KOMPAS.TV - Iran meluncurkan serangan balasan ke pangkalan udara Amerika Serikat di wilayah Timur Tengah pada Senin (1/6/2026) waktu setempat.
Korps Garda Militer Iran (IRGC) menyatakan serangan ini menargetkan pangkalan AS yang sebelumnya menyerang menara telekomunikasi Iran di Pulau Sirik, Iran selatan.
Serangan AS di Provinsi Hormozgan, Iran selatan, itu terjadi pada 28 Mei lalu, di tengah upaya negosiasi antara Washington D.C. dan Teheran.
Dalam rudal yang diluncurkan tersebut, Iran menempelkan stiker yang menampilkan wajah Presiden AS Donald Trump dan tulisan berbunyi, "Sampai prajurit terakhir Amerika meninggalkan kawasan".
Melalui akun media sosialnya di X, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, Esmaeil Baghei, menulis serangan Iran terhadap pangkalan dan aset yang digunakan untuk melancarkan serangan ilegal terhadap Iran adalah tindakan membela diri yang sah.
Baghei menambahkan negara-negara memiliki kewajiban hukum yang telah ditetapkan untuk tidak mengizinkan wilayah atau aset mereka digunakan untuk menyerang negara lain.
Menyusul serangan Iran, sirene berbunyi di seluruh penjuru Kota Kuwait pada Senin pagi.
Kuwait mengumumkan pertahanan udaranya telah melepaskan tembakan untuk mencegat rentetan drone dan rudal Iran yang datang ke wilayah Kuwait.
Sebelumnya, pada 28 Mei, Iran juga telah meluncurkan rudal dan drone ke wilayah Kuwait yang diklaim Iran sebagai serangan balasan terhadap serangan yang menyasar lokasi dekat Bandar Abbas, Iran.
Apa makna serangan ini dan bagaimana hal ini memengaruhi negosiasi antara AS dan Iran?
Kita bahas bersama Pengamat Hubungan Internasional Universitas Parahyangan, Kishino Bawono, dan Peneliti Asia Middle East Center, Pizaro Gozali.
Baca Juga: Serangan Israel Terus Meluas di Lebanon Selatan, Warga Berbondong-bondong Mengungsi
#iran #as #kuwait #rudal
Penulis : Shinta-Milenia
Sumber : Kompas TV
- iran
- rudal iran
- kuwait
- perang
- as
- timur tengah





