Bulan purnama yang terbit pada Minggu (31/5/2026) petang ini bukanlah Bulan purnama biasa. Dia adalah ”Blue Moon” atau Bulan biru yang terjadi setiap dua hingga tiga tahun sekali. Meski purnama tersebut dijuluki Bulan biru, cahaya Bulan sama sekali tidak berwarna biru. Cahaya Bulan akan tetap berwarna kuning cerah seperti Bulan purnama biasanya.
Bulan purnama yang terjadi pada Minggu petang ini akan berlangsung bersamaan dengan puncak perayaan hari raya Tri Suci Waisak 2570 yang dirayakan seluruh umat Buddha di Indonesia. Bulan purnama ini akan mencapai puncak atau saat lingkarang Bulan 100 persen memantul cahaya ke Bumi pada hari Minggu ini, pukul 08.45 waktu universal (UT) atau 15.45 WIB.
Tak hanya itu, Bulan purnama kali ini juga berlangsung bersamaan dengan fenomena Bulan biru (blue moon). Meski namanya Bulan biru, warna Bulan tidak akan berubah atau tidak akan tampak menjadi biru. Warna Bulan purnama tetap akan kuning cerah seperti pada Bulan purnama sebelumnya.
Julukan Bulan biru, seperti dikutip dari Time and Date, merujuk kepada dua definisi, yaitu Bulan biru bulanan (monthly blue moon) dan Bulan biru musiman (seasonal blue moon). Bulan biru bulanan adalah jenis Bulan biru yang paling dikenal masyarakat, yaitu peristiwa saat dua Bulan (moon) purnama terjadi dalam satu bulan (month) dalam kalender Masehi, dan Bulan purnama kedua itulah yang dinamai Bulan biru.
Sementara Bulan biru musiman adalah Bulan purnama ketiga dari empat Bulan purnama yang terjadi dalam satu musim astronomi, khususnya di negara-negara yang memiliki empat musim dalam setahun. Waktu awal dan akhir musim astronomi berpatokan pada posisi Matahari saat berada di khatulistiwa dan di titik balik utara atau selatan sebagai konsekuensi dari gerak semu Matahari. Periode musim astronomi itu dengan periode musim meteorologi yang menggunakan acuan waktu dalam kalender.
Saat ini, negara-negara di belahan Bumi utara sedang mengalami musim semi. Dalam musim astronomi 2026, musim semi berlangsung dari 20 Maret 2026 saat Matahari berada di atas khatulistiwa hingga saat Matahari berada di titik balik utara pada 21 Juni 2026. Sementara musim semi meteorologi terjadai setiap tahun, dimulai dari 1 Maret hingga 31 Mei.
Bulan purnama kali ini juga berlangsung bersamaan dengan fenomena Bulan biru (’blue moon’). Meski namanya Bulan biru, warna Bulan tidak akan berubah atau tidak akan tampak menjadi biru. Warna Bulan purnama tetap akan kuning cerah seperti pada Bulan purnama sebelumnya.
Berdasarkan ukuran di atas maka Bulan purnama Minggu (31/5) termasuk Bulan biru bulanan. Selama bulan Mei 2026, berlangsung dua kali Bulan purnama yaitu pada 2 Mei 2026 dan 31 Mei 2026. Karena Bulan purnama yang dijuluki sebagai Bulan biru adalah Bulan purnama kedua dalam satu bulan tersebut, maka purnama 31 Mei 2026-lah yang disebut Bulan biru.
Namun, Bulan purnama Minggu (31/5) tidak termasuk Bulan biru musiman. Antara 20 Maret 2026 hingga 21 Juni 2026, hanya terjadi tiga Bulan purnama yaitu pada Bulan purnama 2 April, 2 Mei, dan 31 Mei 2026. Bulan purnama berikutnya terjadi pada 30 Juni 2026 atau saat musim semi astronomi sudah berakhir dan memasuki musim panas astronomi.
Jadi, Bulan biru 31 Mei 2026, yang terjadi sekarang, adalah Bulan biru bulanan, bukan Bulan biru musiman.
