Setiap orang punya caranya masing-masing untuk kembali pada dirinya sendiri dan sebagian anak muda memilih berjalan kaki. Dalam setiap langkahnya, mereka menemukan kepingan-kepingan diri yang mereka rindukan dan pertanyakan. Sayang, tidak semua perjalanan selalu mulus, ada saja hambatannya. Kadang-kadang jalanan yang sempit membuat mereka harus berbagi dengan orang lain, hewan-hewan, bahkan kendaraan. Suara klakson juga sering kali bising dan mengganggu. Namun, mereka tetap mencintai proses menemukan itu.
Aktivitas berjalan kaki memang terdengar sangat sederhana, bahkan kerap dianggap hal biasa. Di era hidup yang serba cepat dan bergantung pada kendaraan, pilihan untuk jalan kaki di Indonesia menjadi sesuatu yang tidak umum. Berbanding terbalik dengan Hong Kong yang menjadi pejalan kaki paling aktif di dunia. Sedangkan di Jepang jalan kaki sebagai transportasi umum telah menjadi budaya.
Percakapan tentang jalan kaki muncul di sela-sela pekerjaan yang padat. Aroma masakan menguar di seluruh dapur kafe, beriringan suara percikan minyak dari deep fryer. Di situ, obrolan mengenai jalan kaki justru berkembang. Ofa (22) dan Naufal (21) sama-sama memilih berjalan kaki sebagai me time, meski dengan cara yang berbeda.
Menemukan Diri dalam Langkah KakiOfa mengaku dia sering berjalan kaki dalam jarak dekat untuk sekadar keluar dari rutinitas dan mencari suasana baru. Berbeda dengan Naufal, dia lebih bersemangat menceritakan kebiasaannya berjalan kaki dalam jarak yang lebih jauh. Dia bisa mencapai belasan kilometer. Baginya aktivitas tersebut bukan perihal bergerak, tetapi cara memindahkan kelelahan dari pikiran ke tubuh. Dia memaknai berjalan kaki sebagai proses yang lebih reflektif. Ia merasa memiliki kendali penuh atas dirinya sendiri. Menurutnya, lelah fisik lebih mudah dipahami daripada lelah pikiran.
Percakapan itu terhenti sejenak. Kesibukan kuliah dan pekerjaan membuat komunikasi lebih sering berlanjut secara daring. Ofa sibuk dengan penyusunan skripsi, Naufal menghabiskan waktu di laboratorium bersama tikus-tikusnya, tetap menyempatkan berbagi cerita tentang langkah kaki dan cara masing-masing untuk kembali pada diri sendiri.
Ofa kembali bercerita, bahwa berjalan kaki tidak selalu menghadirkan ketenangan. Ada kalanya rasa sepi justru muncul, terutama saat dia melihat kendaraan melaju cepat meninggalkan langkahnya. “Kadang merasa kasihan sama diri sendiri, kok aku jalan, yang lain naik motor,” ujarnya. Namun di sisi lain, dia tetap memilih berjalan, seakan ada kebutuhan yang tidak bisa digantikan oleh kendaraan. Bagi Ofa, langkah kaki justru menjadi ruang untuk tetap merasa hadir dalam dirinya sendiri, meski dunia di sekitar bergerak lebih cepat.
Pengalaman yang lain datang dari Raisa (25). Baginya, berjalan kaki menjadi ruang untuk menemukan kebebasan. Ia terbiasa berjalan sambil mendengar musik, membiarkan pikirannya mengembara, mengikuti langkah kakinya. Dalam perjalanannya, dia sering memperhatikan orang-orang di sekitar, seringkali memposisikan diri sebagai mereka. Dari situ, muncul beragam perasaan, bersyukur, termotivasi, hingga sedih yang datang tiba-tiba. Raisa seorang ibu rumah tangga yang kini telah memiliki seorang putri mengaku dirinya seperti merasa kehilangan sesuatu. Kadang-kadang dia rindu pada masa aktif jalan kaki sendirian. Sekarang dia lebih sering menghabiskan waktu bersama keluarganya.
