jpnn.com, JAKARTA - Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), sejumlah kiai muda, pengasuh pesantren, akademisi, dan intelektual nahdliyin dari Solo Raya bakal menggelar Halaqoh Kiai Muda NU.
Kegiatan bertema "Meneguhkan Supremasi Moral dan Kepemimpinan Ulama dalam Dinamika NU Kontemporer" itu dijadwalkan berlangsung pada Selasa (2/6), di Pondok Pesantren Al-Mustofa, Ngeboran, Sawit, Boyolali.
BACA JUGA: NU Care-LAZISNU Sembelih Sapi Kurban dari Shopee Barokah untuk Santri dan Warga Bantaran Sungai di Depok
Ketua Panitia Halaqoh Kiai Muda NU, Gus Fawwaz, mengatakan pemilihan Solo Raya sebagai lokasi penyelenggaraan memiliki pertimbangan historis yang kuat dalam perjalanan organisasi NU.
Menurut dia, Solo Raya menyimpan jejak penting dalam menjaga keseimbangan antara khidmah keumatan dan relasi organisasi dengan kekuasaan.
BACA JUGA: Cicit Pendiri Nahdlatul Ulama Prihatin Mendengar Rencana MLB NU
"Solo menyimpan memori kolektif yang sangat kuat dalam sejarah NU. Di kawasan inilah para ulama pernah merumuskan berbagai sikap strategis untuk menjaga marwah jam’iyah," kata Gus Fawwaz di Boyolali, Senin (1/6).
Oleh karena itu, lanjut dia, Solo Raya dinilai menjadi tempat yang tepat untuk menghidupkan kembali tradisi musyawarah, kritik konstruktif, dan konsolidasi pemikiran menjelang Muktamar ke-35 NU.
BACA JUGA: Gus Salam: MLB Nahdlatul Ulama Sudah Seperti Bom Waktu
Gus Fawwaz menjelaskan forum tersebut lahir dari kegelisahan sebagian warga nahdliyin akar rumput terhadap berbagai dinamika organisasi, yang dinilai berpotensi menggeser peran sentral ulama sebagai penjaga arah moral jam’iyah.
"Kami melihat semakin banyak pertanyaan yang muncul dari warga nahdliyin mengenai posisi ulama, independensi organisasi, dan fungsi Syuriyah sebagai pemegang otoritas moral tertinggi," ujarnya.
Dia menegaskan halaqoh tersebut bukan forum untuk menyerang pihak tertentu, melainkan ruang muhasabah bersama agar NU tetap berada di jalur perjuangan para muassis.
Menurut Gus Fawwaz, kritik yang akan disampaikan dalam forum itu berangkat dari rasa cinta terhadap organisasi, bukan semangat permusuhan.
"NU terlalu besar dan terlalu berharga untuk hanya dipandang dalam perspektif perebutan pengaruh dan kepentingan politik sesaat."
"Para pendiri mewariskan NU sebagai wadah perjuangan umat, sehingga marwah dan independensinya harus terus dijaga oleh seluruh elemen jam’iyah," tuturnya.
Halaqoh Kiai Muda NU tersebut rencananya diikuti sekitar 100 peserta yang terdiri atas pengasuh pesantren, kiai muda, akademisi, aktivis, dan tokoh penggerak nahdliyin dari berbagai daerah di Solo Raya.
Sejumlah narasumber yang dijadwalkan hadir antara lain Rektor UIN Semarang Prof. Musahadi dan intelektual NU Ahmad Baso. Adapun Gus Mustafid dari Mlangi akan bertindak sebagai moderator.
Gus Fawwaz berharap halaqoh itu menjadi ruang konsolidasi pemikiran yang sehat dan bermartabat untuk memperkuat kembali peran ulama dalam kehidupan organisasi.
"Sejarah menunjukkan bahwa ketika ulama berani menyampaikan pandangan dan menjaga independensi moralnya, NU selalu mampu menemukan jalan terbaik bagi umat. Semangat itulah yang ingin kami hidupkan kembali dari Solo Raya menjelang Muktamar ke-35," pungkasnya.(mcr8/jpnn)
BACA ARTIKEL LAINNYA... Muktamar NU: Menjaga Sang Pendiri NKRI dari Intervensi
Redaktur : M. Rasyid Ridha
Reporter : Kenny Kurnia Putra




