Berangkat pagi masih gelap, pulangnya matahari sudah turun. Pernah gak sih kamu kayak gitu? Atau malah sudah jadi rutinitas tiap hari?
Bagi sebagian orang, pulang-pergi untuk sekolah, kuliah, atau kerja sudah jadi bagian dari kehidupan sehari-hari mereka. Bangun pagi, desak-desakan di transportasi umum, atau macet-macetan di jalan, terus setelah beraktivitas seharian pulangnya harus ngalamin hal yang sama lagi. Ini tuh sudah jadi kayak makanan sehari-hari buat kaum PP (pulang-Pergi). Kadang baru sampai tempat tujuan aja badan sudah berasa capek, energi sudah habis, padahal belum ngerjain apa-apa.
Rutinitas pulang-pergi ini, seringkali dianggap sebagai hal yang biasa. Padahal secara tidak sadar, perjalanan pulang-pergi yang melelahkan setiap hari bisa jadi salah satu faktor yang memengaruhi kondisi psikologis seseorang. Coba deh diingat ingat, pernah gak kamu merasa tubuhmu lelah terus menerus, padahal kamu seharian gak ngelakuin apa-apa? Kalo kamu pernah merasakan, atau malah lagi merasakannya, bisa jadi kamu bukan hanya kelelahan fisik biasa, tapi bisa saja kamu lagi mengalami kondisi fatigue atau dalam psikologi dikenal sebagai kelelahan psikologis.
Apa Itu Fatigue?Dalam psikologi, fatigue atau kelelahan psikologis adalah kondisi ketika seseorang merasa energi dan mentalnya terkuras akibat tekanan atau aktivitas yang dilakukan terus-menerus. Jadi, sebetulnya ketika kita merasa lelah, yang merasakan lelah bukan hanya badan, tetapi pikiran juga.
Seringkali gak disadari, fatigue bisa muncul karena rutinitas yang terus diulang setiap hari tanpa jeda yang cukup, contohnya seperti rutinitas pulang-pergi. Dari perjalanan yang lama, macet, padatnya transportasi, sampai waktu istirahat yang kurang, lama kelamaan hal ini bisa bikin energi kita habis pelan-pelan.
Dengan kondisi seperti ini seseorang bisa jadi kurang optimal saat menjalani aktivitasnya, bahkan bisa sampai memengaruhi emosinya. Hal ini juga dijelaskan oleh penelitian dari De Reuver dan Biron (2024) yang menyebutkan bahwa perjalanan pagi yang melelahkan bisa menyebabkan emotional exhaustion atau kelelahan emosional bahkan sebelum seseorang memulai aktivitasnya.
Kenapa Rutinitas PP Bisa Memicu Kelelahan Secara Mental?Setiap hari melakukan rutinitas pulang-pergi ternyata bukan hanya membuat kita kelelahan secara fisik, tapi juga bisa menjadi penyebab kelelahan secara mental. Perjalanan yang lama dengan berbagai kondisi tidak terduga ketika di perjalanan seperti macet, transportasi umum penuh, adanya gangguan teknis pada transportasi yang ditumpangi, jalanan yang biasanya dilalui banjir sehingga tidak bisa dilewati, sampai merasa takut datang terlambat, membuat seseorang harus mengeluarkan tenaga dan energinya secara ekstra, padahal baru di perjalan saja belum melakukan aktivitas utamanya.
Dari hal-hal kecil yang disebutkan tadi, jika terjadi secara terus menerus bisa menjadi tekanan yang menumpuk pada orang yang memiliki rutinitas pulang-pergi. Pada penelitian Liu et al. (2022) juga dijelaskan bahwa perjalanan harian seseorang memiliki keterkaitan dengan meningkatnya stress dan menurunnya kesehatan mental seseorang.
Secara tidak sadar, selama diperjalanan pikiran kita sebenarnya dipaksa terus menerus untuk bekerja. Perasaan takut datang terlambat, situasi jalan yang tidak menentu, sampai kondisi pada transportasi yang kurang nyaman bisa membuat energi seseorang terkuras habis pelan-pelan. Jadinya, aktivitas belum dimulai, tapi fisik dan mental orang dengan rutinitas pulang-pergi sudah lelah lebih dulu ketika sampai tujuan.