Pembahasan ini berlanjut bersama seorang mahasiswa akhir yang tengah sibuk dalam kegiatan lapangan, Syifa (22). Ia melihat berjalan kaki dari sudut pandang kesehatan. Menurutnya, aktivitas fisik sederhana ini dapat membantu menurunkan kadar kortisol, yaitu hormon yang berkaitan dengan stres. Secara ilmiah, berjalan kaki memang membantu meningkatkan sirkulasi oksigen dan aliran darah dalam tubuh. Dalam durasi tertentu, aktivitas ini dapat merangsang pelepasan yang menimbulkan rasa nyaman, serta membantu menurunkan ketegangan mental yang menumpuk. Bahkan durasi lebih panjang, tubuh menjadi lebih stabil secara emosional karena adanya keseimbangan.
Jalan yang Tidak Selalu RamahKadang, berjalan kaki menghadirkan hal-hal kecil yang luput dari pengamatan sehari-hari. Ada momen ketika tanpa sengaja menemukan tempat baru di sudut jalan yang sebelumnya tidak pernah diperhatikan, atau bertemu kucing yang lewat dengan santai. Hal-hal sederhana ikut memberikan suasana yang ringan. Di balik pengalaman yang terasa menyenangkan itu, ada realitas yang tidak bisa diabaikan. Syifa menyoroti fasilitas pejalan kaki di Indonesia masih jauh dari ideal. Menurutnya, berjalan kaki di ruang publik sering kali tidak sepenuhnya aman.
“Jujur, fasilitas jalan kaki di Indonesia masih jelek. Kadang mepet sedikit saja bisa terserempet motor. Kurang safety pokoknya,” ujar Syifa. Kondisi ini diperkuat oleh Ofa, ia sering merasakan ketidaknyamanan saat berjalan kaki di area perkotaan. Trotoar yang tidak memadai membuat pejalan kaki harus berbagi jalanan dengan kendaraan. Ofa menambahkan suara klakson terdengar di jalan justru sering disalahartikan sebagai teguran pejalan kaki yang terlalu ke pinggir jalan. Padahal menurutnya dalam banyak kasus, tidak ada pilihan lain selain berjalan di sisi jalan karena ketiadaan trotoar yang layak.
Berbeda dengan Risya (25), seorang pekerja di kota seberang, yang kembali mengingat masa kuliah di Yogyakarta. Ia menceritakan bahwa dirinya sering berjalan kaki di sekitar kampus untuk mengurus berbagai keperluan kuliahnya. Salah satu kebiasaannya adalah mengunjungi Wisdom Park UGM, yang saat itu menjadi salah satu ruang terbuka favoritnya karena fasilitas jalan kaki yang memadai.
Berjalan kaki di area tersebut membuatnya berolahraga sekaligus mengambil jarak sejenak dari keramaian dan aktivitas sosial yang mengurangi energi. Suasana yang terbuka dan hijau membuat langkah kaki terasa lebih ringan, sekaligus menenangkan pikiran setelah berinteraksi. Sepanjang perjalanan, Risya sering menemukan berbagai potongan kehidupan yang berjalan berdampingan. Ada pasangan yang duduk berdua menikmati suasana, sekumpulan anak muda yang membaca buku, orang memancing. Hal itu menjadikan Risya yang sering kesepian di kamar kos, terobati.
Di antara Ofa yang mencari jeda rutinitas, Naufal yang memindahkan lelah pikiran ke tubuh. Raisa yang menjadikan jalan kaki sebagai kebebasan, Syifa yang melihatnya dari sisi kesehatan, hingga Risya yang menemukan kembali ruang tenang di tengah keramaian, berjalan kaki perlahan membentuk maknanya sendiri. Jalan kaki bukan soal jarak, bukan soal tujuan. Jalan kaki bukan tempat orang-orang lari dari kehidupannya, tetapi sebagai wadah untuk menemukan diri mereka sendiri. Tidak semua langkah adalah pelarian, sebagian hanyalah cara untuk kembali.





