Pantau - Direktur Jenderal World Health Organization (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, mendesak negara-negara yang memberlakukan pembatasan perjalanan dan menutup perbatasan akibat wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo dan Uganda untuk meninjau kembali kebijakan tersebut.
Pernyataan itu disampaikan Tedros pada 30 Mei 2026 di Bunia, ibu kota Provinsi Ituri yang menjadi pusat wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo.
WHO menilai pembatasan perjalanan berpotensi menghambat transparansi dalam pelaporan kasus Ebola dan dapat mempersulit upaya pengendalian wabah yang sedang berlangsung.
Kanada dan Amerika Serikat telah menerapkan pembatasan perjalanan serta penangguhan visa bagi penduduk dari Kongo, Uganda, dan Sudan Selatan dengan alasan wabah Ebola.
Rwanda dan Uganda juga memberlakukan pembatasan perjalanan dari Kongo.
Rwanda melarang warga negara asing yang pernah melakukan perjalanan melalui Kongo dalam 30 hari terakhir untuk memasuki wilayahnya.
WHO Tekankan Pentingnya Solidaritas dan Keterlibatan MasyarakatTedros menegaskan bahwa persatuan dan solidaritas merupakan senjata terbaik dalam menghadapi epidemi Ebola.
WHO meminta agar masyarakat setempat tetap menjadi pusat dari seluruh upaya penanganan wabah strain Bundibugyo Ebola yang saat ini menyebar di wilayah terdampak.
Tedros mengatakan, "Kami tidak datang untuk memberi tahu masyarakat apa yang harus dilakukan. Kami datang untuk mendengarkan. Masyarakat memahami tantangan mereka sendiri dan solusi mereka sendiri. Peran kami adalah mendukung Anda dalam menerapkan solusi tersebut, bersama-sama."
WHO menilai keterlibatan masyarakat lokal menjadi faktor penting dalam membangun kepercayaan publik dan memperkuat efektivitas respons kesehatan di lapangan.
Kasus Ebola Terus Bertambah di Kongo dan UgandaBerdasarkan pembaruan WHO yang dirilis pada Jumat, sedikitnya 134 kasus Ebola terkonfirmasi telah tercatat di Kongo dan Uganda.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 18 orang dilaporkan meninggal dunia akibat Ebola.
Otoritas kesehatan Kongo melaporkan bahwa kasus suspek baru terus ditemukan sejak wabah diumumkan pada 15 Mei 2026.
Jumlah kumulatif kasus yang tercatat kini telah melampaui 1.000 kasus.
WHO menyatakan hingga saat ini belum tersedia vaksin maupun pengobatan yang telah disetujui untuk menangani wabah Bundibugyo Ebola.
Strain Bundibugyo Ebola saat ini terkonsentrasi di tiga provinsi bagian timur Kongo, yakni Ituri, Kivu Utara, dan Kivu Selatan.
WHO menegaskan bahwa transparansi pelaporan, keterlibatan masyarakat lokal, dan kerja sama lintas negara menjadi faktor penting dalam pengendalian wabah Ebola yang sedang berlangsung.




