EtIndonesia.com Pada Jumat (29/5/2026), Presiden AS Donald Trump menggelar rapat selama lebih dari dua jam di Situation Room Gedung Putih. Namun, hingga rapat berakhir, belum ada keputusan mengenai apakah Amerika Serikat akan menandatangani perjanjian gencatan senjata terbaru dengan Iran. Gedung Putih mengonfirmasi bahwa kedua pihak sedang membahas sebuah nota kesepahaman (MoU) gencatan senjata selama 60 hari, tetapi masih terdapat perbedaan pendapat mengenai sejumlah isu, termasuk pencairan dana Iran yang dibekukan. Di sisi lain, Amerika Serikat mengumumkan pencabutan blokade laut terhadap Iran, sekaligus menyita aset kripto Iran senilai sekitar 1 miliar dolar AS.
Laura Trump bertanya: “Apakah ada garis merah tertentu yang, jika dilanggar Iran, akan membuat Anda kembali melancarkan operasi militer?”
Presiden Trump menjawab: “Kesepakatan yang merugikan kami adalah garis merah terakhir.”
Dalam wawancara tersebut, Trump kembali menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak akan menerima perjanjian yang dianggap tidak memuaskan.
Pada Jumat, Trump juga mengunggah pernyataan yang mengutip isi nota kesepahaman gencatan senjata 60 hari yang sebelumnya dikonfirmasi Gedung Putih. Ia menegaskan:
“Iran harus berkomitmen untuk tidak pernah memiliki senjata atau bom nuklir. Selat Hormuz harus segera dibuka tanpa biaya transit guna menjamin kebebasan pelayaran dua arah. Seluruh ranjau laut juga harus disingkirkan.”
Mengenai uranium yang diperkaya dan disimpan jauh di bawah tanah, Trump menekankan bahwa material tersebut akan dipindahkan dan dimusnahkan melalui koordinasi antara Teheran dan Badan Energi Atom Internasional (IAEA).
Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional, Rafael Grossi, mengatakan kepada Financial Times bahwa Kazakhstan telah menyatakan kesediaannya untuk menerima cadangan uranium dengan tingkat pengayaan tinggi tersebut apabila Amerika Serikat dan Iran berhasil mencapai kesepakatan mengenai program nuklir Iran.
Trump juga mengumumkan bahwa seiring dicabutnya blokade laut oleh militer AS terhadap Iran, kapal-kapal yang sebelumnya tertahan kini dapat kembali berlayar pulang secara bertahap.
Sebelumnya pada hari yang sama, kepala negosiator Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan melalui media sosial bahwa Teheran tidak mempercayai janji maupun pernyataan lisan pihak lawan, melainkan hanya akan menilai berdasarkan tindakan nyata.
Lembaga pemantau pelayaran TankerTrackers melaporkan pada Jumat bahwa sebuah kapal tanker minyak raksasa jenis VLCC terlihat memuat sekitar dua juta barel minyak mentah di fasilitas lepas pantai Iran.
Trump mengatakan: “Saya melangkah secara bertahap, dan kita akan lihat hasilnya. Itulah yang saya lakukan, saya bernegosiasi. Mereka (Iran) juga bernegosiasi. Mereka adalah negosiator yang sangat cakap dan sangat licik. Namun pada akhirnya kami memegang semua kartu, karena kami telah mengalahkan mereka secara militer.”
Trump menegaskan bahwa rapat di Situation Room pada Jumat dimaksudkan untuk mengambil keputusan akhir terkait kesepakatan dengan Iran. Ia juga menambahkan bahwa hingga ada pemberitahuan lebih lanjut, tidak akan ada transaksi dana apa pun antara kedua pihak.
Namun, pada Jumat malam, seorang pejabat AS mengungkapkan bahwa rapat di Situation Room berlangsung sekitar dua jam dan berakhir tanpa keputusan mengenai perjanjian nuklir baru dengan Iran. Kedua pihak masih berselisih dalam sejumlah isu, termasuk pencairan aset Iran yang dibekukan.
Sementara itu, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengumumkan dalam Forum Ekonomi Nasional Reagan bahwa pemerintah AS telah menyita aset kripto Iran senilai sekitar 1 miliar dolar AS.
Penyitaan tersebut dipandang sebagai perkembangan penting dalam upaya Amerika Serikat untuk terus memutus jaringan pendanaan ilegal Iran dan menekan penggunaan aset digital sebagai sarana menghindari sanksi internasional.
Sumber : NTDTV.com





