Ekonom Prediksi Rupiah Mulai Menguat Pekan Ini, Ini Faktor Pendorongnya

kumparan.com
5 jam lalu
Cover Berita

Pergerakan nilai tukar rupiah diproyeksi berpeluang menguat pada pekan ini. Kurs rupiah saat ini berada di Rp 17.802 per dolar AS pada Senin (1/6) pukul 14.46 WIB berdasarkan data Bloomberg.

IRRD Economist Bank Tabungan Negara (BTB), Myrdal Gunarto, memproyeksi nilai tukar rupiah pada pekan ini berpeluang menguat ke kisaran Rp 17.686 hingga Rp 17.724 per dolar AS.

Ia menilai, penguatan tersebut didukung oleh berakhirnya faktor musiman permintaan dolar AS pada akhir bulan.

“Kalau saya lihat sih, untuk pekan ini harusnya kita menguat ya. Bisa balik lagi ke sekitar (Rp) 17.724 sampai maksimal-maksimalnya itu 17.686 (per dolar AS). Antara itu,” ucap Myrdal saat dihubungi oleh kumparan, Senin (1/6).

Selain itu, ia menyatakan meski permintaan dolar untuk kebutuhan pembayaran dividen masih cukup tinggi, tekanannya diperkirakan tidak sebesar yang terjadi pada Mei lalu.

Di samping itu, volatilitas indeks global, posisi indeks dolar AS, serta tekanan dari harga minyak dunia juga dinilai mulai mereda.

“Terutama ya setelah kita lihat adanya kemungkinan perjanjian damai antara Iran, Amerika Serikat, maupun juga adanya realita kalau harga minyak sekarang sudah terus mengalami penurunan harga,” jelas Myrdal.

Kondisi tersebut dinilai dapat mendorong aliran modal asing kembali masuk ke negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, sehingga mendukung penguatan rupiah.

Myrdal melanjutkan, sentimen pasar saat ini juga cenderung memasuki fase risk on, yang tercermin dari menurunnya volatilitas indeks global, melemahnya indeks dolar AS, dan harga minyak yang lebih rendah dibandingkan dua pekan sebelumnya.

“Dan di sisi yang lain juga spread antara yield Indonesia dengan Amerika juga masih lebar, yang tenor 10 tahun masih di atas 220 basis poin. Jadi itu yang membuat rupiah kita menguat,” lanjut Myrdal.

Pelemahan Masih Mungkin Terjadi

Meski demikian, Myrdal menilai pelemahan rupiah masih dapat terjadi apabila terdapat sejumlah faktor penghambat. Salah satunya adalah proses konversi valuta asing hasil ekspor yang belum berjalan lancar. Selain itu, permintaan dolar untuk kebutuhan repatriasi dividen kepada investor asing juga masih berpotensi memberikan tekanan terhadap rupiah.

“Sama sisanya paling dari potensi adanya money outflow. Itu pun kalau kondisi pasar keuangan domestik buruk ya, karena yang (hasil) MSCI ini kemungkinan sih masih ada sisa-sisanya (efeknya),” tutur Myrdal.

Menambahkan Myrdal, Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian, menilai arah rupiah pekan depan akan sangat ditentukan oleh apakah pasar mulai melihat perbaikan struktur suku bunga dan kurva imbal hasil Indonesia pasca kenaikan BI-Rate sebesar 50 bps.

Menurutnya, keputusan Bank Indonesia (BI) untuk menaikkan suku bunga merupakan langkah yang tepat guna meredam tekanan terhadap rupiah. Meski demikian, ia menilai upaya tersebut perlu didukung oleh penyesuaian di pasar obligasi agar efektivitasnya dalam memperkuat nilai tukar dapat lebih optimal.

“Saya melihat rupiah memiliki peluang menguat, tetapi ada syarat penting yang harus dipenuhi. Pasar harus melihat bahwa kenaikan BI-Rate sebesar 50 bps benar-benar tercermin dalam struktur imbal hasil Indonesia,” ujar Fakhrul kepada kumparan.

Katanya, kurva imbal hasil saat ini masih relatif datar dan belum sepenuhnya mencerminkan arah kebijakan pengetatan moneter yang ditempuh BI. Menurutnya, dalam kondisi normal, kenaikan suku bunga seharusnya diikuti peningkatan imbal hasil obligasi, terutama pada tenor jangka panjang, sebagai cerminan risiko yang lebih tinggi, ekspektasi inflasi, serta premi waktu (term premium) yang meningkat.

“Ketika tenor satu tahun dan sepuluh tahun sama-sama berada di sekitar 6,7 persen, pasar menerima sinyal yang membingungkan. Di satu sisi Bank Indonesia mengatakan stabilitas nilai tukar menjadi prioritas dan menaikkan suku bunga 50 bps. Namun di sisi lain pasar obligasi belum menunjukkan penyesuaian yang sejalan dengan pesan tersebut,” jelasnya.

Menurut Fakhrul, selama kondisi ini berlangsung, investor global akan cenderung mempertanyakan apakah kebijakan pengetatan moneter benar-benar akan dipertahankan dalam jangka waktu yang cukup panjang. Akibatnya, dampak positif kenaikan suku bunga terhadap rupiah menjadi tidak maksimal.

Ia menilai salah satu faktor yang membuat rupiah belum mampu menguat lebih cepat adalah karena pasar belum memperoleh insentif yang cukup untuk menempatkan dananya pada aset berdenominasi rupiah dalam jangka panjang.

“Bank Indonesia sudah melakukan bagiannya. Sekarang pasar perlu melihat penyesuaian di sisi kurva imbal hasil. Kalau long end mulai bergerak naik dan kurva kembali mencerminkan kondisi fundamental yang sehat, saya melihat peluang penguatan rupiah menuju Rp 17.300 bahkan Rp 16.800 per dolar AS menjadi jauh lebih besar,” imbuh Fakhrul.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Usai Melayat Ryamizard Ryacudu, Prabowo Menuju Kemlu untuk Upacara Hari Pancasila
• 23 jam lalukompas.com
thumb
Sempat Diancam, YouTuber Gean Kelana Pilih Damai dengan Pria yang Mengintimidasinya di Bekasi
• 14 jam lalukompas.com
thumb
Puncak Libur Panjang Iduladha 2026, KAI Catat 41.534 Penumpang Kembali ke Jakarta
• 18 jam laluidxchannel.com
thumb
Hadiri Sannipata Waisak 2026, Gubernur Andi Sudirman Apresiasi Kontribusi Permabudhi dalam Pembangunan Daerah
• 18 jam laluterkini.id
thumb
Sarwendah Sanggup Urus Anak, Pengacara: Mereka Sehat-sehat dan Masih Bisa Les
• 34 menit lalukumparan.com
Berhasil disimpan.