Tak Sekadar Kerajinan, Anyaman Rotan Jadi Cara Anak Muda Merawat Identitas Dayak

viva.co.id
5 jam lalu
Cover Berita

Pakangka Raya, VIVA – Di tengah maraknya aktivitas digital yang mendominasi keseharian anak muda, sebuah pemandangan berbeda justru menarik perhatian pengunjung di sebuah pusat perbelanjaan. Belasan pelajar dan mahasiswa tampak duduk bersila di atas tikar sambil fokus merangkai bilah-bilah rotan menjadi berbagai bentuk anyaman yang sarat nilai budaya.

Kegiatan tersebut berlangsung dalam rangkaian Festival Pesona Tambun Bungai 2026 yang digelar di Duta Mall, Palangka Raya. Berbeda dari kompetisi modern yang identik dengan teknologi, ajang ini menghadirkan keterampilan tradisional sebagai pusat perhatian melalui Lomba Merajut Rotan.

Baca Juga :
Warga Dayak Tolak Meratus Dijadikan Taman Nasional, Minta DPR Berikan Solusi
Aruma, Mahasiswi ITB Ciptakan Gitar dari Rotan dan Raih Lulusan Terbaik

Suara gesekan rotan yang saling bertaut menciptakan suasana unik di tengah hiruk-pikuk pusat perbelanjaan. Banyak pengunjung berhenti sejenak untuk menyaksikan proses pembuatan anyaman yang dilakukan para peserta dengan penuh konsentrasi.

Lomba ini tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga wadah untuk memperkenalkan kembali warisan budaya Dayak kepada generasi muda. Rotan yang selama ini dikenal sebagai bahan baku berbagai produk kerajinan tampil sebagai simbol identitas budaya yang masih hidup dan terus diwariskan.

Salah satu dewan juri, Amelia Agustia, menilai antusiasme peserta menjadi sinyal positif bagi keberlangsungan budaya lokal di masa depan.

"Melihat anak-anak muda ini memegang rotan dengan penuh kebanggaan adalah sebuah harapan besar bagi masa depan kebudayaan kita," ujar Amelia Agustia, Jumat, 29 Mei 2026.

Menurut Amelia, setiap anyaman yang dihasilkan bukan sekadar kerajinan tangan biasa. Di balik setiap simpul dan pola yang terbentuk, terdapat cerita panjang tentang tradisi, nilai kehidupan, serta identitas masyarakat Dayak yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Sebagai pemilik Indang Apang Galeri, Amelia melihat rotan memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar komoditas ekonomi. Baginya, bahan alam tersebut menjadi media yang mampu menghubungkan generasi muda dengan akar budaya mereka.

"Melihat ketangguhan mereka hari ini, kita tahu estafet kebudayaan ini berada di tangan yang tepat," ungkap Amelia Agustina di sela-sela penilaian.

Kompetisi merajut rotan tahun ini dibagi ke dalam dua kategori, yakni kategori pelajar dan kategori umum. Kedua kategori menghadirkan persaingan yang cukup ketat karena para peserta menunjukkan kemampuan yang beragam dalam mengolah rotan menjadi karya bernilai seni.
Pada kategori pelajar, Jeremy berhasil meraih posisi Juara 1 setelah dinilai mampu menghasilkan karya terbaik. Posisi Juara 2 diraih Aldini, sementara Marselya menempati posisi Juara 3. Untuk kategori harapan, Naira dan Renata masing-masing memperoleh gelar Harapan 1 dan Harapan 2.

Baca Juga :
Jeritan Pengusaha Rotan Cirebon, Terjepit Kebijakan Tarif Impor Trump
Gibran Kunjungan ke Kalteng, MADN: Sinyal Kuat Keberlanjutan Pembangunan 
Ini Tokoh Dayak yang Berdoa Pertama Kali di Titik 0 Pembangunan IKN

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Prihantini Beri Klarifikasi dan Surat Pernyataan Terkait Pencatutan Nama Dosen dalam Riset: Saya Mohon Maaf
• 21 jam lalutvonenews.com
thumb
Kasus Chromebook, Publik Diajak Fokus pada Fakta Persidangan
• 10 jam laluokezone.com
thumb
Polisi Tangkap Suami Istri Pemilik WO di Jaktim Diduga Lakukan Penipuan
• 13 jam laluliputan6.com
thumb
Muncul Fenomena Ini, Nyari Kerjaan di RI Lagi Sulit
• 16 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Terungkap! 4 Orang Sekeluarga Tewas di Posong Temanggung Dikenal Hobi Kamping
• 10 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.