MEKKAH, KOMPAS — Sebagian jemaah haji Indonesia mulai meninggalkan Tanah Suci Mekkah dan kembali ke Tanah Air setelah menyelesaikan seluruh rangkaian ibadah haji, Minggu (31/5/2026). Sebanyak 17 kelompok terbang dari sejumlah embarkasi dijadwalkan terbang dari Bandar Udara Internasional King Abdul Aziz, Jeddah, Arab Saudi, Senin (1/6/2026) dini hari waktu setempat.
Amirul Hajj, yang juga Menteri Haji dan Umrah, Mochamad Irfan Yusuf, di Mekkah, Sabtu (30/5/2026) malam, mengatakan, pemulangan jemaah diawali oleh kelompok-kelompok terbang (kloter) awal melalui Bandar Udara Jeddah. ”Proses pemulangan ini akan berlangsung secara bertahap hingga 30 Juni 2026,” katanya.
Adapun 17 kloter yang pulang perdana ke Tanah Air adalah Kloter 1 Embarkasi Batam (BTH 1); Kloter 1, 2, 3, 4, dan 5 Embarkasi Surabaya (SUB 1, 2, 3, 4, 5); Kloter 1 dan 2 Embarkasi Makassar (UPG 1 dan 2); Kloter 1 Embarkasi Lombok (LOP 1); dan Kloter 1 dan 2 Embarkasi Jakarta-Pondok Gede (JKG 1 dan 2). Kemudian, Kloter 1 Embarkasi Jakarta Bekasi (JKS 1), Kloter 1 Embarkasi Yogyakarta (YIA 1); Kloter 1 Embarkasi Medan (KNO 1), Kloter 1 Embarkasi Kertajati (KJT 1), Kloter 1 Embarkasi Palembang (PLM 1), dan Kloter 1 Embarkasi Jakarta Banten (JKB 1).
Pesawat-pesawat yang menerbangkan kloter-kloter tersebut dijadwalkan lepas landas dari Jeddah mulai pukul 03.05. ”Kami mengimbau seluruh jemaah untuk tetap menjaga kesehatan, mematuhi jadwal yang telah ditetapkan, mengikuti arahan petugas, serta tidak memaksakan diri melakukan aktivitas di luar kemampuan fisik, terutama menjelang masa kepulangan,” kata Irfan.
Irfan melanjutkan, penyelenggaraan haji telah melewati fase Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) yang berakhir pada Sabtu (30/5/2026). ”Kami memastikan bahwa pada pukul 15.00 waktu Arab Saudi, seluruh jemaah haji Indonesia yang berada di Mina telah diberangkatkan kembali menuju hotel masing-masing di Makkah,” ujarnya.
Meski fase Mina bagi jemaah haji Indonesia telah selesai, masih ada rangkaian ibadah yang harus dituntaskan oleh sebagian jemaah, yaitu tawaf ifadah. Sebagian jemaah telah menyelesaikan tawaf ifadah sejak 10 hingga 13 Zulhijah. Namun, sebagian jemaah menunaikannya setelah fase Mina berakhir.
Hingga Minggu siang, suasana di Masjidil Haram penuh para jemaah yang menuntaskan seluruh rangkaian rukun haji dengan melaksanakan tawaf ifadah, sai, dan tahalul tsani. Mereka sebenarnya berencana menunaikan tawaf ifadah pada Minggu dini hari seiring dengan rencana beroperasinya lagi bus Shalawat dengan rute dari hotel-hotel jemaah ke Masjidil Haram.
Hingga Minggu siang, suasana di Masjidil Haram penuh para jemaah yang menuntaskan seluruh rangkaian rukun haji dengan melaksanakan tawaf ifadah, sai, dan tahalul tsani.
Namun, muncul pengumuman bahwa operasionalisasi bus Shalawat ditunda hingga Minggu siang. Sebagian jemaah naik taksi atau kendaraan sewaan lainnya untuk mencapai Masjidil Haram.
