PWON Ungkap Dampak Pelemahan Rupiah ke Harga Jual Rumah, Bakal Naik?

bisnis.com
4 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Emiten properti PT Pakuwon Jati Tbk. (PWON) memberikan penjelasan mengenai potensi harga jual rumah mengalami kenaikan di tengah tren pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Corporate Secretary PWON, Minarto Basuki menekankan pelemahan rupiah memang berpotensi mempengaruhi harga bahan konstruksi, khususnya sejumlah material impor. Kendati demikian, pihaknya memastikan hal itu tidak akan serta-merta mengerek harga produk secara drastis dalam waktu dekat.

"Terkait pelemahan rupiah, memang terdapat beberapa material konstruksi yang masih memiliki eksposur terhadap harga global maupun komponen impor, seperti baja dan beberapa finishing materials. Kondisi ini berpotensi memberikan tekanan terhadap biaya konstruksi apabila pelemahan rupiah berlangsung dalam jangka panjang," ujar Minarto kepada Bisnis, dikutip Senin (1/6/2026).

Dalam rangka memastikan harga jual terhadap konsumen tetap terjaga, manajemen PWON menyebut bakal melakukan berbagai langkah efisiensi, termasuk melakukan penyesuaian terhadap rantai pasok material konstruksi.

Upaya tersebut diharapkan ampuh menjaga harga jual tetap terjaga namun di saat yang bersamaan tetap berada dalam margin yang aman.

"Untuk PWON sendiri, kami terus melakukan cost management dan value engineering agar kenaikan biaya konstruksi dapat tetap terjaga dan tidak terlalu membebani konsumen," imbuhnya.

Baca Juga

  • Saham Properti CTRA, PWON Cs Kompak Merah usai BI Rate Naik ke 5,25%
  • Jurus Pakuwon (PWON) Hadapi Lesunya Bisnis Perkantoran
  • Pakuwon (PWON) Cetak Laba Rp2,34 Triliun, Pendapatan Naik di Tengah Tekanan Sektor Properti

Adapun, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah 0,2% atau 35 poin ke level Rp17.880 per dolar AS pada perdagangan Jumat (29/5/2026). Namun, nilai tukar rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang Rp17.800 hingga Rp17.950 per dolar AS pekan depan.

Analis Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan dan ditutup melemah ke level Rp17.882 per dolar Amerika Serikat (AS) di tengah kombinasi sentimen domestik dan global yang masih membayangi pasar keuangan.

Kendati demikian, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah saat ini belum memberikan dampak signifikan terhadap aktivitas perekonomian nasional. Menurutnya, fundamental ekonomi Indonesia masih kuat sehingga tekanan terhadap mata uang domestik diperkirakan bersifat sementara. 

Dari sisi fiskal, Purbaya memastikan pelemahan rupiah masih berada dalam rentang yang telah diperhitungkan pemerintah dalam penyusunan anggaran negara.

“Pada sisi anggaran, kami sudah menghitung depresiasi rupiah pada level yang mendekati kondisi saat ini. Jadi anggaran kami masih baik meskipun rupiah melemah ke level sekarang,” ujarnya.

Pakuwon Jati Tbk. - TradingView
____

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Update Harga Pangan 1 Juni 2026: Bawang Merah dan Gula Naik
• 3 jam laluidxchannel.com
thumb
Momen Prabowo Beri Penghormatan Terakhir kepada Ryamizard Ryacudu di Kemhan
• 2 jam lalukompas.tv
thumb
Universitas Mercu Buana Buka Beasiswa SNBT 2026, Ada Potongan Biaya hingga Kuliah Gratis
• 22 jam lalumedcom.id
thumb
Goldman Sachs Kerek Proyeksi Harga Tembaga Akhir 2026 ke USD13.735 per Ton
• 4 jam laluidxchannel.com
thumb
Kepala IAEA prihatinan tentang serangan drone di PLTN Zaporizhzhia
• 11 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.