Negosiasi Damai Meruncing: Trump Perketat Syarat, Iran Tegas Menolak

detik.com
2 jam lalu
Cover Berita
Jakarta -

Presiden AS Donald Trump berupaya mengubah beberapa persyaratan dalam usulan proposal untuk mengakhiri perang di Timur Tengah. Namun Kepala Negosiator Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf menyebut Iran tak akan menyetujui kesepakatan apapun dengan AS jika gagal menjamin hak rakyat Iran.

Dilansir AFP, Minggu (31/5/2026), Trump dilaporkan berupaya mengubah beberapa syarat dalam usulan proposal untuk mengakhiri perang di Timur Tengah.

The New York Times melaporkan perubahan yang dilakukan Trump melibatkan penguatan persyaratan kesepakatan. AS juga telah mengirimkan kerangka kerja baru tersebut kembali untuk dipertimbangkan oleh Iran. Hal itu disampaikan para pejabat yang mengetahui proses tersebut.

Laporan tersebut mengungkap belum jelas apa saja perubahan yang dimaksud. Akan tetapi situs berita Axios melaporkan bahwa Trump ingin memperkuat beberapa poin dalam kesepakatan yang menurutnya penting, seperti apa yang dilakukan terhadap material nuklir Iran.

Baca juga: Menhan AS Ancam Iran, Perang Bisa Berlanjut Jika Tak Ada Kesepakatan

Perubahan baru ini dapat memperpanjang negosiasi antara kedua pihak selama beberapa hari sebelum keputusan tercapai mengenai apakah kesepakatan tersebut akan mengakhiri perang yang dimulai setelah AS dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari.

Sementara itu, sumber AS mengatakan kepada AFP bahwa proposal tersebut telah menunggu persetujuan Trump, tetapi ia tidak membuat keputusan setelah pertemuan di Ruang Situasi Gedung Putih pada hari Jumat.

Trump mengatakan prioritasnya untuk kesepakatan apa pun termasuk kesepakatan Iran untuk tidak pernah mengembangkan senjata nuklir dan pembukaan kembali Selat Hormuz yang diblokade, yang dilalui oleh sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.

Penegasan Iran

Sementara itu, Kepala negosiator Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengatakan bahwa Teheran tidak akan menyetujui kesepakatan apa pun dengan Amerika Serikat yang gagal menjamin hak-hak rakyat Iran. Iran mengaku tidak akan mempercayai janji AS.

"Kami tidak akan menyetujui perjanjian apa pun sampai kami yakin bahwa hak-hak rakyat Iran telah ditegakkan," kata Ghalibaf, dalam siaran video di televisi pemerintah.

Ia menambahkan bahwa para negosiator Iran "tidak mempercayai kata-kata musuh maupun janji-janjinya."

Baca juga: Israel Klaim Rebut Kastil Beauford di Lebanon, Bendera Dikibarkan

Pernyataan Ghalibaf muncul ketika Iran dan Washington terus bertukar proposal mengenai kerangka kerja untuk kesepakatan guna mengakhiri perang yang meletus pada 28 Februari, yang melanda Timur Tengah.

Pada hari Sabtu, media The New York Times dan Axios melaporkan bahwa Presiden AS Donald Trump telah mengirimkan kembali ke Teheran kerangka kerja baru untuk dipertimbangkan oleh Iran dengan persyaratan yang "lebih keras". Belum jelas apa yang dimaksud dengan hal tersebut.

Iran memandang pencabutan sanksi dan pelepasan asetnya yang dibekukan di bank-bank di luar negeri sebagai salah satu hak utamanya yang harus dijamin dalam kesepakatan apa pun dengan Amerika Serikat.

Simak juga Video 'Di Balik Ketegangan Baru AS dan Iran: Rincian Syarat dari Trump-Respons Teheran':




(yld/knv)

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Juara Liga Tapi Dicekal FIFA, Persib Perpanjang Daftar Klub Indonesia yang Tersandung Sanksi
• 16 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Kemhan gelar penghormatan terakhir untuk Ryamizard Ryacudu pada Senin
• 2 jam laluantaranews.com
thumb
Ole Romeny, Kevin Diks, Emil Audero, hingga Ragnar Oratmangoen Sudah Gabung Timnas Indonesia untuk FIFA Matchday Juni 2026
• 7 jam lalubola.com
thumb
SDA Akui Pipa Air Jakarta Termakan Usia: Harus Ada Pengecekan
• 15 jam lalukumparan.com
thumb
Menyusuri Labirin Seribu Pintu dan Jejak Ikhtiar yang Belum Usai
• 1 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.