Merek Mobil Baru Masuk ke Indonesia, Komitmen Produksi Lokal Diuji

bisnis.com
5 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Gelombang merek otomotif baru, terutama asal China, kian meramaikan pasar otomotif nasional. Di balik ketatnya persaingan merebut konsumen, komitmen investasi melalui pembangunan fasilitas produksi lokal kini menjadi sorotan utama pelaku industri.

Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Putu Juli Ardika mengatakan, bertambahnya jumlah merek yang masuk ke Indonesia menunjukkan pasar otomotif domestik masih memiliki daya tarik yang kuat bagi investor global.

Kendati demikian, menurutnya, kehadiran pemain baru sebaiknya tidak hanya berfokus pada aktivitas penjualan, melainkan juga diikuti investasi manufaktur guna memperkuat struktur industri nasional.

“Hadirnya merek-merek baru bukan sekadar meramaikan pilihan bagi konsumen, melainkan membawa potensi investasi yang besar bagi Indonesia,” ujar Putu di Jakarta, dikutip Minggu (31/5/2026).

Dia menjelaskan, pembangunan fasilitas produksi lokal berpotensi memberikan efek berganda bagi perekonomian, mulai dari memperkuat rantai pasok industri, membuka lapangan kerja, hingga meningkatkan peluang ekspor kendaraan dari Indonesia.

Sejumlah merek pendatang baru asal China yang akan meramaikan pasar nasional antara lain BAW, Changan, iCar, Leapmotor, dan Farizon. Merek-merek tersebut dijadwalkan tampil pada ajang Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026 yang berlangsung pada 30 Juli–9 Agustus 2026 di ICE BSD City, Tangerang.

"Gaikindo terus mendorong dan menyambut baik komitmen para pemegang merek baru ini untuk tidak hanya memasarkan produknya, tetapi juga membangun fasilitas produksi di dalam negeri," tegasnya.

Sebagian merek baru telah mulai menunjukkan komitmennya. Misalnya, Changan dan Leapmotor yang berada di bawah naungan Indomobil Group, berencana memproduksi kendaraan secara lokal melalui skema completely knocked down (CKD) di fasilitas National Assemblers (NA), Purwakarta, Jawa Barat.

Sementara itu, sejumlah merek pendatang baru lainnya memilih memanfaatkan fasilitas pabrik milik PT Handal Indonesia Motor (HIM) sebagai basis perakitan awal. Beberapa merek yang saat ini merakit kendaraan di fasilitas tersebut antara lain Chery, Jetour, BAIC, Aletra, dan Geely.

Di tengah masuknya pemain baru, pasar otomotif nasional masih mencatatkan pertumbuhan. Data Gaikindo menunjukkan penjualan wholesales mobil sepanjang Januari–April 2026 mencapai 289.787 unit atau meningkat 12,5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak 257.647 unit.

Adapun penjualan ritel selama empat bulan pertama 2026 tercatat sebanyak 287.581 unit, atau naik 6,9% dibandingkan capaian pada periode yang sama tahun lalu.

Meski demikian, pertumbuhan tersebut dinilai belum sepenuhnya mencerminkan pulihnya daya beli masyarakat secara merata. Oleh karena itu, pelaku industri berharap GIIAS 2026 dapat menjadi momentum untuk mendorong permintaan sekaligus menjaga keberlanjutan pertumbuhan pasar otomotif domestik.

Penguatan Basis Produksi

Komitmen produksi lokal juga ditunjukkan oleh BYD, produsen kendaraan listrik asal China yang telah membangun fasilitas manufaktur di Subang, Jawa Barat, dengan kapasitas produksi hingga 150.000 unit per tahun.

Nilai investasi proyek tersebut diperkirakan mencapai Rp11,2 triliun dan diharapkan dapat memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu basis produksi kendaraan di kawasan.

Head of Marketing, PR & Government BYD Indonesia Luther T. Panjaitan mengatakan proses pembangunan pabrik saat ini telah memasuki tahap akhir dan diproyeksikan segera beroperasi.

“Ini soal finalisasi dari produksi. Kami tidak main-main, kami harus mulai mengirimkan produk yang sesuai dengan standar dan kualitas kami. Namun, kami juga perlu waktu yang mungkin kami belum bisa terlalu spesifik menjelaskan,” jelas Luther, belum lama ini.

