HARIAN.FAJAR.CO.ID, JAKARTA– Lagu viral “MBG Mas Bahlil Ganteng” yang tengah ramai digunakan warganet di berbagai platform media sosial bukan sekadar hiburan internet biasa. Fenomena ini justru mengungkap dinamika politik digital kontemporer di Indonesia yang dipengaruhi oleh algoritma dan logika atensi publik.
Radius Setiyawan, Pakar Kajian Budaya dan Media dari Universitas Muhammadiyah Surabaya, menjelaskan bahwa kemunculan lagu “MBG” tidak lahir di ruang kosong. Lagu yang juga dikenal sebagai “My Little Bolu Ketan” ini bertemu dengan memori kolektif netizen terhadap sosok Bahlil Lahadalia, Ketua Umum Partai Golkar, yang telah lama menjadi perhatian di ruang digital karena gaya komunikasi, pendekatan kepada masyarakat, dan sejumlah kontroversi.
“Pada awal kemunculannya, lagu MBG berkembang sebagai bentuk satire politik yang lazim ditemukan di media sosial,” katanya dikutip dari JPNN, Senin (1/6/2026). Melalui humor, meme, dan parodi, masyarakat digital mengekspresikan kritik terhadap figur kekuasaan sekaligus membongkar kesan sakral yang melekat pada elite politik.
Namun, menurut Radius, dalam perkembangan ekosistem digital saat ini, fungsi satire dapat bergeser menjadi sarana glorifikasi citra personal karena dorongan algoritma media sosial.
“Apa yang semula lahir sebagai ejekan atau ironi dapat berubah menjadi alat reproduksi popularitas karena terus diputar, dibagikan, dan diulang di berbagai platform. Di titik inilah algoritma digital memainkan peran penting,” jelasnya.
Algoritma Media SosialRadius menegaskan bahwa algoritma media sosial tidak memahami apakah sebuah konten berisi kritik, satire, atau ironi. Algoritma hanya bekerja berdasarkan logika atensi, yakni mendorong konten yang mampu mempertahankan perhatian pengguna melalui tayangan berulang, komentar, dan interaksi yang tinggi.
Akibatnya, kritik politik berpotensi kehilangan fungsi reflektifnya dan berubah menjadi komoditas hiburan. “Dalam ekosistem digital, bahkan parodi dapat menjadi kapital visibilitas,” bebernya.
Fenomena viral seperti MBG menghadirkan dua sisi sekaligus dalam praktik politik digital modern. Di satu sisi, meme dan parodi tetap menjadi ruang subversif yang memungkinkan publik mengkritik kekuasaan dan menertawakan elitisme politik.
“Humor digital dalam konteks ini berfungsi sebagai bahasa kritik publik terhadap penguasa,” kata Radius.
Sementara itu, viralitas yang terus berulang juga dapat dimanfaatkan untuk membangun citra personal di ruang digital. Figur yang terus muncul di linimasa, bahkan dalam bentuk satire sekalipun, tetap memperoleh keuntungan berupa eksposur dan kedekatan emosional dengan publik.
“Figur yang terus muncul di linimasa, bahkan dalam bentuk satire, tetap memperoleh keuntungan berupa eksposur dan kedekatan emosional dengan publik,” pungkas Radius.
Karena itu, fenomena “MBG Mas Bahlil Ganteng” tidak cukup dipahami hanya sebagai lagu viral atau hiburan internet semata. Fenomena tersebut menunjukkan bagaimana politik digital saat ini bergerak dalam logika algoritma, atensi publik, dan percepatan viralitas media sosial.
“Ini adalah ruang ketika batas antara kritik, hiburan, dan pencitraan menjadi semakin tipis,” tutup Radius. (*/)





