Harga Minyak Dunia Anjlok 20 Persen dari Puncaknya, Pasar Bertaruh pada Perdamaian AS-Iran

viva.co.id
5 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Harga minyak dunia mengalami penurunan tajam setelah pasar semakin optimistis terhadap peluang tercapainya gencatan senjata jangka panjang antara Amerika Serikat dan Iran. Harapan tersebut memicu keyakinan bahwa jalur pelayaran energi penting di Selat Hormuz dapat kembali dibuka secara lebih luas.

Pada perdagangan terakhir bulan ini, harga minyak mentah Brent turun 1,2 persen menjadi US$92,56 per barel atau sekitar Rp1,65 juta per barel dengan asumsi kurs Rp17.800 per dolar AS.

Baca Juga :
Harga Minyak Dunia Terkapar Pekan Ini, Investor Pantau Drama AS vs Iran
Serangan Baru AS ke Iran Bikin Harga Minyak Dunia Meroket

Penurunan tersebut memperpanjang tren pelemahan sepanjang Mei. Secara bulanan, harga Brent telah merosot hampir 19 persen dan mencatat kinerja bulanan terburuk sejak pandemi Covid-19. Jika dibandingkan dengan puncak harga yang tercapai pada 2026, Brent kini telah terkoreksi sekitar 20 persen.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat juga mengalami tekanan. Harga kontrak berjangka WTI turun hampir 1,9 persen menjadi US$87,18 per barel atau sekitar Rp1,55 juta per barel. Secara bulanan, harga WTI telah melemah sekitar 16,5 persen.

Meski demikian, harga minyak masih berada jauh di atas level sebelum konflik pecah pada akhir Februari lalu. Sejak perang dimulai, pasar energi global mengalami gejolak besar akibat terganggunya distribusi minyak melalui Selat Hormuz.

Pasar kini mulai melihat peluang meredanya ketegangan setelah Amerika Serikat dan Iran dikabarkan telah 'sebagian besar menyepakati' ketentuan dalam memorandum kesepahaman berdurasi 60 hari untuk memperpanjang gencatan senjata.

Namun, kesepakatan tersebut masih menunggu persetujuan akhir dari Presiden AS, Donald Trump. Meski prospek perdamaian kembali muncul, situasi di lapangan masih jauh dari kata stabil. Pada Kamis lalu, pasukan Iran dilaporkan menembakkan rudal balistik ke Kuwait serta mengirim drone serang ke arah Selat Hormuz.

Kondisi tersebut membuat sejumlah analis tetap berhati-hati dalam menilai prospek pemulihan pasokan energi global. Bank investasi UBS menyatakan masih terdapat "sedikit bukti" yang menunjukkan adanya perbaikan jangka pendek terhadap lalu lintas kapal maupun arus energi di kawasan tersebut.

Menurut analis UBS yang dipimpin Henri Patricot, aktivitas pemuatan minyak mentah di kawasan Teluk masih berada pada level yang sangat rendah. Data UBS menunjukkan pemuatan minyak mentah Iran selama Mei berada di bawah 300 ribu barel per hari. 

Baca Juga :
Harga Emas Hari Ini 25 Mei 2026: Antam Meroket, Produk Global Kinclong
Harga Minyak Dunia Ambles 5 Persen, Pasar Percaya Perang AS-Iran Segera Berakhir
Provinsi Kaya Minyak Ini Siap Merdeka

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Waspada Potensi Banjir Rob di Pesisir Bali hingga 5 Juni 2026
• 4 jam laluliputan6.com
thumb
Belum Jadi Ibu Kota RI, IKN Sudah Diguyur Uang Investor Segini
• 11 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Fokus AFF Cup 2026, Timnas Indonesia Gelar TC Intensif 20 Hari di Bali
• 23 jam lalumedcom.id
thumb
Jamaah Haji Asal Bangkalan Tak Terima Makanan di Mina, Kemenhaj Beri Penjelasan
• 7 jam laluidxchannel.com
thumb
Hasil Final Singapore Open 2026: Fajar/Fikri Kalah, Gagal Rebut Gelar Juara Perdana Tahun Ini
• 54 menit lalukompas.tv
Berhasil disimpan.