EtIndonesia.com. Di tengah meningkatnya tekanan dan manuver agresif Partai Komunis Tiongkok (PKT) di Laut Tiongkok Selatan serta Selat Taiwan, Jepang dan Filipina mengambil langkah besar yang jarang terjadi dengan secara terbuka meningkatkan hubungan bilateral mereka. Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi dan Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. pada Kamis (28/5/2026) di Tokyo secara resmi mengumumkan peningkatan hubungan kedua negara menjadi “Kemitraan Strategis Komprehensif”.
Pengumuman tersebut dilakukan pada momen yang sangat sensitif, bertepatan dengan berlangsungnya pertemuan antara Donald Trump dan Xi Jinping. Dalam pertemuan itu, Xi secara langsung mengkritik kebijakan penguatan pertahanan yang didorong Takaichi. Namun Trump tidak mengikuti narasi Beijing, bahkan menegaskan dukungannya terhadap upaya negara-negara sekutu untuk memperkuat kemampuan pertahanan mereka sendiri.
Para analis menilai perkembangan ini menunjukkan munculnya pola baru koordinasi negara-negara Indo-Pasifik dalam menghadapi pengaruh PKT.
Pada 28 Mei, Takaichi dan Marcos Jr. bersama-sama mengumumkan bahwa hubungan Jepang-Filipina resmi ditingkatkan menjadi Kemitraan Strategis Komprehensif. Kedua negara juga sepakat memperdalam kerja sama di bidang militer, keamanan, dan maritim.
Takaichi mengatakan: “Ini mencerminkan tekad kedua negara yang memiliki nilai dan prinsip yang sama untuk terus memperdalam hubungan secara berkelanjutan dan beragam, tanpa terpengaruh oleh perubahan situasi internasional.”
Marcos Jr. menyatakan: “Kami bersama-sama mengumumkan dimulainya perundingan Perjanjian Keamanan Menyeluruh Informasi Militer, serta konsultasi mengenai penetapan batas maritim.”
Kunjungan ini juga menjadi kunjungan kenegaraan resmi pertama seorang pemimpin Filipina ke Jepang dalam lebih dari satu dekade.
Banyak pengamat menilai peningkatan hubungan Jepang dan Filipina secara terbuka ini memiliki pesan strategis yang jelas terhadap PKT.
Dalam beberapa tahun terakhir, Beijing terus meningkatkan tekanan militer di Laut Tiongkok Selatan, Laut Tiongkok Timur, dan Selat Taiwan. Kapal-kapal Filipina dan Tiongkok semakin sering terlibat konfrontasi di wilayah sengketa Laut Tiongkok Selatan, sementara Jepang berulang kali memperingatkan aktivitas militer PKT di sekitar Taiwan.
Kerja Sama Intelijen dan Pertahanan DiperkuatPengamat politik Li Linyi menilai bahwa kunjungan Marcos Jr. menghasilkan dua capaian utama. “Pertama, hubungan kedua negara ditingkatkan menjadi kemitraan strategis komprehensif. Kedua, kerja sama dan pertukaran intelijen ditingkatkan. Kedua hal ini sangat penting untuk membendung ekspansi PKT.”
Sementara itu, penasihat senior dari Taiwan Institute of Japan Studies, Chen Wenjia, mengatakan bahwa kawasan kini mulai menunjukkan kecenderungan koordinasi regional dalam menghadapi PKT.
“Kerja sama Jepang dan Filipina kini tidak lagi terbatas pada penjaga pantai, tetapi telah meluas ke latihan militer bersama, berbagi intelijen, hingga kerja sama peralatan pertahanan. Yang paling dikhawatirkan PKT bukanlah perlawanan dari satu negara, melainkan terbentuknya efek pengepungan terkoordinasi di sepanjang Rantai Pulau Pertama,” katanya.
Rantai Pulau Pertama Dinilai Semakin SolidPara analis menunjukkan bahwa posisi geografis Jepang dan Filipina memiliki arti strategis yang sangat penting.
Jepang berada di sisi utara Laut Tiongkok Timur dan Selat Taiwan, sementara Filipina menguasai jalur strategis di Selat Bashi dan bagian utara Laut Tiongkok Selatan. Kedua negara membentuk titik-titik kunci dalam konsep Rantai Pulau Pertama, yang selama ini dianggap sebagai garis pertahanan utama untuk membatasi pergerakan militer PKT ke Samudra Pasifik.
Chen Wenjia menambahkan: “Jika kerja sama keamanan antara Amerika Serikat dan Filipina semakin terlembagakan, Angkatan Laut PKT akan menghadapi pengawasan dan tekanan yang lebih besar saat beroperasi di Pasifik Barat. Inilah sebabnya PKT terus memperkuat kehadiran militernya di Laut Tiongkok Selatan dan Selat Taiwan, karena khawatir Rantai Pulau Pertama perlahan berkembang menjadi jaringan keamanan yang menyerupai aliansi.”
Menurutnya, dinamika keamanan di kawasan Indo-Pasifik ke depan akan semakin menyerupai persaingan strategis yang melibatkan banyak negara secara bersamaan, bukan sekadar konfrontasi langsung antara Amerika Serikat dan Tiongkok.
Laporan oleh Yi Xin dan Chang Chun, NTD Television





