Bisnis.com, BATAM - Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN RI Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka menegaskan keluarga memiliki peran strategis sebagai benteng utama dalam mencegah penyalahgunaan obat-obatan tertentu di kalangan remaja guna menyelamatkan bonus demografi yang tengah dinikmati Indonesia.
Menurut Isyana, pendekatan preventif melalui edukasi dan penguatan fungsi keluarga menjadi langkah paling efektif untuk melindungi generasi muda dari berbagai ancaman penyalahgunaan obat-obatan.
"Remaja adalah kelompok rentan karena rasa ingin tahu tinggi, pengaruh lingkungan pertemanan, serta rendahnya literasi terhadap obat-obatan tertentu. Karena itu edukasi dan penguatan keluarga menjadi sangat penting," kata Isyana dalam Gerakan Nasional Pencegahan Penyalahgunaan Obat-obatan Tertentu di Batam.
Ia mengatakan kesehatan mental remaja juga perlu menjadi perhatian serius. Tekanan sosial, kesepian, hingga perundungan dapat meningkatkan risiko remaja terjerumus dalam penyalahgunaan obat-obatan.
Untuk memperkuat ketahanan keluarga, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga telah menjalankan sejumlah program, di antaranya Bina Keluarga Remaja (BKR), Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R), serta Forum Generasi Berencana (Genre) yang bertujuan menciptakan ruang aman dan lingkungan positif bagi generasi muda.
Sementara itu, Kepala BPOM RI Taruna Ikrar mengingatkan bahwa penyalahgunaan obat-obatan tertentu kini telah berada pada tingkat yang mengkhawatirkan dan menjadi ancaman serius bagi masa depan bangsa.
Baca Juga
- Eks Kasat Narkoba AKP Deky Resmi Ditahan di Rutan Bareskrim
- Bareskrim Tangkap AKP Deky Usai jadi 'Beking' Narkoba di Kutai Barat
- Bareskrim Grebek Kampung Narkoba di Kaltim, Tangkap 13 Tersangka
Taruna mengungkapkan BPOM bersama aparat terkait baru-baru ini berhasil membongkar jaringan peredaran obat-obatan tertentu di sejumlah daerah, termasuk Batam, Banten, Bandung, dan Semarang, dengan nilai ekonomi mencapai ratusan triliun rupiah.
"Kami menemukan sekitar 1,6 miliar kapsul serta ribuan ton bahan baku obat tertentu. Jika seluruh bahan baku itu diproduksi, jumlahnya bisa mencapai lima hingga enam miliar kapsul. Ini sangat berbahaya bagi generasi muda," ujarnya.
Menurut Taruna, besarnya keuntungan ekonomi membuat para pelaku terus menjadikan generasi muda sebagai target pasar utama.
Karena itu, BPOM bersama kementerian dan lembaga terkait mendorong gerakan nasional terpadu melalui edukasi, pengawasan, penegakan hukum, dan pelibatan aktif masyarakat.
"Gerakan nasional ini kita pusatkan di Kepulauan Riau. Dengan sinergi lintas sektor, saya yakin ancaman penyalahgunaan obat-obatan tertentu dapat kita cegah bersama," katanya.
Gubernur Kepulauan Riau Ansar Ahmad menilai posisi strategis Kepri di jalur perdagangan internasional Selat Malaka selain memberikan keuntungan ekonomi juga menghadirkan kerentanan terhadap berbagai kejahatan lintas negara, termasuk peredaran obat-obatan tertentu.
"Kepri berada di jalur strategis dunia. Setiap tahun sekitar 80 ribu kapal melintas di Selat Malaka dan puluhan juta kontainer bergerak melalui kawasan ini. Ini menjadi kekuatan ekonomi, tetapi juga membuka kerawanan terhadap berbagai kejahatan lintas negara," ujarnya.
Ansar menyebut pertumbuhan ekonomi Kepri pada 2025 mencapai 6,94 persen atau menjadi salah satu yang tertinggi secara nasional. Namun, menurutnya, keberhasilan pembangunan harus diimbangi dengan upaya menjaga kualitas generasi muda.
"Kalau generasi muda rusak karena penyalahgunaan obat tertentu, maka produktivitas akan menurun dan masa depan bangsa ikut terancam. Karena itu seluruh elemen harus bersatu mencegah persoalan ini," tegasnya.
Ia menambahkan berbagai program prioritas nasional, termasuk program makan bergizi gratis yang menjadi bagian dari Asta Cita Presiden RI, tidak akan memberikan hasil optimal apabila generasi muda masih terpapar penyalahgunaan obat-obatan.