Salah satu model yang diproyeksikan menjadi prioritas produksi lokal adalah BYD M6 DM, kendaraan berteknologi plug-in hybrid electric vehicle (PHEV) yang disebut sebagai Dual Mode (DM).

Dari sisi penjualan, BYD masih menjadi pemimpin pasar mobil listrik nasional sepanjang Januari–April 2026 dengan distribusi wholesales mencapai 17.098 unit. Produk yang dipasarkan meliputi Atto 1, Atto 3, Dolphin, M6, Sealion 7, dan Seal.

Selain BYD, produsen kendaraan listrik asal Vietnam, VinFast, juga telah merealisasikan investasi lebih dari US$300 juta untuk membangun fasilitas produksi berkapasitas awal sekitar 50.000 unit per tahun di atas lahan seluas 171 hektare di Subang, Jawa Barat.

Dalam jangka menengah, VinFast menargetkan total investasi hingga US$1 miliar dengan kapasitas produksi yang dapat meningkat menjadi 350.000 unit per tahun untuk memenuhi pasar domestik maupun ekspor.

Tak hanya kendaraan roda empat, perusahaan tersebut juga berencana meluncurkan sepeda motor listrik di Indonesia pada kuartal II/2026 sebagai bagian dari strategi ekspansi kendaraan elektrifikasi.

Tantangan Sektor Manufaktur

Di tengah derasnya investasi baru, data Gaikindo mencatat produksi mobil nasional mencapai 403.815 unit sepanjang Januari–April 2026 atau meningkat 9,5% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebanyak 368.655 unit.

Namun, pelemahan konsumsi domestik dan ketidakpastian global masih menjadi faktor yang membayangi sektor manufaktur. Kondisi tersebut tercermin dari Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia yang kembali masuk ke zona kontraksi pada April 2026.

Data S&P Global menunjukkan PMI manufaktur Indonesia turun dari 50,1 pada Maret menjadi 49,1 pada April 2026. Posisi di bawah level 50 mengindikasikan aktivitas manufaktur mengalami kontraksi untuk pertama kalinya dalam sembilan bulan terakhir.

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menilai pelemahan nilai tukar rupiah turut memperbesar tekanan terhadap industri manufaktur karena meningkatkan beban biaya yang berkaitan dengan impor bahan baku dan komponen.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi paradoks ketika pertumbuhan ekonomi nasional masih tercatat tinggi, tetapi aktivitas manufaktur justru mengalami perlambatan.

"Ekonomi tumbuh 5,61% tapi PMI manufaktur masih kontraksi, jadi ada yang tidak klik di situ. Pemerintah perlu meningkatkan kredibilitas kebijakan, transparansi data ekonomi, serta kepastian regulasi," jelas Bhima kepada Bisnis.

Selain menjaga stabilitas nilai tukar, Bhima menilai pemerintah perlu memperkuat permintaan domestik melalui berbagai stimulus untuk menopang aktivitas industri.

"Daya beli masyarakat kelas menengah harus dijaga agar konsumsi tetap mampu menopang industri otomotif nasional," pungkasnya.

Daftar 10 Produsen Mobil Terbesar RI Januari–April 2026:

1. Toyota: 180.802 unit

2. Mitsubishi Motors: 59.289 unit

3. Daihatsu: 47.951 unit

4. Suzuki: 28.849 unit

5. Hyundai: 17.250 unit

6. Honda: 13.420 unit

7. Jaecoo: 11.073 unit

8. Mitsubishi Fuso: 10.956 unit

9. Isuzu: 9.921 unit

10. Wuling: 6.557 unit


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Wapres Gibran Tiba di Kemhan, Hadiri Persemayaman Ryamizard Ryacudu
• 7 jam lalukumparan.com
thumb
Netizen Soroti Dua Momen Akad Adhisty Zara dan Tsaqib yang Berbeda, Sempat Nikah Siri?
• 12 jam laluviva.co.id
thumb
Halalbihalal KKS Kairo Perkuat Ukhuwah Warga Indonesia Timur di Mesir
• 20 jam laluharianfajar
thumb
Begini Cara Pasutri Pemilih WO Marwah Tipu Calon Pengantin
• 32 menit laluviva.co.id
thumb
Jadwal Operasional Musim Haji 2027 Sesuai Aturan Resmi
• 2 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.