Jawara Beton Lapas Tangerang, di antara pembinaan dan harapan

antaranews.com
8 jam lalu
Cover Berita
Jakarta (ANTARA) - Hanya tersisa satu tahun lagi hingga Serbau Bin Herman (39), atau yang akrab disapa Abu, akan bebas dari Lapas Kelas I Tangerang, Banten. Terpidana kasus penganiayaan berat ini memang cenderung tertutup saat membahas detail perkara pidana yang menjebloskannya ke penjara selama 12 tahun.

Namun, Abu justru terbuka menceritakan pengalaman barunya menjalani pembinaan di balik jeruji besi. Ia kini dipercaya menjadi mandor dalam program "Jawara Beton", khususnya di bagian perakitan besi, yang melibatkan 10 warga binaan lainnya. Kepercayaan ini diberikan lantaran Abu memiliki keahlian sebagai pekerja konstruksi sebelum masuk lapas.

Sudah enam bulan terakhir, Abu mengisi hari-harinya dengan merakit besi untuk produk konstruksi Jawara Beton. Bersama rekan-rekan sesama warga binaan, ia mampu memproduksi hingga 100 unit besi per hari. Kegiatan kerja ini berlangsung dari pukul 08.00 WIB hingga 17.30 WIB, dengan waktu istirahat di siang hari.

Sebelum ada program Jawara Beton, Abu pernah mengikuti pembinaan pertanian. Namun, karena jadwalnya tidak penuh sepanjang hari, ia merasa kurang tertantang. Situasi berubah sejak ia pindah ke program konstruksi; kini harinya terasa lebih padat dan bermakna.

Tidak hanya mendapatkan keterampilan, selama mengikuti program Jawara Beton, Abu mendapatkan premi yang setiap bulannya senilai Rp800 ribu. Dari jumlah itu, sebagian premi ditabung dalam rekeningnya, hingga enam bulan ini sudah terkumpul kurang lebih Rp2 juta.

Selain mengasah keterampilan, Abu juga mendapatkan manfaat finansial. Ia menerima premi bulanan sebesar Rp800 ribu. Sebagian dari uang tersebut ia tabung, sehingga dalam enam bulan terakhir sudah terkumpul sekitar Rp2 juta. Abu berencana menggunakan tabungan itu sebagai modal untuk memulai hidup baru setelah bebas nanti.

Meski telah menyiapkan rencana reintegrasi ke masyarakat, Abu berharap masih dapat dipercaya untuk melanjutkan kerja sama sebagai mitra pemasyarakatan pasca-bebas.

“Program Jawara Beton ini bagus menurut saya. Warga binaan jadi punya kegiatan di dalam lapas, sehingga tidak jenuh,” ujar Abu saat ditemui di Lapas Kelas I Tangerang, Selasa (26/5).

Baca juga: Lapas Tangerang produksi bahan konstruksi bernilai ekonomi

Program pembinaan unggulan berbasis pengolahan limbah

Program Jawara Beton diinisiasi oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham) Agus Andrianto pada Januari 2025. Gagasan ini lahir dari pertemuan beliau dengan Direktur Utama PLN (Persero), Darmawan Prasodjo, yang membahas kolaborasi strategis dalam pembinaan dan pemberdayaan warga binaan pemasyarakatan di seluruh Indonesia.

Tindak lanjut dari pertemuan tersebut berupa kunjungan pihak Lapas Kelas I Tangerang ke PLTU Lontar, Banten. Kunjungan ini bertujuan mengeksplorasi potensi pembuatan produk konstruksi dari limbah fly ash dan bottom ash (FABA).

Pada April 2025, pembangunan sarana dan prasarana untuk produksi produk konstruksi berbahan dasar FABA dari PLTU Lontar resmi dimulai. Sebulan kemudian, pada Mei 2025, dilakukan seleksi terhadap warga binaan yang akan terlibat dalam program ini. Produksi perdana dimulai pada Juli 2025, bersamaan dengan legalisasi pendaftaran merek “Jawara Beton” sebagai aset intelektual yang sah.