Meski istilah Bulan biru populer di media sebagai sarana untuk mengenalkan fenomena alam kepada masyarakat, tetapi dua definisi Bulan biru itu hingga kini tidak jelas asal usulnya atau sejak kapan istilah itu mulai digunakan. Hal yang pasti, istilah “Bulan biru”, setidaknya yang digunakan sekarang, bukan berarti cahaya Bulan purnama yang kuning cerah akan berubah menjadi biru.
Namun, cahaya Bulan tetap bisa berubah warnanya menjadi biru akibat perubahan kondisi di atmosfer Bumi, tidak ada hubungannya dengan kalender atau fase Bulan purnama seperti maknanya sekarang. Cahaya Bulan akan berubah menjadi biru jika atmosfer Bumi dipenuhi oleh asap dan abu sisa letusan gunung berapi, tetesan air di udara, atau ada jenis awan tertentu yang membuat cahaya Bulan yang kuning cerah menjadi berwarna biru.
Walau demikian, Bulan yang cahayanya benar-benar berwarna biru adalah persitiwa yang sangat langka. Kondisi ini, seperti catatan National Geographic, 27 Mei 2026, pernah terjadi pada 1883 pascaletusan Gunung Krakatau di Selat Sunda, Indonesia yang membuat banyak pengamat di seluruh dunia melaporkan cahaya Bulan purnama berubah menjadi biru.
Cahaya Bulan tetap bisa berubah warnanya menjadi biru akibat perubahan kondisi di atmosfer Bumi, tidak ada hubungannya dengan kalender atau fase Bulan purnama seperti maknanya sekarang.
Letusan Krakatau saat itu, seperti ditulis kolumnis Joe Rao di Space, 16 Januari 2026, menyebabkan debu dan material gunung berapi terlempar hingga ketinggian 80 kilometer di atmosfer Bumi. Partikel letusan Gunung Krakatu itu membuat cahaya dalam panjang gelombang panjang. Seperti cahaya merah atau oranye justru dihampurkan. Panjang gelombang pendek, seperti biru, justru diteruskan. Akibatnya, cahaya Bulan pun berubah menjadi biru.
Peristiwa serupa juga dilaporkan pernah terjadi saat letusan Gunung El Chichon di Meksiko pada tahun 1983, letusan Gunung St Helens di negara bagian Washington, Amerika Serikat, pada 1980; dan letugas Gunung Pinatubo di Filipina pada 1991. Semua letusan ini membuat cahaya Bulan tampak berwarna kebiruan.
Seiring waktu, penggunaan istilah Bulan biru mengalami pergeseran hingga bermakna seperti sekarang. Ahli tradisi lisan Universitas Memorial Newfoundland, Kanada, Philip Hiscock, di situs Perkumpulan Planetarium Internasional (IPS) pada 1999 yang meneliti asal usul istilah Bulan biru hingga 400 tahun yang lalu menyebut bahwa dulunya, istilah Bulan biru digunakan untuk menjelaskan sesuatu yang tidak masuk akal dan mustahil terjadi.
Berikutnya, definisi Bulan biru musiman dapat ditelusuri penggunaannya dalam Almanak Petani Maine yang digunakan petani Amerika Utara sejak awal abad ke-19 dan sekarang sudah tidak ada lagi.
Dalam almanak tersebut disebutkan bahwa keberadaan Bulan purnama ke-13 dalam satu tahun kalender Masehi mengganggu urutan perayaan gereja. Selain itu, angka 13 juga dianggap sebagai angka sial. Kerumitan itu dalam menentukan waktu Bulan purnama itu akhirnya membuat Bulan purnama ke-13 diberi sebutan Bulan biru.
Keberadaan Bulan-Bulan purnama itu menjadi acuan bagi gereja dalam menentukan perayaan Pra-Paskah dan Hari Raya Paskah. Seperti dikutip dari Time and Date, bulan (month) Pra-Paskah wajib mengandung Bulan purnama terakhir di musim dingin. Sedangkan pada bulan Paskah harus ada Bulan purnama pertama di musim semi yang jatuh tepat sebelum perayaan Paskah.
