran jalanan.

Walaupun demikian, tidak dapat disangkal jika Masdon mencita-citakan kedai beratap untuk menjadi tempat pelanggannya menikmati secangkir kopi. Mimpi besarnya itu mulai ia siapkan sejak saat ini. Diawali dengan sepeda yang ia rakit menjadi kedai kopi berjalan.

”Gagasan yang baik adalah gagasan yang dieksekusi,” katanya.

Baca JugaSecangkir Kopi yang Menghidupkan Pasar Johar
Baca JugaKopi yang Menghidupi Banyak UMKM


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
4 Orang Berhasil Dievakuasi setelah Terjebak Sepekan di Gua Laos yang Terendam Banjir
• 10 jam laluokezone.com
thumb
Aktivis Pertanyakan Sikap BK DPRD Banyuwangi soal Kasus KDRT Anggota Dewan
• 57 menit lalueranasional.com
thumb
Kepala Sekretariat DPP PPP Sorot Intensitas Kehadiran Taj Yasin di Kantor Partai
• 23 jam lalukompas.com
thumb
Demo Anti-ICE di New Jersey Berujung Ricuh, Polisi Tembakkan Gas Air Mata
• 37 menit lalumetrotvnews.com
thumb
Buka Baru, AEON Emporium Pluit Hadirkan Street Food Jepang
• 19 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.