Loka kerja program Jawara Beton di Lapas Kelas I Tangerang, Banten, memproduksi bahan konstruksi bernilai ekonomi, Selasa (26/5/2026). (ANTARA/Laily Rahmawaty.)

Kualitas produk pun terus diuji. Pada Agustus 2025, uji kuat tekan beton produk Jawara Beton dari Lapas Kelas I Tangerang dilaksanakan di PT Wijaya Karya (WIKA).

Kepala Lapas Kelas I Tangerang, Beni Hidayat, mengungkapkan bahwa dari total 1.500 warga binaan di lapas tersebut, sebanyak 72 orang terpilih untuk terlibat dalam program unggulan ini.

Proses seleksi dilakukan melalui asesmen kompetensi dan minat, serta diikuti oleh pelatihan bersama yang melibatkan berbagai mitra, termasuk PLTU, WIKA, dan HSP Akademi. Selain itu, diterapkan juga metode Training of Trainers (ToT), di mana warga binaan yang lebih senior melatih rekan-rekan yang baru bergabung.

“Kami berharap ke depan makin banyak warga binaan yang terlibat. Saat ini jumlahnya sudah cukup dengan kapasitas produksi,” kata Beni.

Baca juga: Lapas Narkotika Jakarta latih napi beternak ayam dan menjahit



Produk konstruksi bernilai ekonomi

Program Jawara Beton di Lapas Kelas I Tangerang berhasil menghasilkan beragam produk konstruksi bernilai ekonomi karya warga binaan. Produk-produk tersebut meliputi paving block, batako press, roster, pagar panel (panel balok), modul rumah, hingga pemecah ombak atau tetrapod.

Setiap bulan, Jawara Beton mengolah 273 ton limbah Fly Ash and Bottom Ash (FABA) menjadi produk jadi. Kapasitas produksinya mencapai 220.000 unit per bulan untuk berbagai jenis produk, termasuk produksi harian sebanyak 3.000 unit batako press (atau setara 90.000 unit per bulan khusus untuk batako).

Kepala Lapas Kelas I Tangerang, Banten Beni Hidayat menjelaskan sejarah terbentuknya program Jawara Beton di Lapas Tangerang, Selasa (26/5/2026). (ANTARA/Laily Rahmawaty.)
Jawara Beton Lapas Kelas I Tangerang juga memproduksi modul rumah yang dibangun menggunakan panel rumah instan hemat aman atau Risham, dengan dua unit pencetakan, sehingga sebulan ditarget memproduksi 20 unit rumah tipe 36.

Selain material konvensional, Jawara Beton juga memproduksi modul rumah menggunakan teknologi Panel Rumah Instan Hemat Aman (Risham). Dengan dua unit pencetakan, target produksi modul rumah tipe 36 mencapai 20 unit per bulan.

Struktur rumah yang diproduksi Jawara Beton Lapas Kelas I Tangerang bisa menghemat 10 hingga 15 persen dari struktur konvensional, karena lebih efektif dalam pengerjaan. Kalau struktur rumah konvensional memakan waktu 15 sampai 20 hari, dengan struktur Risham hanya memakan waktu delapan hingga 15 jam selesai.

Struktur rumah Risham bisa untuk semua tipe rumah mulai dari tipe 36 sampai 78, maksimal lantai dua.

Kualitas beton untuk paving block yang dihasilkan warga binaan Lapas Kelas I Tangerang ini telah diuji di laboratorium WIKA secara periodik setiap sebulan sekali. Kini telah mengantongi standarisasi mutu beton K300 yang kokoh.

Uji kuat tekan beton ini dilakukan guna menjamin daya saing di pasar, sehingga kualitas beton yang dihasilkan warga binaan Lapas Kelas I Tangerang berdaya saing dengan produk lainnya yang sudah lebih dulu dikenal masyarakat luas maupun pengembang.

Kepala Lapas Tangerang Beni Hidayat mengatakan bahan bangunan yang dihasilkan warga binaan program Jawara beton telah menembus pasar properti nasional yang diserap langsung oleh pengembang seperti PT Summarecon Agung Tbk.

