Sumsel Memanas, Kebakaran Hutan dan Lahan Bermunculan

kompas.id
3 jam lalu
Cover Berita

PALEMBANG, KOMPAS — Seiring dengan cuaca yang mulai mengering alias memasuki musim kemarau, kebakaran hutan dan lahan atau karhutla mulai bermunculan di Sumatera Selatan sepekan terakhir. Pengawasan dan pengendalian di lapangan perlu diperkuat untuk mencegah kebakaran meluas.  

Kepala Balai Pengendalian Perubahan Iklim dan Karhutla Sumatera Ferdian Krisnanto mengatakan, sebagaimana prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), wilayah Sumsel mulai memasuki musim kemarau. Hal itu menyebabkan suhu udara harian meningkat seiring tidak turun hujan dalam seminggu terakhir.

Situasi itu melatarbelakangi tumbuhnya jumlah titik panas (hotspot) di Sumsel. Merujuk data Sistem Pemantauan Karhutla Kementerian Kehutanan, SiPongi, ada 124 titik panas di Sumsel sepanjang Mei 2026. Jumlah itu meningkat drastis dibanding pada April 2026 yang berjumlah 39 titik.

Jumlah titik panas pada Mei 2026 pun meningkat nyaris dua kali lipat dibanding pada Mei 2025 yang berjumlah 67 titik. ”Seiring terjadi peningkatan suhu, titik panas pasti ikut meningkat. Namun, data titik panas itu hanya sebagai indikator awal. Kita tetap harus melakukan cek lapangan untuk memastikan apakah betul terjadi kebakaran,” ujarnya saat dihubungi dari Palembang, Sumsel, Senin (1/6/2026).

Baca JugaLuas Wilayah Karhutla Menurun, Daerah Jangan Lengah Hadapi El Nino

Dari pengecekan lapangan, Ferdian menuturkan, kejadian kebakaran memang sudah mulai terdeteksi atau bermunculan dalam seminggu terakhir. Satuan tugas udara yang melaksanakan patroli udara terus memberikan visual kondisi kebakaran dari udara.

Hasilnya, terlihat sejumlah titik kebakaran menyebar di Kabupaten Musi Rawas Utara, Musi Rawas, Muaraenim, Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), dan Ogan Ilir (OI). ”Kejadian kebakaran itu turut dipicu oleh unsur kesengajaan manusia, seperti kejadian kebakaran di Muaraenim dan PALI yang diduga untuk penyiapan kebun,” katanya.

Lebih menantang

Ferdian menyampaikan, penanganan karhutla di Sumsel akan lebih menantang seiring dengan musim kemarau yang lebih kering. Setidaknya, seminggu ke depan, kerawanan karhutla akan meningkat drastis.

Kerawanan itu dipicu oleh hari tanpa hujan yang semakin panjang. Situasi itu menyebabkan bahan bakaran semakin melimpah dan kering, seperti rerumputan dan pakis-pakisan.

Tinggi muka air tanah pun semakin berkurang. Laporan terakhir menyebutkan, tinggi muka air gambut turun hingga lebih dari 40 sentimeter. ”Kondisi kian menantang karena masih banyak warga yang menyiapkan kebun dengan membakar,” tuturnya.

Baca Juga”Drone” Pemadam Api Jadi Inovasi Baru Penanganan Karhutla 2026 di Sumsel dan Riau

Menurut Ferdian, dari 17 kabupaten/kota di Sumsel, wilayah rawan karhutla meliputi lahan gambut di Kabupaten Musi Banyuasin, Ogan Komering Ilir (OKI), OI, dan Muaraenim, serta lahan mineral di PALI, Musi Rawas, dan Musi Rawas Utara. Untuk mencegah karhutla yang lebih luas, pihaknya menyiapkan 275 personel Manggala Agni di Sumsel.

”Kami akan menambah kekuatan Manggala Agni dari provinsi lain apabila dibutuhkan. Sama seperti di Riau saat ini, personel Manggala Agni yang bertugas berasal dari tim Riau dan Sumatera Utara. Apabila dibutuhkan, tim Jambi bisa bergerak untuk membantu Sumsel. Secara keseluruhan, ada 954 personel Manggala Agni di Sumatera yang siap siaga menghadapi karhutla,” ujarnya.

