HARIAN.FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Dalam sepak bola, ada perpisahan yang benar-benar menjadi akhir. Namun ada pula perpisahan yang hanya menjadi jeda sebelum sebuah cerita kembali berlanjut.
Bagi PSM Makassar dan Darije Kalezic, kisah mereka tampaknya masuk dalam kategori kedua.
Setelah beberapa tahun berlalu sejak meninggalkan Makassar, nama pelatih asal Bosnia tersebut kini kembali menguat sebagai calon nahkoda baru Pasukan Ramang. Bahkan, informasi yang beredar menyebutkan bahwa manajemen PSM telah mencapai kesepakatan dengan Darije Kalezic dan hanya tinggal menuntaskan proses administrasi berupa penandatanganan kontrak.
Jika tidak ada perubahan, sang pelatih hanya menunggu waktu untuk terbang ke Makassar dan memulai babak kedua dalam perjalanan kariernya bersama Juku Eja.
Kabar ini langsung menghidupkan optimisme di kalangan suporter. Bukan semata karena nama besar Kalezic, melainkan karena memori yang ia tinggalkan di kota ini masih begitu kuat.
Di tengah situasi sulit yang sedang dihadapi PSM, banyak pendukung merasa klub membutuhkan sosok yang memahami karakter tim, budaya sepak bola Makassar, dan tekanan besar yang selalu menyertai klub kebanggaan Sulawesi Selatan tersebut.
Darije Kalezic memenuhi seluruh kriteria itu.
Meski masa baktinya tidak berlangsung lama, ia berhasil mencatatkan namanya dalam sejarah PSM. Saat pertama kali datang pada musim 2019, ekspektasi terhadap dirinya tidak terlalu besar. Namun dalam waktu relatif singkat, ia mampu menghadirkan sesuatu yang sudah sangat lama dinantikan oleh publik Makassar.
Trofi.
Musim 2019 menjadi salah satu tahun paling bersejarah bagi PSM dalam era modern. Di bawah kepemimpinan Kalezic, Pasukan Ramang berhasil menjuarai Piala Indonesia setelah menunggu hampir dua dekade untuk kembali merasakan gelar nasional.
Keberhasilan tersebut tidak hanya menghadirkan kebanggaan, tetapi juga melepaskan beban panjang yang selama bertahun-tahun menghantui klub.
Saat itu, Stadion Andi Mattalatta menjadi saksi bagaimana hubungan emosional antara tim dan suporter terjalin begitu erat. PSM bermain dengan keberanian, agresivitas, dan semangat yang mencerminkan identitas sepak bola Makassar.
Namun di balik euforia itu, perjalanan Darije sebenarnya jauh dari kata sempurna.
Ia datang ketika skuad sudah terbentuk. Sebagian besar pemain direkrut sebelum dirinya bergabung. Situasi tersebut membuat Kalezic harus bekerja dengan materi yang tidak sepenuhnya ia pilih sendiri.
Dalam beberapa kesempatan, ia bahkan mengungkapkan bahwa proyek yang sebenarnya ingin dibangun bersama PSM belum pernah benar-benar dimulai.
Menurutnya, musim 2019 hanyalah tahap awal. Fondasi telah diletakkan, tetapi bangunan yang ingin ia dirikan belum sempat selesai.
Pernyataan itu kini kembali menjadi bahan perbincangan di kalangan suporter.
Banyak yang menilai bahwa Darije tidak pernah mendapatkan kesempatan penuh untuk membangun PSM sesuai dengan filosofi sepak bolanya. Ia berhasil mempersembahkan trofi, tetapi belum sempat menjalankan proses jangka panjang yang menjadi visinya.
Masalah konsistensi menjadi salah satu kendala terbesar kala itu. PSM tampil cukup kuat di kandang, tetapi sering kehilangan poin saat bermain tandang. Hasil yang naik turun membuat tekanan terhadap tim terus meningkat sepanjang kompetisi Liga 1 2019.
Situasi tersebut akhirnya berujung pada keputusan mengejutkan.
Pada Desember 2019, sehari sebelum pertandingan menghadapi PSS Sleman, Kalezic mengumumkan bahwa dirinya akan meninggalkan PSM.
Keputusan itu membuat banyak pihak terkejut. Sebab secara prestasi, ia baru saja memberikan gelar yang sudah lama dinantikan klub.
Meski berpisah, hubungan emosional antara Darije dan publik Makassar tidak pernah benar-benar putus.
Namanya tetap dikenang sebagai pelatih yang mengakhiri puasa gelar. Bahkan hingga hari ini, banyak suporter masih menganggap era Darije sebagai salah satu periode paling berkesan dalam perjalanan PSM pada dekade terakhir.
Kini, ketika PSM kembali berada dalam persimpangan jalan, nama yang sama muncul sebagai solusi.
Musim 2025/2026 menjadi musim yang penuh ujian bagi Pasukan Ramang. Klub yang beberapa tahun lalu dikenal sebagai penantang gelar justru harus berjuang keras menjauh dari zona degradasi.
Masalah finansial, sanksi transfer FIFA, pergantian pelatih, hingga inkonsistensi performa membuat identitas permainan PSM perlahan memudar.
Dalam kondisi seperti itu, kebutuhan terbesar klub bukan hanya mendatangkan pelatih baru, tetapi menghadirkan sosok yang mampu membangun kembali fondasi yang sempat goyah.
Darije dianggap memiliki kapasitas untuk menjalankan tugas tersebut.
Selain memahami kultur sepak bola Makassar, ia juga dikenal sebagai pelatih yang memberi ruang besar bagi perkembangan pemain muda. Filosofi tersebut sangat relevan dengan kondisi PSM saat ini yang kemungkinan harus lebih banyak mengandalkan sumber daya internal akibat keterbatasan di bursa transfer.
Darije bukan tipe pelatih yang hanya mengejar hasil jangka pendek. Dalam berbagai klub yang pernah ditanganinya, ia dikenal senang membangun sistem permainan yang berkelanjutan.
Itulah sebabnya sebagian suporter melihat potensi kembalinya Kalezic bukan sebagai langkah nostalgia, melainkan bagian dari upaya membangun ulang proyek besar yang sempat terhenti.
Jika kesepakatan ini benar-benar segera diresmikan, maka PSM tidak hanya mendapatkan pelatih baru. Mereka mendapatkan kembali sosok yang pernah menjadi bagian dari salah satu bab paling membahagiakan dalam sejarah klub.
Dan mungkin, setelah bertahun-tahun berjalan di jalur yang berbeda, PSM Makassar dan Darije Kalezic memang ditakdirkan untuk bertemu kembali.
Karena terkadang dalam sepak bola, ada cerita yang belum selesai ditulis. Ada perjalanan yang sempat terhenti sebelum mencapai tujuan akhirnya.
Kini, kisah itu tampaknya siap dimulai kembali di Makassar. Dengan tantangan yang berbeda, situasi yang berbeda, tetapi harapan yang tetap sama: mengembalikan PSM Makassar ke tempat yang seharusnya, yakni menjadi salah satu kekuatan utama sepak bola Indonesia.