Mohammad Zubairi (52), jemaah Kloter 20 Embarkasi Surabaya (SUB 20), menuturkan, jemaah satu kloternya menyewa enam bus—dengan harga sewa Rp 10 juta per bus—untuk kendaraan ke Masjidil Haram pada Sabtu (30/5/2026) siang. Para jemaah lansia dan jemaah dengan kesehatan risiko tinggi melaksanakan tawaf dan sai dengan menyewa mobil golf (golf car) di Masjidil Haram. Harga sewanya 140 real per orang.
”Karena mereka lansia dan risti (risiko tinggi), saat melaksanakan tawaf ifadah, mereka sekalian menunaikan tawaf wada atau tawaf perpisahan,” ujar Zubairi.
Tawaf wada dilaksanakan oleh jemaah yang akan meninggalkan Mekkah sebagai semacam ungkapan perpisahan dengan Baitullah. ”Sampai sekarang, rasanya seperti tidak percaya, saya telah dipanggil dan mampu menunaikan seluruh rangkaian ibadah haji,” kata Zubairi.
Zubairi mengungkapkan, secara keseluruhan ia merasa puas dan bersyukur dengan penyelenggaraan ibadah haji. ”Makanan melimpah, tak pernah kehabisan. Kami bawa makanan yang tersisa banyak di Arafah sebagai persiapan mabit di Muzdalifah. Ternyata, makanan di Muzdalifah melimpah sampai sisa banyak,” tutur Zubairi mengenang fase Armuzna.
Namun, ada satu catatan terkait akomodasi tenda di Mina. ”Di dalam tenda, panas. Tidak seperti di Arafah, tenda di Mina lebih kecil dengan langit-langit lebih rendah. Sudah ada AC, tapi tak mampu meredam cuaca panas,” ujarnya.
Kementerian Haji dan Umrah RI berupaya mengurangi kepadatan jemaah Indonesia dengan meluncurkan skema tanazul yang diikuti sekitar 20.000 jemaah. Dengan skema ini, setelah fase Muzdalifah, jemaah langsung menuju hotel mereka di kawasan Syisyah dan Raudhah. Bagi jemaah yang mampu, mereka mabit dengan berada di Jamarat sekitar enam jam pada malam-malam hari Tasyriq (11, 12, dan 13 Zulhijah).
Dalam keterangannya kepada tim Media Center Haji (MCH), Minggu (31/5/2026), Irfan mengungkapkan, evaluasi penyelenggaraan ibadah haji 2026 akan difokuskan pada dua aspek utama, yakni pelayanan jemaah di Mina dan penguatan istithaah kesehatan. Ia mengakui pelaksanaan ibadah haji tahun ini berjalan relatif baik, namun masih terdapat sejumlah catatan yang perlu dibenahi.
Salah satunya adalah kondisi di Mina yang dinilai masih menjadi tantangan besar karena keterbatasan ruang di tengah meningkatnya jumlah jemaah setiap tahun. “Jujur untuk Mina kemarin saya jauh dari puas, sehingga tahun depan harus kami cermati lagi bagaimana pergerakan di Mina,” ujar Irfan.
Pelaksanaan ibadah haji tahun ini berjalan relatif baik, namun masih terdapat sejumlah catatan yang perlu dibenahi.
Selain layanan di Mina, Irfan juga menyoroti pentingnya peningkatan standar istithaah kesehatan. Meski demikian, angka jemaah wafat tahun ini menurun hampir 50 persen dibanding tahun sebelumnya. Menurut Irfan, masih ditemukan jemaah yang setibanya di Arab Saudi langsung membutuhkan perawatan di rumah sakit.
Ia menegaskan, penilaian kesehatan harus menjadi prioritas utama dalam proses persiapan haji. Menurut Irfan, usia bukan faktor penentu seseorang layak berangkat, melainkan kondisi kesehatannya.
“Kami tidak bicara usia, tapi bicara kesehatan. Tahun ini ada yang usianya lebih dari 100 tahun dan tetap bisa berangkat karena sehat,” kata Irfan.





