Presiden Myanmar Min Aung Hlaing melakukan kunjungan perdana ke luar negeri sejak menjabat kepala negara dengan bertemu Perdana Menteri India Narendra Modi di New Delhi, Senin (1/6).
Min Aung Hlaing merupakan mantan panglima militer Myanmar yang memimpin kudeta terhadap pemerintahan sipil pada 2021. Ia kemudian memerintah negara itu sebagai pemimpin junta selama lima tahun sebelum dilantik sebagai presiden pada April 2026.
Dalam pertemuan tersebut, Min Aung Hlaing dan Modi membahas berbagai isu, mulai dari keamanan perbatasan, perdagangan, hingga perang saudara yang masih berlangsung di Myanmar.
Min Aung Hlaing mendapat sambutan karpet merah di Hyderabad House, kompleks kenegaraan yang biasa digunakan India untuk menerima tamu negara.
Menurut juru bicara Kementerian Luar Negeri India, Randhir Jaiswal, Modi menegaskan komitmen New Delhi untuk terus mendukung Myanmar.
"India tetap menjadi tetangga tepercaya Myanmar, mitra yang dapat diandalkan, dan pihak yang selalu siap membantu saat krisis," kata Modi, dikutip Jaiswal, seperti diberitakan AFP.
Modi juga menegaskan kesiapan India mendukung perdamaian dan dialog di Myanmar.
Sekretaris Luar Negeri India, Vikram Misri, mengatakan stabilitas Myanmar menjadi kepentingan strategis bagi India karena kedua negara berbagi perbatasan sepanjang 1.643 kilometer.
"Stabilitas dan perdamaian di Myanmar jelas merupakan kepentingan utama India," kata Misri.
Meski demikian, India menegaskan solusi konflik tidak bisa dipaksakan dari luar.
"Pada akhirnya, kesulitan yang dihadapi Myanmar harus diselesaikan oleh rakyat Myanmar melalui dialog di antara mereka sendiri. Ini harus menjadi solusi yang dipimpin dan dimiliki oleh Myanmar," ujarnya.
Selain keamanan, kedua negara juga membahas kerja sama ekonomi. Nilai perdagangan bilateral India-Myanmar tercatat melampaui USD 2 miliar atau sekitar Rp 35,6 triliun pada tahun fiskal 2025-2026.