Selain itu, bahan bangunan produk Jawara Beton Lapas Kelas I Tangerang telah digunakan dalam proyek pembangunan fisik perumahan ASN di wilayah Cikarang Barat dan Cikarang Pusat.

Produk tetrapod atau pemecah ombak Jawara Beton juga sudah dilirik oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), bulan depan mulai diproduksi pemecah ombak ukuran dua ton.

Masyarakat umum dapat mengakses dan memesan produk Jawara Beton melalui kontak yang tersedia di akun Instagram resmi Jawara Beton atau melalui platform e-commerce.

“Karena berbahan dasar limbah, harga produk kami 10 persen lebih rendah dibandingkan produk konvensional,” ungkap Beni, menekankan keunggulan kompetitif program ini bagi konsumen.

Baca juga: Komisi XIII DPR catat kemajuan positif pembinaan WBP di Lapas



Pembinaan produktif

Di Lapas Kelas I Tangerang, program pembinaan bagi warga binaan tidak hanya terpaku pada satu jenis kegiatan. Selain program unggulan Jawara Beton, tersedia berbagai pelatihan lain seperti menjadi barista dan bidang pertanian. Namun, Jawara Beton menonjol sebagai program utama karena pendekatan komprehensifnya.

Program ini tidak sekadar melatih keterampilan konstruksi bangunan, tetapi juga mengajarkan strategi pemasaran produk. Sebagai apresiasi atas kerja keras mereka, warga binaan menerima premi bulanan sebesar Rp800 ribu.

Dana tersebut dikelola dengan sistem 50:50; setengahnya diserahkan langsung kepada warga binaan untuk kebutuhan sehari-hari, sementara setengahnya lagi ditabung di rekening masing-masing sebagai bekal masa depan. Selain itu, seluruh peserta juga telah terlindungi oleh jaminan kesehatan BPJS Kesehatan.



Warga binaan Lapas Kelas I Tangerang, Banten mengikuti program Jawara Beton memproduksi paving block, Selasa (26/5/2026). (ANTARA/Laily Rahmawaty)
Kepala Lapas Kelas I Tangerang Beni Hidayat mengatakan program Jawara Beton ini tidak hanya berorientasi pada produksi, tetapi juga sarana pembinaan mental, keterampilan dan kesiapan warga binaan untuk kembali ke masyarakat.

“Warga binaan tidak hanya diajarkan keterampilan teknis, tetapi juga bagaimana membangun kembali harapan hidup. Melalui proses ini, mereka belajar bertanggung jawab, bekerja keras, serta menumbuhkan keyakinan bahwa mereka masih memiliki kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik,” ujar Beni.

Program Jawara Beton menjadi bukti nyata bahwa pembinaan di lembaga pemasyarakatan dapat berjalan secara produktif dan menghadirkan perubahan positif. Diharapkan, usai menjalani masa hukuman, para warga binaan telah memiliki modal keahlian yang memadai untuk kembali bekerja dan diterima di masyarakat.

“Kami berharap edukasi mengubah limbah menjadi produk ekonomi ini menjadi pemicu (trigger) bagi mereka untuk lebih peka memanfaatkan potensi yang ada di lingkungan sekitarnya,” ujar Beni.


Baca juga: Lapas Piru Maluku optimalkan pembinaan lewat pelatihan kerajinan kayu

Baca juga: Pembinaan humanis di Nusakambangan menguat sepanjang tahun 2025


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Bima Azriel dan Ayastrophile Ajak Generasi Z Tetap Pegang Teguh Nilai-Nilai Pancasila
• 3 jam lalupantau.com
thumb
Polisi Bekuk Sopir Taksi Arogan Rusak Mobil Pengendara di Tol JORR
• 20 jam laluviva.co.id
thumb
Bobby Nasution: Stadion Teladan Belum Layak Jadi Venue Piala AFF U-19
• 23 jam lalubisnis.com
thumb
Pelaku Curanmor di Johar Baru Jual Barang Curian Lewat Media Sosial
• 22 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Muhammadiyah Sampaikan Duka Cita atas Wafatnya Eks Menhan Ryamizard Ryacudu
• 17 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.