Bisnis.com, BALIKPAPAN — Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Timur mencatat ekonomi daerah ini tumbuh 2,99% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada kuartal I/2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kepala BPS Provinsi Kalimantan Timur, Mas'ud Rifai menyatakan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp229,08 triliun, sementara PDRB atas dasar harga konstan 2010 tercatat sebesar Rp149,02 triliun.
Sektor pertambangan dan penggalian yang selama ini diandalkan justru mencatat kontraksi sebesar 1,19% secara yoy dengan andil negatif terhadap pertumbuhan sebesar 0,53%, meski masih mendominasi struktur ekonomi Kaltim dengan porsi 33,45% dari total PDRB.
Sementara itu, lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makan minum tampil sebagai bintang baru dengan laju pertumbuhan tertinggi mencapai 15,94%.
"Disusul jasa lainnya yang tumbuh 15,78%, serta perdagangan besar dan eceran termasuk reparasi mobil dan sepeda motor yang melonjak 14,97%," ujarnya dalam keterangan resmi, (1/6/2026).
Dia mengungkapkan bahwa pertumbuhan yang terjadi pada kuartal I/2026 memang ditopang oleh kinerja positif di sebagian besar lapangan usaha.
Baca Juga
- Indeks Properti Balikpapan Membaik, Kilang dan IKN Jadi Kunci
- Genjot Transformasi Ekonomi, Bontang Lirik Pariwisata Premium
- Bontang Buka Pintu Investasi Asam Lemak Senilai Triliunan Rupiah
Kendati demikian, 3 lapangan usaha menjadi penyumbang andil positif terbesar dalam pertumbuhan yoy, yakni perdagangan besar dan eceran sebesar 0,98%, industri pengolahan sebesar 0,60%, dan transportasi serta pergudangan sebesar 0,34%.
Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan positif terjadi pada hampir seluruh komponen, kecuali ekspor serta impor barang dan jasa yang keduanya mengalami kontraksi.
Komponen pengeluaran konsumsi lembaga non-profit yang melayani rumah tangga (PK-LNPRT) mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 8,53%, yang didorong oleh meningkatnya aktivitas lembaga dan organisasi kemasyarakatan dalam rangka Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN).
Tak kalah penting, konsumsi pemerintah tumbuh 7,51%, konsumsi rumah tangga naik 5,96%, dan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) terkerek 3,44%. Justru ekspor barang dan jasa yang menjadi catatan merah, dengan kontraksi 3,81% dibandingkan kuartal I/2025.
Mas'ud menyebutkan struktur PDRB Kaltim kuartal I/2026 masih didominasi net ekspor dengan kontribusi 41,97%, diikuti PMTB sebesar 35,52%, dan konsumsi rumah tangga sebesar 18,28%.
Jika ditelisik lebih dekat, ekonomi Kaltim justru terkontraksi 3,69% bila dibandingkan dengan kuartal IV/2025 secara quarter-to-quarter (qtq).
Penurunan paling dalam terjadi pada komponen pengeluaran konsumsi pemerintah yang anjlok hingga 46,35%.
Dari sisi lapangan usaha, pertambangan dan penggalian kembali mencatatkan kontraksi terdalam secara qtq, yakni 6,72%.
Industri pengolahan pun turut melemah 5,51%, sementara administrasi pemerintahan terkoreksi 6,36%. Sebaliknya, perdagangan besar dan eceran menjadi penyelamat dengan pertumbuhan 7,59% secara qtq.
Dominan di Kalimantan, Tapi Tertinggal Sesama TetanggaDi tataran regional, Benua Etam tetap menjadi lokomotif ekonomi Pulau Kalimantan dengan kontribusi terbesar, yakni 46,48% dari total PDRB regional.
Namun secara pertumbuhan yoy, Kaltim justru menempati posisi paling buncit di antara 5 provinsi di Pulau Kalimantan.
Kalimantan Barat memimpin dengan pertumbuhan 6,14%, disusul Kalimantan Selatan 5,67%, Kalimantan Utara 5,23%, dan Kalimantan Tengah 3,79%.
Sementara Kaltim, dengan segala dominasinya, hanya tumbuh 2,99% atau separuh lebih rendah dari Kalbar.





