Tambang Lesu, Pengangguran Kaltim Masih di Atas 5%

bisnis.com
4 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, BALIKPAPAN — Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Timur mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada Februari 2026 sebesar 5,27%, atau turun hanya 0,06% poin dibandingkan Februari 2025 yang sebesar 5,33%.

Artinya, dari setiap 100 orang angkatan kerja di Bumi Etam, masih ada sekitar 5 hingga 6 orang yang belum mendapat pekerjaan.

Kepala BPS Provinsi Kalimantan Timur Mas'ud Rifai menyatakan jumlah angkatan kerja Kaltim pada Februari 2026 tercatat sebanyak 2,11 juta orang atau turun 16.850 orang dibandingkan Februari 2025. 

Penurunan ini bukan semata pertanda membaiknya kondisi ketenagakerjaan, sebab jumlah penduduk yang bekerja pun ikut menyusut sebanyak 14.776 orang menjadi 1,99 juta orang.

"Pada periode yang sama, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) mengalami penurunan sebesar 0,15% poin dibanding Februari 2025," kata Mas'ud Rifai dalam keterangan resmi, Minggu (1/6/2026).

Kesenjangan gender dalam partisipasi kerja pun masih menganga lebar, di mana TPAK laki-laki mencapai 84,25%, sementara TPAK perempuan hanya 46,85%.

Baca Juga

  • KPB Bagikan Hewan Kurban, Seekor Sapi 600 Kg Jadi Sorotan
  • Ketimpangan Gender Kaltim Menyusut 0,062 Poin
  • Hujan Membayangi Sejumlah Wilayah di Kaltim 10 Hari Mendatang
Pertambangan Terpukul, Jasa Lainnya Mengambil Peran

Bila ditelusuri lebih jauh ke struktur lapangan pekerjaan, gambarannya semakin menarik. Sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan tetap menjadi penyerap tenaga kerja terbesar dengan kontribusi 19,57% atau sekitar 390.461 orang, disusul Perdagangan Besar dan Eceran sebesar 16,96% (338.446 orang).

Namun yang paling mencolok adalah kejatuhan sektor Pertambangan dan Penggalian. Dibandingkan Februari 2025, sektor andalan Kaltim ini kehilangan 40.356 pekerja.

Angka ini seolah menjadi cermin pahit dari ketergantungan ekonomi Kaltim terhadap sumber daya alam yang kian tak pasti.

Di sisi sebaliknya, sektor Aktivitas Jasa Lainnya justru menyerap 38.156 tenaga kerja baru, diikuti Administrasi Pemerintahan (13.067 orang) dan Aktivitas Kesehatan dan Kegiatan Sosial (9.208 orang). 

Pergeseran ini mencerminkan bahwa perekonomian Kaltim perlahan mulai bergerak ke arah sektor jasa, meski belum sepenuhnya mampu menutup lubang yang ditinggalkan sektor tambang.

Lebih jauh, Mas'ud memaparkan satu sinyal positif berupa meningkatnya proporsi pekerja formal. Pada Februari 2026, sebanyak 1,1 juta orang atau 55,45% dari total penduduk bekerja masuk kategori kegiatan formal atau naik 2,37% poin dibandingkan Februari 2025. 

Kendati demikian, TPT di wilayah perkotaan justru meningkat 0,45% poin menjadi 5,82%, sementara TPT perdesaan turun signifikan 1,47% poin menjadi 3,76%. 

Fenomena ini menandakan bahwa tekanan pengangguran kini bergeser ke pusat-pusat kota, sekaligus sebuah ironi di tengah geliat pembangunan IKN yang diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja baru.

Jika dilihat berdasarkan jenis kelamin, TPT laki-laki justru naik 0,71% poin menjadi 5,59%, sedangkan TPT perempuan turun 1,51% poin menjadi 4,65%. 

Tren ini menarik karena menunjukkan bahwa perempuan kini semakin berhasil menembus pasar kerja, sementara persaingan di kalangan laki-laki justru semakin ketat.

Dari sisi pendidikan, data Sakernas Februari 2026 mengungkap fakta yang sepatutnya menjadi alarm bagi dunia pendidikan vokasi. 

Lulusan SMK mencatat TPT tertinggi di antara semua jenjang pendidikan, yaitu 8,81% dan jauh melampaui lulusan SMA (6,20%) maupun Diploma ke atas (6,67%). 

Sementara itu, penduduk berpendidikan SD ke bawah justru mencatat TPT paling rendah, yaitu 1,56% karena pada umumnya mereka bekerja di sektor informal tanpa banyak seleksi.

Mas'ud mengungkapkan bahwa laju penurunan TPT semakin melambat, meski tren secara keseluruhan menunjukkan perbaikan, di mana turun konsisten dari 5,75% pada Februari 2024 ke 5,33% (Februari 2025) dan kini 5,27%.

Sebagaimana diketahui, pekerja paruh waktu yang mencapai 21,18% dari total penduduk bekerja juga menjadi catatan tersendiri. 

Mas'ud menuturkan sebanyak 519.503 orang bekerja kurang dari 35 jam per minggu atau termasuk kategori pekerja tidak penuh.

"Pekerja tidak penuh dikelompokkan dalam dua kategori yaitu setengah penganggur dan pekerja paruh waktu. Pekerja setengah penganggur (masih mau bekerja apabila ada tawaran pekerjaan lain) sebesar 4,86% dan pekerja paruh waktu (tidak berusaha mencari pekerjaan lain) sebesar 21,18%," pungkasnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Topan Jangmi Ancam Jepang dengan Hujan Ekstrem dan Angin Kencang hingga Rabu
• 18 jam lalupantau.com
thumb
2.500 Korban Penipuan Hanania Travel Tuntut Pengembalian Uang Rp 100 Miliar
• 7 jam lalukompas.com
thumb
Masih Berisiko, Polisi Selidiki Penyebab Ledakan Diduga Bom Perang di Biak
• 11 jam lalukompas.id
thumb
Belajar Prancis atau Bahasa Portugis untuk Siswa, DPR Masih Bingung
• 1 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Muller Heran Gordon Lebih Pilih Barca Ketimbang Bayern
• 12 jam lalumedcom.id
Berhasil disimpan.