Ferdian pun berharap dukungan lebih optimal dari pemerintah daerah dalam pencegahan maupun pemadaman karhutla. ”Sumber daya manusia, sarana dan prasarana, serta anggara dari pemerintah daerah sangat diperlukan untuk membantu pengendalian karhutla,” katanya.

Hujan berkurang

Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumsel Wandayantolis, mengatakan, sejak dasarian III Mei 2026, sebagian besar wilayah Sumsel sudah berada dalam kategori curah hujan rendah (0-50 milimeter). Hanya sebagian kecil wilayah saja yang masih berada dalam kategori curah hujan menengah (51-150 mm) dan kategori tinggi (151-300 mm).

Sifat hujannya pada dasarian III Mei 2026 menunjukkan kontras yang cukup signifikan. Wilayah Sumsel didominasi sifat hujan di bawah normal. Hanya sebagian wilayah yang sifat hujannya di atas normal, serta sebagian kecil yang sifat hujannya normal.

Secara keseluruhan, ada 954 personel Manggala Agni di Sumatera yang siap siaga menghadapi karhutla.

Memasuki dasarian I Juni 2026, sebagian besar wilayah Sumsel diprediksi mengalami curah hujan berkategori rendah. Sifat hujannya berada di bawah normal pada hampir seluruh wilayah Sumsel, sedangkan sifat hujan normal hanya terjadi di sedikit wilayah, yakni OI bagian tengah dan OKI bagian timur.

Baca JugaMengapa Sumsel Harus Ekstra Bersiap Hadapi Karhutla yang Dipicu El Nino?

Pemantauan hari tanpa hujan (HTH) berturut-turut menunjukkan bahwa wilayah Sumsel tidak mengalami hujan saat pemutakhiran data dilakukan. ”HTH dengan kategori sangat pendek (1-5 hari) terjadi di sebagian wilayah Sumsel. Sebagian wilayah lainnya mengalami HTH berkategori pendek (6-10 hari) dan menengah (11-20 hari),” tutur Wandayantolis.

Secara umum, Wandayantolis menuturkan, cuaca di Sumsel mulai dipengaruhi oleh dampak Fenomena Iklim Samudera Hindia (IOD) Positif yang diprediksi terjadi pada Juli hingga November 2026. Hal itu pun mengindikasikan kondisi fenomena El Nino yang diprediksi terjadi pada Mei, Juni, dan Juli 2026.

”Karena itu, memasuki dasarian I Juni 2026, sebagian besar wilayah Sumsel berpeluang lebih dari 70 persen mengalami curah hujan rendah (0-50 mm). Sebaliknya, sebagian kecil wilayah berpeluang sekitar 30 persen mengalami curah hujan menengah (51-150 mm),” ujarnya.

Wandayantolis menyampaikan, kecenderungan penurunan curah hujan di sebagian besar wilayah Sumsel akan meningkatkan potensi kemunculan titik panas ataupun karhutla. Selain itu, potensi cuaca ekstrem yang bisa menimbulkan banjir, longsor, dan angin kencang tetap perlu diwaspadai. ”Masyarakat maupun pemerintah daerah diharapkan meningkatkan kewaspadaan terhadap peluang munculnya karhutla hingga bencana hidrometeorologi yang dipicu cuaca ekstrem,” katanya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Tiba di Lokasi, Prabowo Melayat Mendiang Ryamizard Ryacudu yang Disemayamkan di Kemhan
• 13 jam lalukompas.com
thumb
Persib Diuji Jadwal Padat, ASEAN Club Championship Jadi Tantangan Berat Sang Juara
• 7 jam lalujpnn.com
thumb
Tarif Listrik PLN per kWh 1-7 Juni 2026 Resmi Berlaku, Cek Rinciannya di Sini
• 1 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Tanpa Beli di SPBU, Begini Cara Bikin Solar dari Sampah Plastik
• 11 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Jokowi Absen di Upacara Hari Lahir Pancasila, Ajudan: Belum Terima Undangan
• 8 jam laluokezone.com
Berhasil disimpan.