Hening Sejenak Sambut Waisak

kompas.id
10 jam lalu
Cover Berita

Suara azan Ashar menyelinap pelan ke ruang kebaktian Vihara Hemadhiro Mettavati, Jakarta, Minggu (31/5/2026). Dari pengeras suara masjid di kejauhan, iramanya berpadu dengan lantunan paritta suci yang dibacakan seorang biku. Tak banyak percakapan terdengar. Mereka yang hadir memilih duduk tenang, memejamkan mata, dan menangkupkan kedua tangan di depan dada.

Sore itu, ratusan umat Buddha memenuhi ruangan untuk memperingati Trisuci Waisak 2570 BE. Aroma dupa berbaur dengan wangi bunga segar yang menghiasi altar. Cahaya lampu kekuningan memantul lembut pada patung Buddha yang menjadi pusat perhatian. Dalam suasana khidmat, mereka menanti tibanya hari raya terbesar umat Buddha.

Biku menyalakan lilin dalam rangkaian Puja Bakti. (KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)

Umat Buddha mengikuti Puja Bakti untuk memperingati Waisak. (KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)

Biku membacakan paritta suci untuk umat Buddha. (KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)

Suasana Puja Bakti untuk memperingati Waisak. (KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)

Umat Buddha mengabadikan lilin elektrik saat Puja Bakti (KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)

Puja Bakti kali ini bukan sekadar kebaktian biasa. Bagi umat Buddha, Waisak merupakan momentum untuk mengenang tiga peristiwa penting dalam kehidupan Sang Buddha Gautama: kelahiran, pencapaian penerangan sempurna, dan parinibbana atau wafatnya Sang Buddha. Ketiga peristiwa tersebut diyakini terjadi pada tanggal yang sama menurut penanggalan Buddhis.

Menjelang detik-detik Waisak, suasana di dalam vihara kian khusyuk. Didampingi dua biku Sangha, umat bermeditasi dalam sunyi. Ketika momen yang ditunggu tiba, seluruh perhatian tertuju ke altar. Kepala-kepala menunduk dengan mata terpejam, sementara kedua tangan kembali bertaut dalam sikap penghormatan.

Umat Buddha mengikuti Puja Bakti dengan khidmat. (KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)

Biku mengusap mata saat menyampaikan dhammadesana. (KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)

Suasana Puja Bakti untuk memperingati Waisak. (KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)

Biku menundukkan kepala saat akan meninggalkan ruangan. (KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)

Umat lansia mengikuti Puja Bakti untuk memperingati Waisak. (KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)

Di sela rangkaian kebaktian, umat bergantian mengikuti prosesi Sanghadana. Satu per satu, mereka berjalan menuju para biku sambil membawa makanan dan berbagai kebutuhan sehari-hari. Dengan bersimpuh, mereka menyerahkan dana serta bingkisan sebagai ungkapan penghormatan kepada Sangha, komunitas para biku yang menjaga dan mewariskan ajaran Buddha.

Melalui Sanghadana, umat belajar memupuk kemurahan hati serta melepaskan keterikatan terhadap apa yang dimiliki. Sebagian orangtua tampak mengajak putra-putri mereka maju bersama membawa persembahan. Tangan-tangan mungil itu menggenggam bingkisan dengan hati-hati. Dari generasi ke generasi, nilai kebajikan diwariskan lewat tindakan sederhana yang dilakukan bersama.

Setelah prosesi usai, kebaktian ditutup dengan pemberkatan. Seorang biku berkeliling memercikkan air suci kepada umat yang duduk berbaris. Ketika rangkaian acara berakhir, sebagian umat beranjak meninggalkan ruangan, sementara yang lain memilih tetap duduk beberapa saat. Tak ada yang tergesa-gesa. Mereka seakan ingin bertahan lebih lama dalam keteduhan yang baru saja dirasakan.

Menjelang petang, anak-anak yang datang bersama orangtuanya mulai meninggalkan vihara. Di sudut lain, generasi muda masih tampak berbincang pelan dengan umat yang lebih tua. Meski berasal dari latar belakang berbeda, mereka dipertemukan oleh tujuan yang sama: merawat ajaran tentang welas asih, kebijaksanaan, dan kedamaian.

Nilai-nilai itulah yang menjadi inti perayaan Waisak. Di berbagai tempat, Waisak sering kali identik dengan prosesi besar, pelepasan lampion, atau arak-arakan ribuan umat di Borobudur. Namun, di Vihara Hemadhiro Mettavati, makna Waisak hadir dalam bentuk yang lebih sederhana.

Sabbe satta bhavantu sukhitatta…

Semoga semua makhluk berbahagia…

Baca JugaMerawat Keheningan Menjelang Waisak
Baca JugaLampion di Langit Borobudur Menjadi Puncak Perayaan Waisak 2026
Baca JugaIbadah Waisak di Wihara Buddha Tidur


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Debat Sengit Mempertahankan Kalimat Ketuhanan yang Maha Esa di Sila Pertama Pancasila
• 9 jam laluliputan6.com
thumb
Pertamina Patra Niaga turunkan harga avtur 10 persen mulai 1 Juni
• 9 jam laluantaranews.com
thumb
Prabowo: Pancasila adalah Pedoman Kehidupan Berbangsa dan Bernegara
• 2 jam lalukompas.com
thumb
Harga Emas Antam dan Pegadaian Hari Ini 1 Juni 2026 Stabil
• 6 jam lalurepublika.co.id
thumb
Irak Temukan 8,8 Miliar Barel Minyak, Perusahaan China ZhenHua Gerak Cepat
• 1 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.