Ciri-Ciri Mengalami FatigueBanyak sekali orang yang tidak sadar, jika rasa capek atau lelah yang dirasakannya setiap hari ternyata bukan hanya kelelahan biasa. Seringkali orang mengira dirinya hanya sekedar kurang istirahat atau terlalu banyak aktivitas, padahal bisa jadi mentalnya sedang mengalami fatigue atau kelelahan psikologis. Berikut ciri-cirinya:
Tubuh terasa mudah lelah padahal sudah istirahat
Sulit fokus atau berkonsentrasi
Emosi lebih sensitif
Kehilangan semangat dan motivasi
Merasa ingin terus beristirahat
Merasa lelah terus menerus
Mudah jenuh dengan rutinitas yang dijalani setiap hari.
Kalo kamu ngerasain ciri-ciri tersebut, itu bisa jadi diri kamu kasih sinyal kalo kamu sedang kelelahan secara mental.
Ketika Kelelahan Sudah Menjadi Hal BiasaBanyak orang yang menganggap bahwa kelelahan ini merupakan kondisi yang biasa. Tidak jarang kalimat seperti “namanya juga hidup” atau “semua orang pasti juga capek” bisa membuat banyak orang akhirnya menormalisasi rasa lelah mereka sendiri.
Tanpa disadari, jika kondisi tersebut terus dibiarkan, kelelahan mental bisa berdampak pada kesehatan psikologis seseorang dalam jangka panjang. Akibat terlalu sibuk menjalani rutinitas, banyak orang yang akhirnya lupa jika dirinya juga butuh istirahat. Bukan hanya sekedar istirahat secara fisik, tetapi juga istirahat secara mental.
Pada penelitian Rüger et al. (2017) juga mengingatkan bahwa penumpukan stres dalam jangka panjang dapat berdampak serius pada kualitas hidup seseorang, karena ketika tekanan terus dibiarkan tanpa jeda, kemampuan otak untuk berpikir jernih bisa menurun sehingga berpengaruh pada fokus, nilai akademik, maupun performa kerja seseorang. Jika kondisi ini dibiarkan saja, seseorang berisiko mengalami kelelahan mental yang lebih berat seperti burnout, bahkan dalam beberapa kasus bisa berkembang menjadi gangguan kecemasan yang perlu penanganan profesional seperti psikolog.
Tips Survive Untuk Anak PPSebagai orang yang pulang-pergi sudah menjadi rutinitas setiap hari, terbiasa macet, waktu perjalanan yang lama, transportasi yang padat, dan kondisi tidak terduga lainnya. Tanpa disadari bisa jadi penyebab stress untuk orang dengan rutinitas pulang-pergi. Mau ngekos banyak pertimbangan, pindah rumah apalagi, karena itu penting banget buat kaum PP punya tips kecil buat survive di tengah rutinitas pulang-pergi. Berikut, simak tipsnya:
1. Alihkan fokus pikiran
Macet, suara klakson, suara berisik kendaraan, dan padatnya transportasi bisa menjadi salah satu pemicu stress, khususnya untuk orang dengan rutinitas pulang-pergi yang mengalaminya setiap hari. Hal ini bisa diakali dengan cara mengalihkan fokus kamu ke hal-hal yang bisa kamu kontrol, seperti mendengarkan musik, podcast, atau audiobook senyumanmu.
2. Latihan napas (Deep breathing)
Ketika perjalanan terhambat, waktu perjalanan akan terasa semakin lama, secara tidak sadar, tubuh dan otak kita menjadi panik dan tegang. Hal yang bisa coba dilakukan yaitu teknik napas sederhana, tarik napas selama 4 detik, tahan 4 detik, lalu buang perlahan 4 detik, sehingga tubuh bisa lebih rileks meskipun situasi di luar sama saja.
3. Ubah mindset & jadikan waktu perjalanan sebagai “me time”
Daripada merasa waktu di jalan buang-buang waktu, maka coba untuk anggap perjalanan pulang-pergi sebagai jeda sebelum memulai aktivitas berikutnya. Selain itu, bisa juga sambil mencoba melakukan mind dumping yaitu menulis atau mengetik semua isi pikiran dan emosi di HP supaya tubuh bisa rileks.
PenutupPulang, pergi, dan merasa lelah atau capek adalah hal yang normal dan valid untuk dirasakan oleh semua orang, apalagi orang dengan rutinitas PP. Tetapi, perlu diingat jika diri kita sudah menunjukkan tanda-tanda kelelahan, wajib untuk kita mulai lebih sadar dan peduli pada diri sendiri.
Mulai lebih peduli dengan coba ambil waktu istirahat yang cukup, dan jangan mengabaikan sinyal-sinyal kecil yang ada pada diri kita. Jika merasa sudah kewalahan segera langsung minta bantuan kepada profesional seperti psikolog, supaya bisa dapat penanganan yang tepat!
Oleh Hanifah Syadza E & Dr. Rachmat Mulyono, M.Si., Psikolog





