Bisnis.com, JAKARTA — Ekonom memperkirakan indikator Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia akan kembali berada pada zona kontraksi per Mei 2026 seiring tekanan biaya produksi dan melemahnya permintaan pasar.
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Mohammad Faisal menyampaikan, tren perlambatan manufaktur Tanah Air sudah terlihat dalam beberapa bulan terakhir. Setelah mencatatkan level tertinggi pada Februari, PMI manufaktur secara bertahap mengalami penurunan.
“Setelah memasuki fase perang di Timur Tengah, [PMI manufaktur] itu kemudian pelan-pelan mengalami penurunan,” kata Faisal saat dihubungi Bisnis, Senin (1/6/2026).
Menurutnya, pada Maret 2026, sektor manufaktur masih berada dalam fase ekspansi meskipun indikator menunjukkan penguatan yang semakin tipis.
Kondisi tersebut kemudian berbalik menjadi kontraksi pada April dan diperkirakan berlanjut pada Mei. Faisal menilai pelemahan kinerja manufaktur tak hanya berasal dari tekanan global, melainkan juga domestik.
Dari sisi produksi, industri dalam negeri dinilai menghadapi kenaikan biaya logistik, peningkatan harga bahan baku, inflasi pada komponen input, serta pelemahan nilai tukar rupiah.
Baca Juga
- PMI Manufaktur RI Kembali ke Zona Kontraksi, Begini Sikap Pemerintah
- PMI Manufaktur RI Anjlok ke Level 49,1 April 2026, Ini Biang Keroknya
- Ironi PMI BI Kuartal I/2026, Industri Melaju Tapi Tenaga Kerja Lesu
Pada saat yang sama, dia menjelaskan bahwa tekanan juga muncul dari sisi permintaan. Daya beli pasar yang melemah membuat pesanan industri mengalami penurunan baik dari pasar ekspor maupun domestik.
“Tekanan bukan hanya dari biaya produksi tapi sekarang juga dari market. Dan tekanan terjadi, order itu mengalami penurunan bukan hanya dari luar negeri, tapi juga dari dalam negeri,” tuturnya.
Dengan kombinasi tekanan biaya dan permintaan yang terus berlangsung, Faisal pun memperkirakan PMI manufaktur masih berada dalam fase kontraksi dalam waktu dekat.
Sebelumnya, data S&P Global menunjukkan PMI Manufaktur Indonesia kembali masuk zona kontraksi pada April 2026. PMI manufaktur Indonesia tercatat turun dari 50,1 pada Maret menjadi 49,1 pada April 2026.
Sebagai konteks, posisi di bawah ambang batas 50,0 menandakan penurunan kondisi operasional sektor manufaktur, sekaligus menjadi kontraksi pertama dalam 9 bulan terakhir.
“Sektor manufaktur Indonesia mulai merasakan tekanan inflasi yang semakin intensif di tengah perang Timur Tengah,” ujar Ekonom S&P Global Market Intelligence Usamah Bhatti dalam keterangannya, Senin (4/5/2026).
Penurunan ini terutama dipicu oleh melemahnya aktivitas produksi. Volume output tercatat mengalami kontraksi selama dua bulan berturut-turut, dengan laju penurunan yang semakin cepat dan menjadi yang terdalam dalam hampir 1 tahun terakhir.
Bhatti menyebut, pelaku usaha mengaitkan kondisi ini dengan lonjakan harga bahan baku, gangguan pasokan, serta melemahnya daya beli konsumen.