Dulunya, istilah Bulan biru digunakan untuk menjelaskan sesuatu yang tidak masuk akal dan mustahil terjadi.
Penamaan Bulan purnama ketiga dalam satu musim astronomi sebagai Bulan biru itu untuk memastikan bahwa perayaan Pra-Paskah dan Paskah terjadi pada fase Bulan (moon) yang tepat. Dengan demikian, berbagai perayaan umat Kristiani itu akan senantiasa berlangsung di waktu yang tepat.
Sementara itu, definisi Bulan biru bulanan yang lebih dikenal sekarang sebagai Bulan purnama kedua dalam satu bulan kalender Masehi berasal dari salah tafsir yang dibuat astronom amatir AS James Hugh Pruett (1886-1955) dalam majalah Sky & Telescope tahun 1946. Kesalahan tersebut menyebar luas dan dianggap sebagai fakta hingga akhir kesalahan itu diadopsi bidang-bidang lain untuk menjelaskan soal Bulan biru.
Meski berawal dari kesalahan, kini definisi Bulan biru bulanan bukan lagi dianggap sebagai kesalaan.
Adapun agar bisa terjadi fenomena Bulan biru bulanan, maka Bulan purnama harus terjadi di awal bulan sehingga Bulan purnama berikutnya bisa terjadi di akhir bulan. Kondisi itu diperlukan karena jarak antara dua Bulan purnama secara berurutan adalah sekitar 29,5 hari atau sedikit lebih pendek dari umur sebagian besar bulan dalam kalender Masehi yang mencapai 30 atau 31 hari, kecuali untuk bulan Februari.
Bulan biru musiman terjadi lebih jarang lagi dibanding Bulan biru bulanan. Dalam 1.100 tahun antara tahun 1550 hingga 2650, Time and Date menyebut terdapat 408 kali Bulan biru musiman dan 456 kali Bulan biru bulanan. Artinya, masing-masing jenis Bulan biru itu kira-kira terjadi setiap 2 hingga 3 tahun sekali.
Seperti dikutip dari Royal Museums Greenwich, jika 31 Mei 2026 adalah Bulan biru bulanan, maka Bulan biru bulanan berikutnya akan terjadi pada 31 Desember 2028. Di antara keduanya, akan terjadi Bulan biru musiman pada 20 Mei 2027 yang terjadi di musim semi untuk belahan Bumi utara.
Dalam 1.100 tahun antara tahun 1550 hingga 2650, Time and Date menyebut terdapat 408 kali Bulan biru musiman dan 456 kali Bulan biru bulanan. Artinya, masing-masing jenis Bulan biru itu kira-kira terjadi setiap 2 hingga 3 tahun sekali.
Sementara itu, untuk bulan Februari yang panjangnya 28 hari untuk tahun basit dan 29 hari untuk tahun kabisat yang terjadi setiap 4-8 tahun sekali, bisa jadi tidak pernah ada Bulan purnama sama sekali dalam bulan tersebut. Saat fenomena ini terjadi, maka bulan Februari tersebut disebut Bulan hitam yang merupakan kebalikan dari fenomena Bulan biru. Bulan hitam akan terjadi jika di masing-masing bulan Januari dan Maret yang mengapit bulan Februari memiliki Bulan biru bulanan.
Terjadinya Bulan biru di bulan Januari dan Maret itu disebut juga sebagai fenomena Bulan biru ganda dan lebih jarang terjadi. Dalam 100 tahun, Bulan biru ganda akan terjadi 3-5 kali saja. Bulan biru ganda terakhir terjadi tahu 2018 lalu, yaitu pada 2 Januari 2018 dan 31 Januari 2018. Bulan biru ganda berikutnya baru akan terjadi pada 2037, yaitu saat Bulan biru bulanan terjadi pada Maret 2037 dengan Bulan purnama terjadi pada 2 Maret 2037 dan 31 Maret 2037.
Jadi, jangan lewatkan Bulan biru yang tidak biru, pada hari Minggu (31/5/2026) ini, sambil berkumpul bersama keluarga dan teman…





