Jakarta, VIVA – Harga minyak dunia mengalami penurunan tajam setelah pasar semakin optimistis terhadap peluang tercapainya gencatan senjata jangka panjang antara Amerika Serikat dan Iran. Harapan tersebut memicu keyakinan bahwa jalur pelayaran energi penting di Selat Hormuz dapat kembali dibuka secara lebih luas.
Pada perdagangan terakhir bulan ini, harga minyak mentah Brent turun 1,2 persen menjadi US$92,56 per barel atau sekitar Rp1,65 juta per barel dengan asumsi kurs Rp17.800 per dolar AS.
Penurunan tersebut memperpanjang tren pelemahan sepanjang Mei. Secara bulanan, harga Brent telah merosot hampir 19 persen dan mencatat kinerja bulanan terburuk sejak pandemi Covid-19. Jika dibandingkan dengan puncak harga yang tercapai pada 2026, Brent kini telah terkoreksi sekitar 20 persen.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat juga mengalami tekanan. Harga kontrak berjangka WTI turun hampir 1,9 persen menjadi US$87,18 per barel atau sekitar Rp1,55 juta per barel. Secara bulanan, harga WTI telah melemah sekitar 16,5 persen.
Meski demikian, harga minyak masih berada jauh di atas level sebelum konflik pecah pada akhir Februari lalu. Sejak perang dimulai, pasar energi global mengalami gejolak besar akibat terganggunya distribusi minyak melalui Selat Hormuz.
Pasar kini mulai melihat peluang meredanya ketegangan setelah Amerika Serikat dan Iran dikabarkan telah 'sebagian besar menyepakati' ketentuan dalam memorandum kesepahaman berdurasi 60 hari untuk memperpanjang gencatan senjata.
Namun, kesepakatan tersebut masih menunggu persetujuan akhir dari Presiden AS, Donald Trump. Meski prospek perdamaian kembali muncul, situasi di lapangan masih jauh dari kata stabil. Pada Kamis lalu, pasukan Iran dilaporkan menembakkan rudal balistik ke Kuwait serta mengirim drone serang ke arah Selat Hormuz.
Kondisi tersebut membuat sejumlah analis tetap berhati-hati dalam menilai prospek pemulihan pasokan energi global. Bank investasi UBS menyatakan masih terdapat "sedikit bukti" yang menunjukkan adanya perbaikan jangka pendek terhadap lalu lintas kapal maupun arus energi di kawasan tersebut.
Menurut analis UBS yang dipimpin Henri Patricot, aktivitas pemuatan minyak mentah di kawasan Teluk masih berada pada level yang sangat rendah. Data UBS menunjukkan pemuatan minyak mentah Iran selama Mei berada di bawah 300 ribu barel per hari.





