Di tengah ketidakpastian perang Iran dan meningkatnya ancaman terhadap pasokan strategis dunia seperti minyak dan pangan, Perdana Menteri Tiongkok Li Qiang baru-baru ini melakukan inspeksi ke Zhoushan dan Ningbo di Provinsi Zhejiang. Dalam kunjungannya, ia memerintahkan perluasan kapasitas cadangan strategis serta penguatan jaminan pasokan nasional. Langkah ini segera menarik perhatian para pengamat
EtIndonesia.com. Pada akhir Mei, Li Qiang mengunjungi pusat penyimpanan komoditas strategis, minyak bumi, dan produk pertanian di Zhoushan dan Ningbo. Ia secara khusus memerintahkan agar kapasitas cadangan diperluas lebih lanjut.
Banyak pihak menilai bahwa di tengah berlanjutnya konflik di Timur Tengah dan kemungkinan terganggunya jalur pelayaran di Selat Hormuz, langkah Li Qiang mengirimkan sinyal strategis yang sangat kuat.
“Jika Selat Hormuz ditutup akibat perang di Timur Tengah, dampaknya bagi Tiongkok akan sangat besar. Sekitar 40 persen impor minyak Tiongkok melewati selat tersebut. Minyak merupakan komoditas dasar yang memengaruhi banyak industri kimia dan manufaktur,” ujar kolumnis The Epoch Times, Wang He.
“Dari berbagai faktor ini dapat dilihat bahwa tahun ini dan tahun depan PKT akan mengerahkan upaya besar untuk memperkuat sistem cadangan strategis nasional,” lanjutnya.
Krisis Energi dan Pangan Jadi Kekhawatiran Utama
Komentator politik yang berbasis di Amerika Serikat, Tang Jingyuan, menilai kunjungan Li Qiang ke Zhejiang berkaitan erat dengan perubahan situasi internasional maupun domestik.
“Keamanan yang dimaksud tentu terutama adalah keamanan pangan dan energi. Kedua hal ini berkaitan langsung dengan berbagai perkembangan internasional belakangan ini, termasuk operasi militer Amerika Serikat terhadap Venezuela dan Iran,” ujarnya.
“Semua itu berpengaruh besar terhadap impor energi dan minyak Tiongkok. PKT kini jelas menunjukkan rasa krisis yang semakin kuat,” tambahnya
Pemberhentian pertama Li Qiang adalah Basis Cadangan Minyak Nasional Zhoushan, yang merupakan fasilitas penyimpanan minyak terbesar di Tiongkok. Sebagian besar pasokan minyak mentahnya bergantung pada jalur pengiriman dari Timur Tengah dan Amerika Latin.
Karena itu, instruksi Li untuk “terus memperbesar kapasitas cadangan” serta memperluas penyimpanan komersial dipandang sebagai upaya Beijing mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan terputusnya rantai pasokan dari luar negeri.
“Cadangan minyak Tiongkok sudah termasuk yang terbesar di dunia, tetapi PKT tetap merasa tidak aman. Penyebab utamanya adalah sistem pemerintahan PKT sendiri dan cara mereka berinteraksi dengan dunia internasional yang dianggap agresif dan destruktif. Tiongkok sangat bergantung pada impor minyak. Perubahan apa pun di lingkungan eksternal dapat mengancam jalur kehidupan energi PKT,” ujar Tang Jingyuan.
Tiga Tujuan Strategis yang Diungkap Para PengamatSelain minyak, cadangan pangan dan komoditas pertanian juga menjadi fokus utama inspeksi Li Qiang.
Di tengah terganggunya rantai pasokan global akibat perang, biaya pengiriman pangan melonjak dan bahkan terdapat risiko gangguan jalur pelayaran. Penggabungan strategi cadangan energi dan pangan menunjukkan bahwa kepemimpinan PKT kini menempatkan “kelangsungan hidup” sebagai prioritas utama.
Tang Jingyuan menilai bahwa salah satu tujuan penting Beijing adalah meningkatkan pengaruhnya terhadap pasar komoditas global.
“Li Qiang secara khusus menekankan pengembangan pasar berjangka dan peningkatan hak bicara dalam perdagangan komoditas. Tujuannya adalah menjadikan pusat komoditas Zhejiang sebagai basis untuk memperebutkan pengaruh di pasar internasional. Walaupun Tiongkok adalah negara importir terbesar, PKT ingin menggunakan kekuatan pembeliannya sebagai alat strategis,” ujarnya.
Sementara itu Wang He menunjukkan bahwa Tiongkok masih sangat bergantung pada impor.
“Tingkat swasembada pangan pokok Tiongkok hanya sekitar 80 persen. Tiongkok adalah importir minyak terbesar sekaligus pembeli pangan terbesar di dunia. Hal ini menunjukkan bahwa masalah keamanan energi dan pangan Tiongkok belum benar-benar terselesaikan dan masih sangat rentan terhadap guncangan eksternal,” katanya.
Dari analisis para pakar, setidaknya terdapat tiga tujuan utama di balik kebijakan perluasan cadangan strategis tersebut:
- Mengantisipasi gangguan pasokan energi akibat konflik Timur Tengah, terutama jika Selat Hormuz terganggu.
- Memperkuat ketahanan pangan nasional di tengah ketidakstabilan rantai pasokan global.
- Meningkatkan pengaruh Tiongkok dalam perdagangan komoditas internasional dan memperbesar daya tawarnya di pasar global.
Wang He juga menyoroti bahwa persoalan paling mendasar dalam sistem cadangan strategis PKT adalah korupsi yang telah berlangsung selama puluhan tahun.
Menurutnya, sejak era Kementerian Material dan Kementerian Pangan hingga pembentukan National Food and Strategic Reserves Administration pada tahun 2018, nama lembaga terus berubah, tetapi persoalan korupsi tidak pernah benar-benar hilang.
“Sistem cadangan pangan Tiongkok selama bertahun-tahun dikenal sangat bermasalah. PKT berharap dapat membangun pola keamanan nasional baru melalui sistem cadangan ini dan sekaligus mendorong pembangunan ekonomi,” kata Wang He.
“Mereka ingin menghubungkan cadangan strategis dengan mekanisme harga berbagai komoditas. Namun sejauh mana rencana itu bisa berhasil dalam praktik masih menjadi tanda tanya,” lanjutnya.
Selama beberapa dekade terakhir, gudang-gudang cadangan pangan Tiongkok kerap menghadapi fenomena yang dikenal sebagai “stok terlihat penuh saat damai, tetapi tidak tersedia saat darurat.”
Menurut para pengamat, risiko terbesar dari sistem yang sarat korupsi adalah manipulasi data dan laporan inventaris.
Karena itu, kunjungan Li Qiang ke Zhejiang kali ini bukan untuk membahas efisiensi biaya, melainkan untuk menyampaikan perintah politik yang jelas: terus memperluas kapasitas cadangan, apa pun biayanya.
Di tengah meluasnya konflik Timur Tengah dan meningkatnya persaingan strategis antara Amerika Serikat dan Tiongkok pada tahun 2026, sejumlah analis menilai bahwa Beijing kini lebih memprioritaskan stabilitas dan keamanan rezim daripada pertimbangan keuntungan ekonomi semata.
Huang Yimei/ Luo Ya/ Gao Yu – NTD





